JAKARTA – Indonesia bersiap menghadapi ancaman cuaca panas ekstrem yang diprediksi mulai terasa sejak Mei 2026 dan akan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan, kondisi ini bukan sekadar cuaca biasa, melainkan fase awal musim kemarau yang berpotensi memicu berbagai risiko kesehatan hingga gangguan aktivitas harian.
BMKG memprediksi puncak suhu panas mulai terjadi pada Mei 2026 seiring semakin meluasnya wilayah yang masuk musim kemarau. Data menunjukkan sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) telah lebih dulu mengalami kemarau sejak April.
Keluhan masyarakat pun mulai ramai di media sosial. “Mau main keluar rumah males ya panas banget cuaca,” tulis akun @saa. Atau, “Rill apalagi di cuaca yang panas ini makin puanasss,” ungkap akun @hay*.
BMKG menjelaskan, suhu panas ekstrem ini dipicu oleh kombinasi faktor atmosfer. Salah satunya adalah dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat kering. Aliran angin ini menghambat pembentukan awan hujan, sehingga sinar matahari langsung menyinari permukaan bumi tanpa banyak penghalang.
Selain itu, posisi semu matahari yang masih berada dekat wilayah Indonesia bagian utara turut memperkuat intensitas panas yang dirasakan masyarakat, terutama pada siang hari. Meski demikian, BMKG mencatat fenomena atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) masih berpotensi memicu hujan lebat di beberapa wilayah dalam waktu tertentu.
Suhu Tembus 36 Derajat Lebih
Data terbaru BMKG menunjukkan suhu maksimum harian di berbagai daerah sudah mencapai level tinggi. Pada 27 April 2026, sejumlah wilayah mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius dengan wilayah Medan mencatat suhu tertinggi mencapai 36,8 derajat Celsius.
Berikut adalah rincian data suhu maksimum yang dihimpun oleh berbagai stasiun meteorologi BMKG:
Daftar Suhu Maksimum Harian Wilayah Indonesia (27 April 2026)
Lokasi Stasiun Pengamatan Suhu (Celsius)
Balai Besar MKG Wilayah I, Medan, Sumatera Utara 36,8
Stamet III Malikussaleh, Aceh Utara, Aceh 36,6
Balai Besar MKG Wilayah II, Ciputat, Banten 36,2
Stageof Deli Serdang, Deli Serdang, Sumatera Utara 36,0
Stamet Mutiara Sis-Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah 35,9
Stageof Lampung Utara, Lampung Utara, Lampung 35,6
Stamet Maritim Serang, Serang, Banten 35,6
Stamet Budiarto, Curug, Banten 35,5
Staklim Banten, Tangerang, Banten 35,4
Stamet Rendani, Manokwari, Papua Barat 35,4
Stamet Maritim Panjang, Bandar Lampung, Lampung 35,3
Stamet Beringin, Barito Utara, Kalimantan Tengah 35,1
Stamet Pangsuma, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat 35,0
Suryadarma TNI AU, Subang, Jawa Barat 35,0
Halim Perdanakusuma TNI AU, Jakarta Timur, DKI Jakarta 35,0
Pos Meteorologi Penggung, Cirebon, Jawa Barat 35,0
Stamet Kertajati, Majalengka, Jawa Barat 34,8
Staklim Jambi, Muaro Jambi, Jambi 34,8
Taman Alat Digital Staklim Sumsel, Palembang, Sumatera Selatan 34,8
Meski panas sudah terasa saat ini, BMKG menegaskan kondisi terburuk belum terjadi. Puncak musim kemarau diprediksi baru akan berlangsung pada Agustus hingga September 2026, yang berpotensi membawa suhu lebih ekstrem, kekeringan, hingga peningkatan risiko kebakaran lahan.
Situasi ini menjadi alarm dini bagi masyarakat untuk mulai beradaptasi sejak sekarang. BMKG mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak paparan panas, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Langkah antisipasi yang disarankan antara lain menjaga asupan cairan tubuh, menghindari aktivitas luar ruangan saat siang hari, dan menggunakan pelindung seperti topi atau payung
Dengan tren suhu yang terus meningkat, Indonesia kini memasuki fase kritis awal kemarau. Jika tidak diantisipasi, gelombang panas ini bukan hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang serius.