Halo Inversi! Ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Jakarta Barat terlihat super antusias mengikuti Pekan Olahraga Tradisional (POTRAD) tingkat Kota Jakarta Barat 2025, yang digelar di GOR Cendrawasih, Cengkareng Barat.
Total 608 pelajar dari jenjang SD dan SMP turun langsung untuk berlaga di ajang yang mengusung semangat “Sehat, Seru, dan Lestarikan Budaya Bangsa” ini. Lomba yang digelar bukan sekadar adu kekuatan atau kecepatan, tapi juga upaya menghidupkan kembali permainan khas nusantara yang mulai jarang terlihat di era gadget.
Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Jakarta Barat, Amien Haji, yang membuka acara secara resmi, menekankan pentingnya kegiatan seperti ini untuk menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup di generasi muda.
“Ini salah satu kegiatan yang harus terus kita pertahankan. Selain melestarikan budaya, olahraga tradisional juga menyehatkan, mempererat kebersamaan, dan menumbuhkan jiwa sportivitas di kalangan pelajar,” ujar Amien dengan penuh semangat.
Amien juga menambahkan bahwa olahraga tradisional bisa jadi solusi nyata untuk mengurangi perilaku negatif siswa, seperti tawuran atau terlalu banyak bermain gawai. “Kalau mereka aktif berolahraga, energi bisa tersalurkan ke hal yang positif. Tahun lalu kita juara dua tingkat provinsi, tahun ini saya yakin bisa rebut juara umum,” katanya memotivasi para peserta.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pemuda dan Olahraga (Sudinpora) Jakarta Barat, Eko Pujihariyanto, menjelaskan bahwa POTRAD menjadi bagian penting dari program pembinaan olahraga sekaligus sarana edukatif bagi pelajar untuk mengenal permainan tradisional.
“Kami ingin menumbuhkan semangat olahraga sekaligus melestarikan permainan yang menjadi bagian dari budaya bangsa. Ajang ini jadi wadah pembinaan dan pengembangan olahraga tradisional di sekolah-sekolah,” jelas Eko.
Tahun ini, ajang POTRAD menghadirkan sembilan kategori lomba yang seru dan menantang. Untuk tingkat SD, misalnya, ada lari balok putri dan tarik tambang putra — dua permainan klasik yang tetap bikin deg-degan saat dimainkan. Sementara di tingkat SMP, peserta unjuk kekompakan lewat terompah panjang beregu putri dan sumpitan beregu campuran, yang menguji koordinasi, strategi, dan fokus.
Selain untuk hiburan dan kebugaran, kegiatan ini juga jadi ajang seleksi atlet pelajar yang akan mewakili Jakarta Barat ke tingkat Provinsi DKI Jakarta. Para pemenang dari tiap kategori akan berlaga kembali dalam lomba serupa di tingkat provinsi.
“Kita berharap peserta bisa tampil maksimal. Targetnya jelas membawa pulang juara umum untuk Jakarta Barat,” tambah Eko optimistis.
Suasana di GOR Cendrawasih pun terasa hidup sejak pagi. Sorakan semangat peserta, tawa riang suporter, dan yel-yel khas tiap sekolah menciptakan atmosfer kompetisi yang meriah tapi penuh kebersamaan.
Meski bersaing, semangat sportivitas tetap dijaga sesuai pesan utama dari kegiatan ini: berprestasi tanpa melupakan nilai budaya dan solidaritas.
Lewat Pekan Olahraga Tradisional ini, pemerintah ingin menunjukkan bahwa olahraga tidak harus modern untuk bisa bermakna. Dari permainan sederhana seperti tarik tambang dan terompah panjang, generasi muda belajar tentang kerja sama, disiplin, dan daya juang nilai-nilai yang nggak kalah penting dari sekadar menang di lapangan.
“Bisa seru-seruan, bisa sehat, bisa jaga budaya juga. Ini baru olahraga yang keren!” ujar salah satu peserta dari SMPN 220 Jakarta sambil tertawa usai lomba.