GRESIK– Narasi besar hilirisasi yang selama ini terdengar “jauh dari rakyat” kini mulai terasa nyata di level rumah tangga. Proyek hilirisasi emas dan tembaga terintegrasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik, Jawa Timur, diproyeksikan menyerap hingga 7.500 tenaga kerja, membuka peluang besar di tengah kekhawatiran gelombang PHK di berbagai sektor.
Groundbreaking proyek strategis ini dilakukan pada Rabu (29/4/2026), menandai dimulainya pengolahan konsentrat tembaga dari PT Freeport Indonesia (PTFI) di dalam negeri—sebuah langkah konkret menuju industrialisasi berbasis nilai tambah.
Tak sekadar proyek industri, hilirisasi ini menjadi mesin pencipta lapangan kerja. Dari sisi pengolahan tembaga hingga produk turunan, potensi penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 7.000 orang. Sementara itu, pengolahan lumpur anoda menjadi emas batangan oleh PT Antam diproyeksikan menyerap tambahan 500 tenaga kerja.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, menegaskan pentingnya proyek ini bagi masyarakat daerah. “Saya senang sampai hari ini ada keberpihakan untuk warga wilayah Gresik, dan juga Jawa Timur, untuk bekerja di sini,” ujarnya usai seremoni groundbreaking.
Menurut Emil, keberadaan KEK JIIPE Gresik merupakan hasil sinergi lintas level pemerintahan—dari daerah hingga pusat—yang berhasil menciptakan ekosistem industri berdaya saing global.
Sementara itu, Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID, Tedy Badrujaman, menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar industrialisasi biasa, melainkan bagian dari transformasi besar ekonomi nasional.
“Ini adalah momentum untuk menegaskan arah besar pembangunan nasional bahwa Indonesia memilih untuk berdiri sebagai bangsa industri yang berdaulat, sejalan dengan Asta Cita dan arahan Presiden Republik Indonesia. Kita berkomitmen memasuki babak baru hilirisasi,” tegasnya.
Proyek ini akan menghasilkan katoda tembaga yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi brass mill dan brass cup alutsista oleh holding industri pertahanan Defend ID melalui PT Pindad, dengan kapasitas mencapai 10.000 ton per tahun.
Di sisi lain, pabrik pemurnian emas milik PT Antam ditargetkan mampu memproduksi hingga 30 ton emas per tahun atau setara 5 juta pack, menjadikan Indonesia tidak lagi sekadar pengekspor bahan mentah.
Lebih dari sekadar angka produksi, proyek ini membawa pesan kuat: hilirisasi bukan hanya soal ekonomi makro, tapi juga soal dapur masyarakat. Ribuan tenaga kerja yang terserap berarti ribuan keluarga mendapatkan penghasilan, stabilitas, dan harapan baru.
Di tengah isu PHK dan ketidakpastian global, proyek Gresik menjadi bukti bahwa kebijakan hilirisasi mampu menjadi solusi nyata—mengubah sumber daya alam menjadi kesejahteraan yang bisa dirasakan langsung oleh rakyat.