JAKARTA, INVERSI – Wilayah Kamchatka di Rusia tengah menghadapi salah satu badai salju paling ekstrem dalam sejarah modernnya. Kawasan yang selama ini dikenal terbiasa dengan musim dingin bersalju itu kini mengalami kondisi yang jauh melampaui kebiasaan. Salju turun tanpa henti selama beberapa hari dengan ketebalan yang dilaporkan setara tinggi bangunan, hingga warga setempat menyebut peristiwa ini sebagai kiamat salju. Dampaknya, sejumlah kota lumpuh total dan otoritas setempat terpaksa menetapkan status keadaan darurat.
Badai salju tersebut menimbun wilayah permukiman, jalan utama, serta fasilitas publik di berbagai kota di Kamchatka. Ketebalan salju dilaporkan memecahkan rekor yang pernah tercatat sebelumnya di wilayah itu. Dalam berbagai rekaman video dan foto yang beredar luas di media sosial, terlihat salju mencapai lantai dua apartemen bertingkat, sementara warga berusaha menggali lorong darurat agar dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Kondisi paling parah dilaporkan terjadi di ibu kota regional, Petropavlovsk-Kamchatsky. Kota ini praktis terisolasi akibat jalanan tertutup salju tebal. Kendaraan pribadi maupun transportasi umum terkubur, sebagian bahkan hanya menyisakan atap yang terlihat di permukaan. Aktivitas warga terhenti, dan layanan publik mengalami gangguan serius akibat sulitnya mobilitas di tengah tumpukan salju.
Pejabat setempat mengonfirmasi bahwa badai salju tersebut telah menelan korban jiwa. Dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa longsoran salju yang jatuh dari atap bangunan. Insiden tersebut terjadi ketika akumulasi salju yang sangat berat menyebabkan struktur atap tidak mampu menahan beban, sehingga runtuh secara tiba tiba. Peristiwa ini menjadi salah satu alasan utama pemerintah daerah meningkatkan status kewaspadaan.
Wali kota Petropavlovsk-Kamchatsky, Yevgeny Belyaev, secara resmi menyatakan keadaan darurat lokal. Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui Telegram, ia menyebut keputusan tersebut diambil menyusul rekomendasi untuk menetapkan situasi darurat akibat longsoran salju dari atap rumah yang menyebabkan korban jiwa. Menurutnya, langkah ini diperlukan untuk mempercepat koordinasi penanganan dan memastikan keselamatan warga.
Sebagai dampak lanjutan, pemerintah setempat menutup sekolah serta sejumlah kegiatan bisnis. Kota tersebut terpaksa beralih ke sistem kerja jarak jauh karena akses fisik yang nyaris tidak memungkinkan. Aparat dan relawan dikerahkan untuk membersihkan jalan utama, membantu evakuasi darurat, serta memastikan warga lanjut usia dan kelompok rentan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Badai salju ini juga memicu gangguan pada rantai pasok kebutuhan pokok. Media lokal melaporkan adanya keluhan warga karena toko toko kehabisan barang kebutuhan sehari hari seperti roti, susu, dan telur. Distribusi logistik terhambat akibat jalan tertutup salju dan cuaca buruk yang menyulitkan pengiriman pasokan dari luar kota.
Meskipun Kamchatka dikenal sebagai wilayah dengan curah salju tinggi, intensitas badai kali ini dinilai tidak biasa. Kamchatka merupakan sebuah semenanjung di Timur Jauh Rusia yang membentang ke arah Jepang dan kerap mengalami musim dingin ekstrem. Namun, hujan salju yang berlangsung terus menerus dengan ketebalan luar biasa ini telah melumpuhkan kota kota besar di kawasan tersebut dan melampaui pengalaman musim dingin pada tahun tahun sebelumnya.
Para ahli cuaca setempat menyebut bahwa kombinasi tekanan udara rendah dan sistem badai yang stagnan menjadi penyebab utama hujan salju berkepanjangan. Kondisi ini membuat salju terus menumpuk tanpa jeda, sementara suhu rendah menghambat proses pencairan alami. Akibatnya, risiko longsoran salju dari atap bangunan maupun lereng semakin meningkat.
“Saya disarankan untuk menyatakan situasi yang menyebabkan longsoran salju di atap rumah yang mengakibatkan dua kematian sebagai keadaan darurat lokal. Saya mengambil keputusan itu,” kata Yevgeny Belyaev, walikota ibu kota regional Petropavlovsk-Kamchatsky, melalui Telegram.
Pemerintah daerah bersama otoritas darurat Rusia kini berfokus pada upaya pembersihan salju, pengamanan bangunan, serta pemulihan aktivitas dasar. Warga diminta untuk tetap berada di dalam rumah kecuali untuk keperluan mendesak, serta waspada terhadap potensi runtuhan salju dari atap dan struktur tinggi.
Peristiwa badai salju ekstrem di Kamchatka ini menjadi pengingat akan dampak cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi. Selain menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, kejadian ini juga menguji kesiapsiagaan infrastruktur dan sistem tanggap darurat di wilayah dengan kondisi geografis dan iklim yang menantang. Pemerintah setempat berharap cuaca segera membaik agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan aktivitas warga kembali normal.