JAKARTA, INVERSI – Keberhasilan implementasi program mandatori biodiesel B40 menjadi pijakan penting pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Program yang mengombinasikan 40 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 60 persen solar ini terbukti efektif menekan impor solar sepanjang 2025.
Capaian tersebut mendorong optimisme pemerintah untuk menghentikan impor solar secara penuh pada 2026 melalui peningkatan bauran menjadi biodiesel B50.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa penurunan impor solar terjadi secara signifikan sejak penerapan B40. Berdasarkan data pemerintah, volume impor solar Indonesia pada 2024 masih berada di angka 8,3 juta ton. Namun, pada 2025 angka tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 5 juta ton.
“Saya bersyukur karena impor solar pada 2024 masih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian pada 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton,” ujar Menteri Bahlil di Jakarta, Minggu, 11 Januari 2026.
Penurunan ini dinilai sebagai bukti konkret efektivitas kebijakan mandatori biodiesel dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Keberhasilan tersebut juga tercermin dari realisasi pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang Januari hingga Desember 2025. Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, konsumsi biodiesel B40 mencapai 14,2 juta kiloliter.
Angka ini melampaui target indikator kinerja utama yang ditetapkan sebesar 13,5 juta kiloliter atau setara dengan capaian 105,2 persen. Pemerintah menilai pencapaian ini sebagai sinyal kuat bahwa ekosistem biodiesel nasional semakin matang.
Penerapan B40 tidak hanya berdampak pada penurunan impor, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi langkah lanjutan menuju B50. Pemerintah menargetkan uji coba biodiesel B50 rampung pada paruh pertama 2026. Apabila hasil evaluasi teknis dan ekonominya menunjukkan hasil positif, implementasi penuh B50 akan dilakukan pada semester II tahun 2026.
Menurut Menteri Bahlil, transisi menuju B50 akan menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk benar-benar lepas dari impor solar.
“Kalau B50 kita gunakan dan RDMP di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi pada 2026,” tegasnya.
Pernyataan ini menunjukkan keyakinan pemerintah bahwa kombinasi kebijakan biodiesel dan penguatan infrastruktur energi akan menghasilkan kemandirian pasokan bahan bakar.
Selain menekan impor, kebijakan B40 sepanjang 2025 juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pemerintah mencatat penghematan devisa negara mencapai Rp130,21 triliun.
Di sisi lain, kebijakan ini turut meningkatkan nilai tambah crude palm oil yang diolah menjadi biodiesel dengan total nilai sekitar Rp20,43 triliun. Capaian tersebut dinilai mampu mendorong industri sawit nasional sekaligus memperkuat ekonomi domestik.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan biodiesel B40 juga berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Sepanjang 2025, penurunan emisi tercatat mencapai 38,88 juta ton CO₂ ekuivalen. Pemerintah menilai kebijakan ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mendukung transisi energi dan upaya mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan.
Optimisme menuju nol impor solar pada 2026 juga ditopang oleh proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan di Kalimantan Timur. Proyek strategis nasional ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar minyak dalam negeri, termasuk solar, sehingga kebutuhan domestik dapat dipenuhi tanpa bergantung pada impor.
Meski demikian, pemerintah masih membuka ruang untuk impor terbatas jenis solar berkualitas tinggi dengan cetane number 51. Impor ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri alat berat, mengingat kapasitas produksi solar dengan spesifikasi tersebut di dalam negeri masih dalam tahap pengembangan.
Secara keseluruhan, keberhasilan B40 dan rencana implementasi B50 menegaskan arah kebijakan energi nasional yang berfokus pada kemandirian, efisiensi ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Pemerintah optimistis, dengan sinergi kebijakan dan pembangunan infrastruktur yang konsisten, target bebas impor solar pada 2026 dapat terealisasi.
Baca Juga : https://inversi.id/esdm-rencanakan-pemangkasan-produksi-batu-bara-menjadi-sekitar-600-juta-ton-pada-2026/