JAKARTA — Dunia dinilai sedang menghadapi tantangan berat dalam menjaga perdamaian global di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik, fragmentasi internasional, dan perebutan pengaruh antarnegara besar. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bahkan memperingatkan dunia sedang bergerak menuju situasi “hukum rimba” atau law of the jungle.
Peringatan itu disampaikan dalam deklarasi bersama Rusia dan China yang dirilis Kremlin usai pertemuan kedua pemimpin di Beijing, Selasa (19/5/2026). Moskow dan Beijing menilai stabilitas internasional saat ini semakin rapuh dan agenda perdamaian dunia menghadapi tekanan serius.
Dalam dokumen tersebut, Rusia dan China menyebut komunitas internasional berisiko kembali pada pola hubungan global yang didasarkan pada kekuatan semata, bukan kerja sama dan keseimbangan antarnegara.
Mereka menilai situasi global kini semakin kompleks akibat meningkatnya persaingan geopolitik dan kecenderungan sejumlah negara untuk memaksakan pengaruhnya terhadap negara lain.
Rusia dan China juga mengkritik praktik dominasi global yang dinilai masih menggunakan pola pikir era kolonial. Menurut keduanya, pendekatan sepihak dalam mengatur urusan dunia justru memperbesar ancaman konflik internasional dan memperlemah upaya menjaga perdamaian global.
Dalam konferensi pers bersama, Putin menegaskan Rusia dan China akan terus menjalankan kebijakan luar negeri yang “independen dan berdaulat” di tengah meningkatnya ketegangan global.
“Yang paling penting adalah Rusia dan Cina berkomitmen pada kebijakan luar negeri yang independen dan berdaulat, bekerja sama erat dalam kemitraan strategis, serta memainkan peran penting sebagai kekuatan penstabil di panggung global,” kata Putin seperti dikutip media Rusia.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana negara-negara besar kini berlomba membangun blok dan poros strategis masing-masing di tengah memanasnya dinamika internasional. Situasi itu dinilai menjadi tantangan besar bagi dunia dalam menjaga stabilitas global dan mencegah konflik terbuka antarnegara besar.
Meski demikian, Putin mengatakan Rusia tetap membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat. Ia menyebut isu tersebut juga dibahas bersama Xi Jinping dalam pertemuan di Beijing.
Namun Putin tidak menjelaskan lebih lanjut apakah kerja sama itu termasuk pembahasan negosiasi perdamaian terkait perang Ukraina.
Di tengah tekanan geopolitik yang terus meningkat, Rusia dan China juga kembali menyerukan solusi damai jangka panjang untuk perang Ukraina. Dalam dokumen yang dikutip kantor berita Interfax, kedua negara menyatakan mendukung seluruh upaya yang dapat menciptakan perdamaian yang “berkelanjutan dan tahan lama”.
Rusia bahkan memuji posisi China dalam konflik Ukraina sebagai sikap yang “objektif dan tidak memihak”.
Meski demikian, negara-negara Barat selama ini menuduh China secara tidak langsung membantu Rusia mempertahankan perang melalui hubungan ekonomi yang tetap erat dengan Moskow di tengah sanksi internasional terhadap Rusia.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa menjaga perdamaian dunia kini bukan hanya soal menghentikan perang, tetapi juga bagaimana negara-negara besar mampu menahan rivalitas geopolitik agar tidak berubah menjadi konflik global yang lebih luas.