Inversi Komitmen Pemerintah Pusat dalam mengawal proses pemulihan pasca-bencana di wilayah Sumatra terus diintensifkan. Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, melakukan kunjungan kerja maraton ke Kabupaten Aceh Tamiang pada Minggu (01/02/2026).
Kehadiran beliau bertujuan untuk meninjau langsung progres rehabilitasi infrastruktur pendidikan serta menyalurkan bantuan logistik bagi warga yang terdampak banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada penghujung tahun lalu.
Dalam kunjungan kelimanya ke Bumi Muda Sedia ini, Wamenhaj tidak bergerak sendiri. Beliau menggandeng organisasi kemanusiaan Matahari Pagi Indonesia untuk memastikan bantuan yang disalurkan tepat sasaran dan menyentuh kebutuhan fundamental masyarakat.
Fokus utama kunjungan kali ini adalah menjamin keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar bagi para siswa yang fasilitas sekolahnya mengalami kerusakan signifikan akibat terjangan material banjir.
Nostalgia di Sekolah Dasar Negeri 1 Kuala Simpang
Kunjungan ini terasa istimewa dan sarat akan nilai emosional bagi Dahnil Anzar Simanjuntak. Salah satu titik peninjauan utama adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kuala Simpang. Bagi Dahnil, sekolah ini bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan tempat beliau menimba ilmu dan menghabiskan masa kecilnya.
Bernostalgia di tengah puing pemulihan, Wamenhaj menyaksikan langsung sinergi antara personel TNI dan warga setempat yang tengah bahu-membahu membersihkan lumpur serta membenahi ruang kelas.
“Hari ini saya berada di SDN 1 Kuala Simpang. Kebetulan saya memiliki ikatan sejarah yang kuat karena pernah bersekolah di sini saat jenjang sekolah dasar. Kehadiran kami adalah untuk membagikan paket perlengkapan sekolah bagi murid-murid agar mereka tetap memiliki semangat belajar di tengah kondisi pemulihan,” ujar Dahnil di sela-sela peninjauan fasilitas sekolah, sebagaimana dikutip pada Senin (02/02/2026).
Bantuan yang disalurkan bersifat komprehensif, mencakup ribuan paket alat tulis, tas sekolah, sepatu, hingga seragam baru. Selain itu, guna mendukung kebutuhan domestik warga, turut didistribusikan matras, pakaian layak pakai, ratusan dus makanan siap saji, serta ribuan paket sembako.
Dukungan Alat Pertukangan Manual
Dalam pengamatannya di lapangan, Dahnil menyoroti kendala teknis terkait sulitnya akses alat berat untuk menjangkau titik-titik tertentu yang terisolasi atau berada di medan sempit. Merespons kendala tersebut, tim Matahari Pagi Indonesia menyuplai alat-alat pertukangan manual seperti cangkul dan sekop dalam jumlah besar.
Langkah ini diambil untuk mendukung kerja personel TNI dan relawan yang bekerja dengan metode gotong royong. Menurut Dahnil, efektivitas pembersihan sekolah sering kali justru terletak pada kekuatan kerja manual yang didukung oleh alat-alat sederhana yang memadai.
Beliau mengapresiasi dedikasi para prajurit TNI yang menjadi garda terdepan dalam proses recovery fisik bangunan sekolah agar dapat segera digunakan kembali secara fungsional.
Komitmen Pemerintah Pusat dan Jangkauan Wilayah Terisolir
Dahnil menegaskan bahwa aksi kemanusiaan ini tidak akan berhenti di satu titik saja. Beliau telah menginstruksikan timnya untuk berkoordinasi secara ketat dengan aparat komando kewilayahan TNI guna mendistribusikan bantuan ke sekolah-sekolah lain yang berada di wilayah terpencil.
Geografi Aceh Tamiang yang memiliki banyak titik terisolir pasca-longsor menjadi tantangan tersendiri bagi kendaraan logistik berukuran besar. “Masyarakat Aceh Tamiang tidak perlu merasa berjalan sendiri. Pemerintah terus bekerja maksimal melalui sinergi TNI-Polri dan seluruh unsur terkait.”
“Sesuai arahan Presiden, kami memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat dikawal hingga tuntas. Target utama kami adalah anak-anak dapat kembali ke bangku sekolah dengan fasilitas yang layak sesegera mungkin,” tegas Wamenhaj dengan nada optimistis.
Menyerap Aspirasi dari Tanah Kelahiran
Sebelum bertolak ke Aceh Tamiang, Dahnil juga menyempatkan diri singgah di Desa Salahaji, Kecamatan Pematang Jaya, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kunjungan ke desa kelahirannya tersebut dimanfaatkan untuk bercengkerama dan menyerap aspirasi warga yang mayoritas masih memiliki hubungan kekerabatan erat dengan keluarga besarnya.
Momen ini digunakan beliau untuk memantau kondisi sosial-ekonomi warga di perbatasan Sumatra Utara dan Aceh yang juga terdampak oleh dinamika cuaca ekstrem.
Rangkaian kunjungan maraton ini ditutup dengan harapan besar bahwa geliat pendidikan dan denyut nadi ekonomi di wilayah terdampak bencana dapat segera bangkit kembali. Kehadiran pejabat negara di tingkat tapak seperti ini diharapkan mampu memberikan dorongan moral bagi masyarakat untuk tetap tangguh dalam menghadapi masa pemulihan.
Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, relawan, dan aparat keamanan, visi pemulihan pendidikan nasional pasca-bencana di Aceh Tamiang diyakini akan tercapai dalam waktu dekat.