JAKARTA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menempatkan hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu prioritas diplomasi strategis. Di tengah tensi geopolitik global dan kebijakan tarif proteksionis Washington, Jakarta memilih pendekatan pragmatis, memperkuat kerja sama perdagangan, energi, dan teknologi demi menjaga akses pasar dan stabilitas ekonomi nasional.
Dikutip Biro Sekretariat Presiden, Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja Kembali ke Washington DC, Amerika Serikat. Prabowo dikabarkan akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas perundingan tarif dagang kedua negara. Presiden dan rombongan terbatas lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Senin (16/2/2026). Dalam kunjungan ke Amerika Serikat ini, Prabowo didampingi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Meski kunjungan ini memicu lagi perdebatan di ruang publik, termasuk tuduhan ketergantungan pada asing, namun pemerintah menegaskan bahwa kemitraan dengan AS justru menjadi instrumen untuk memperkuat daya tawar dan kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah persaingan global.
Secara struktural, Indonesia berada pada posisi surplus dalam perdagangan dengan Amerika Serikat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama lebih dari lima tahun berturut-turut, didorong ekspor nonmigas seperti elektronik, alas kaki, dan tekstil.
Pada periode Januari–November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$38,54 miliar, dengan surplus nonmigas US$56,15 miliar, meski sektor migas masih defisit.
BPS juga mencatat Amerika Serikat menjadi salah satu penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar Indonesia, terutama dari produk manufaktur, alas kaki, dan tekstil.
Pendekatan ini mencerminkan pola diplomasi ekonomi yang lebih transaksional dan realistis, sejalan dengan strategi Prabowo menjaga kepentingan industri nasional di tengah dinamika global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan peningkatan impor minyak mentah dan produk energi dari Amerika Serikat merupakan bagian dari strategi diversifikasi pasokan dan penyeimbangan neraca perdagangan.
“Kami membuka opsi peningkatan impor minyak mentah dari Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi menyeimbangkan neraca perdagangan dan memastikan pasokan energi nasional tetap aman,” kata Bahlil terkait strategi energi dan perdagangan bilateral.
Bahlil juga menegaskan diversifikasi sumber pasokan penting untuk mengurangi risiko geopolitik dan menjaga stabilitas energi nasional.
“Diversifikasi sumber pasokan energi menjadi keharusan, agar Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan dan memiliki fleksibilitas dalam menjaga ketahanan energi,” ujarnya.
Selain perdagangan dan energi, kerja sama RI–AS diarahkan pada transfer teknologi dan penguatan industri manufaktur nasional.
Surplus perdagangan nonmigas Indonesia didorong oleh ekspor produk industri pengolahan yang tumbuh signifikan sepanjang 2025, dengan nilai ekspor sektor manufaktur mencapai lebih dari US$205 miliar pada periode Januari–November 2025.
Pemerintah menilai kerja sama dengan AS membuka peluang peningkatan teknologi manufaktur, semikonduktor, serta penguatan rantai pasok global yang strategis bagi industrialisasi Indonesia.
Narasi “antek asing” kerap muncul setiap kali Indonesia memperluas kerja sama dengan negara maju. Namun sejumlah ekonom menilai diplomasi ekonomi modern tidak bisa dilepaskan dari pragmatisme geopolitik.
Amerika Serikat tetap menjadi salah satu pasar ekspor terbesar bagi produk manufaktur Indonesia. Menutup diri dari kerja sama justru berisiko mengganggu stabilitas industri nasional yang bergantung pada pasar global.
Pemerintah menegaskan kerja sama dengan AS tidak berarti menyerahkan kedaulatan ekonomi. Sebaliknya, strategi ini diposisikan sebagai langkah negosiasi untuk mengamankan akses pasar, modal, dan teknologi.
BPS mencatat surplus perdagangan Indonesia telah berlangsung 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menandakan fundamental perdagangan yang relatif solid dan daya tawar Indonesia yang tetap kuat.
Diplomasi ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat di era Prabowo mencerminkan pergeseran paradigma dari ideologis menuju pragmatis strategis. Di tengah persaingan global, menjaga akses teknologi, energi, dan pasar menjadi faktor krusial bagi kedaulatan ekonomi jangka panjang.
Kerja sama dengan AS bukan sekadar pilihan politik, tetapi kebutuhan struktural dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung. Tantangan utama Indonesia adalah memastikan setiap kesepakatan menghasilkan transfer teknologi, penguatan industri domestik, dan peningkatan nilai tambah nasional—bukan sekadar ketergantungan baru.