Kota Hong Kong diguncang tragedi besar setelah kebakaran hebat melalap kompleks apartemen Wang Fuk Court di distrik Tai Po pada 26 hingga 27 November 2025. Insiden ini tercatat sebagai salah satu kebakaran paling mematikan di Hong Kong dalam beberapa dekade terakhir karena menewaskan sedikitnya empat puluh empat orang, melukai puluhan penghuni, dan menyebabkan ratusan lainnya hilang. Kompleks hunian yang padat dan struktur bangunan bertingkat tinggi membuat kebakaran semakin sulit dikendalikan serta memperbesar jumlah korban.
Kebakaran pertama kali terpantau sekitar pukul 14.50 waktu setempat ketika api muncul dari area perancah yang menempel pada sisi luar bangunan. Saat itu bangunan sedang menjalani renovasi sehingga perancah dari bambu beserta jaring pelindung yang biasa digunakan dalam proyek konstruksi mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api. Dalam waktu singkat, api merembet ke lantai lain dan menyebar sampai ke tujuh menara apartemen. Laporan dari The Guardian menyebutkan bahwa insiden ini melibatkan hampir seluruh blok di kompleks yang totalnya memiliki delapan menara dengan jumlah penghuni mencapai ribuan orang.
Wang Fuk Court sendiri merupakan kompleks hunian yang padat dengan ribuan unit yang ditempati keluarga dengan berbagai latar belakang usia. Asap hitam tebal memenuhi area koridor dan tangga sehingga banyak penghuni terjebak tanpa akses keluar. Tim pemadam kebakaran menghadapi situasi yang sangat sulit karena api terus meningkat didorong angin kencang serta material bangunan yang mudah terbakar. Aljazeera melaporkan bahwa proses pemadaman memakan waktu panjang hingga lewat dua puluh empat jam karena sebagian struktur bangunan mulai rapuh dan berpotensi runtuh.
Otoritas Hong Kong melaporkan bahwa empat puluh empat orang meninggal dunia akibat kebakaran ini. Selain itu lebih dari enam puluh orang mengalami luka yang sebagian berada dalam kondisi kritis. Tidak hanya itu, sekitar dua ratus tujuh puluh sembilan penghuni belum dapat ditemukan sehingga angka korban berpotensi bertambah seiring pencarian yang terus dilakukan. Laporan dari Detik Internasional menunjukkan bahwa sekitar sembilan ratus orang berhasil dievakuasi ke lokasi penampungan sementara sambil menunggu proses identifikasi dan penanganan lanjutan dari pemerintah setempat.
Penyelidikan awal menunjukkan adanya dugaan kelalaian dalam proses renovasi bangunan. Polisi mengungkapkan bahwa mereka menemukan penggunaan material yang tidak sesuai standar keamanan kebakaran, termasuk busa dan styrofoam yang digunakan untuk menutup celah jendela di area lobi lift. Material tersebut bersifat sangat mudah terbakar sehingga mempercepat pergerakan api dari luar menuju bagian dalam bangunan. Reuters melaporkan bahwa pihak kepolisian telah menangkap tiga orang yang terdiri atas dua direktur perusahaan konstruksi dan satu konsultan teknik karena dianggap lalai dan menyebabkan kebakaran besar ini.
Kepala Eksekutif Hong Kong, John Lee, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban serta berjanji bahwa pemerintah akan memberikan bantuan penuh kepada para penyintas. Ia juga menekankan pentingnya penyelidikan menyeluruh untuk memastikan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas kelalaian ini akan menghadapi proses hukum sesuai peraturan yang berlaku. Pemerintah Hong Kong juga berkomitmen untuk memperketat pengawasan renovasi dan penggunaan material di gedung bertingkat guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Tragedi ini memicu keprihatinan publik dan perhatian media internasional. Banyak pengamat membandingkannya dengan kebakaran gedung tinggi di berbagai negara yang dipicu oleh material eksterior mudah terbakar. Kasus ini kembali mengingatkan bahwa keselamatan penghuni harus menjadi prioritas utama dalam renovasi bangunan tua, terutama yang memiliki kepadatan tinggi dan risiko teknis besar. Perdebatan mengenai standar keselamatan bangunan pun semakin menguat di Hong Kong seiring banyaknya proyek renovasi pada gedung lama.
Tragedi kebakaran Wang Fuk Court menjadi pelajaran penting bagi berbagai kota besar di dunia tentang betapa pentingnya pengawasan ketat terhadap proyek konstruksi, penggunaan material aman, dan edukasi mengenai prosedur evakuasi. Pemerintah dan kontraktor memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa setiap hunian memiliki perlindungan maksimal agar peristiwa seperti ini tidak kembali terjadi.