INVERSI.ID – Taman Margasatwa Ragunan kini kembali jadi primadona warga Ibu Kota. Sejak diuji coba dibuka pada malam hari lewat program “Ragunan Night”, antusiasme masyarakat meningkat drastis. Fenomena ini sekaligus membuktikan bahwa kebun binatang legendaris Jakarta tidak pernah kehilangan daya tarik, bahkan kini tampil lebih kekinian dan relevan dengan gaya wisata masyarakat urban.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa program Ragunan Night akan terus berjalan setiap Sabtu malam. Keputusan ini diambil setelah melihat lonjakan besar jumlah pengunjung sejak area tersebut dibuka pada malam hari.
“Sekarang ini akibat Sabtu malam dibuka, Sabtu-Minggu itu rata-rata orang berkunjung di Ragunan antara 35.000 sampai dengan 40.000. Jadi, kunjungannya sudah naik secara signifikan,” jelas Pramono saat dijumpai di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis.
Angka tersebut bukan hanya menunjukkan keberhasilan sebuah program wisata, tetapi juga menandai adanya perubahan perilaku masyarakat. Warga Jakarta kini semakin mencari pengalaman baru, terutama yang berbeda dari rutinitas mereka. Wisata malam di kebun binatang tentu bukan hal umum di Indonesia, sehingga inovasi ini langsung diserbu publik.
Selain pengunjung yang membludak, konsep baru Ragunan juga tengah digarap serius. Pramono menjelaskan bahwa pihak pengelola kini menerapkan pendekatan desain yang lebih modern dan kekinian. Tujuannya bukan hanya meningkatkan minat kunjungan, tapi juga menjadikan Ragunan lebih relevan bagi generasi muda yang menginginkan pengalaman visual estetis dan interaktif.
Transformasi Ragunan menjadi destinasi lebih modern bukan hanya soal layout atau dekorasi, tetapi juga penyempurnaan fasilitas, pengalaman wisata, hingga pengelolaan satwa. Semua ini dirancang agar Ragunan tidak hanya menjadi tempat wisata keluarga, tetapi juga spot favorit kalangan muda dan komunitas urban.
Namun dari semua pembenahan, satu hal yang menjadi perhatian Pramono adalah soal pakan hewan. Ia menekankan pentingnya memastikan semua satwa mendapatkan pakan secara cukup dan tepat. Hal ini merespons isu yang sempat diviralkan beberapa waktu lalu bahwa ada hewan Ragunan yang dianggap tidak diberi makan dengan layak.
“Saya meminta kepada kepala dinas untuk yang begini dicek terus-menerus, jangan sampai yang menjadi tuduhan yang diviralkan itu benar,” kata Pramono.
Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah kota untuk menjaga kesejahteraan satwa di Ragunan. Dalam konteks kebun binatang modern, kesejahteraan hewan merupakan bagian utama dari manajemen. Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, kualitas hidup satwa harus tetap jadi prioritas.
Program Ragunan Night sendiri awalnya diperkenalkan lewat uji coba bertema “Night at The Ragunan Zoo”. Pembukaan dilakukan pada pukul 18.00 hingga 22.00 WIB, memberikan kesempatan unik bagi warga Jakarta untuk menikmati atmosfer kebun binatang saat malam hari. Pengalaman ini jarang ditemukan di Indonesia dan langsung mencuri perhatian publik.
Kepala Humas Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang, menjelaskan bahwa program ini adalah bentuk inovasi wisata ibu kota.
Kegiatan ini, menurut dia, menawarkan suasana berbeda bagi pengunjung yang ingin melihat aktivitas satwa nokturnal, yang biasanya tidak terlalu aktif di siang hari. Selain itu, pencahayaan dan ambience malam memberikan nuansa baru bagi pengunjung dari segala usia.
Wahyudi juga mengimbau agar pengunjung datang lebih awal karena loket hanya dibuka hingga pukul 21.00 WIB. Hal ini dilakukan untuk memastikan pengunjung memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplor Ragunan sebelum penutupan.
Dalam penyelenggaraan Ragunan Night, dua pintu masuk dibuka untuk publik, yaitu Pintu Utama dan Pintu Utara. Tiket masuk dipatok dengan harga yang sangat terjangkau: Rp4.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak. Pembayaran menggunakan JakCard menjadi syarat utama untuk mempermudah proses transaksi dan meminimalkan antrean.
Bukan hanya jam operasional yang unik, Ragunan Night juga menawarkan dua metode kunjungan. Metode pertama adalah berkeliling menggunakan Buggy Car dengan tarif Rp250.000 per trip untuk maksimal lima orang. Pengalaman ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat dan memberi pakan satwa nokturnal seperti harimau sumatera, kudanil kerdil, binturong, linsang, hingga landak jawa.
Experiencenya tentu berbeda dari kunjungan siang hari, karena satwa nokturnal justru aktif dan bergerak lebih lincah saat malam. Banyak pengunjung yang sengaja datang untuk melihat perilaku alami hewan-hewan tersebut.
Metode kedua adalah berjalan santai mengikuti jalur khusus sepanjang 1,8 kilometer sambil menikmati suasana malam Ragunan. Jalur ini dirancang agar pengunjung dapat menikmati aktivitas satwa sekaligus menikmati suasana tenang dan sejuk dari pepohonan Ragunan pada malam hari. Aktivitas ini banyak diminati kalangan muda yang ingin menikmati healing ringan tanpa harus keluar kota.
Kedua metode ini memberikan pengalaman berbeda sesuai preferensi pengunjung. Ada yang ingin menikmati observasi satwa dari jarak lebih dekat menggunakan buggy car, ada juga yang lebih suka menjelajah sambil berjalan kaki.
Meningkatnya jumlah pengunjung menjadi bukti bahwa Ragunan Night benar-benar punya daya tarik besar. Apalagi, tren wisata malam kini semakin populer, terutama di Ibu Kota yang dikenal dengan aktivitas padat di siang hari. Ragunan Night memberi alternatif bagi masyarakat untuk menikmati hiburan baru tanpa harus pergi jauh atau mengeluarkan biaya besar.
Dengan konsep baru yang sedang digarap dan evaluasi rutin dari pemerintah, program Ragunan Night punya potensi untuk menjadi ikon wisata malam Jakarta yang tidak hanya viral tetapi juga berkelanjutan. Apalagi jika ditambah dengan inovasi lain seperti pertunjukan edukasi satwa malam, zona foto tematik, hingga kuliner malam khas Ragunan.
Ke depan, Ragunan Night bisa membawa babak baru bagi Taman Margasatwa Ragunan sebagai destinasi yang lebih modern, inklusif, dan ramah bagi semua usia. Dengan tetap mengutamakan kesejahteraan satwa serta pengalaman pengunjung, Ragunan tidak hanya bertahan sebagai kebun binatang tertua di Indonesia, tetapi juga menjadi destinasi favorit yang terus relevan.