JAKARTA — Ketika pasar energi global kembali diliputi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada energi sebagai salah satu pilar utama kebijakan ekonomi nasional—dan sejumlah indikator terbaru menunjukkan strategi tersebut mulai menunjukkan hasil.
Lonjakan risiko di jalur perdagangan minyak dunia seperti Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global, telah memicu kekhawatiran di banyak negara pengimpor energi. Namun struktur pasokan energi Indonesia yang semakin terdiversifikasi dinilai membuat ekonomi domestik relatif lebih terlindungi dari volatilitas global.
“Kemandirian energi adalah fondasi stabilitas ekonomi dan geopolitik,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, beberapa waktu lalu saat menjelaskan arah kebijakan energi pemerintah.
Menurut data Kementerian ESDM, pemerintah menargetkan sejumlah tonggak swasembada energi dalam beberapa tahun ke depan, mulai dari diesel hingga bahan bakar penerbangan.
Indonesia menargetkan swasembada solar pada 2026 dengan kapasitas produksi sekitar 40,2 juta kiloliter per tahun. Kenaikan produksi ini berasal dari dua faktor utama: ekspansi biodiesel berbasis sawit dan peningkatan kapasitas kilang domestik. Program biodiesel nasional telah berkembang dari B35 menuju B40 dan berpotensi meningkat hingga B50 dalam beberapa tahun mendatang.
Selain itu, proyek peningkatan kapasitas kilang milik PERTAMINA di Balikpapan yang rampung pada Januari 2026 menambah produksi solar nasional sekitar 1,8 juta kiloliter per tahun.
Untuk bahan bakar penerbangan, Indonesia juga berada di jalur menuju swasembada pada 2026 dengan target produksi 2 juta kiloliter per tahun. Tambahan produksi berasal dari peningkatan kapasitas kilang Balikpapan yang meningkatkan produksi avtur sekitar 0,64 juta kiloliter per tahun. Pemerintah juga mulai mengembangkan sustainable aviation fuel (SAF) berbasis minyak jelantah, yang berpotensi menjadi sumber bahan bakar alternatif bagi industri penerbangan.
Sementara itu, swasembada bensin ditargetkan tercapai pada 2028 dengan total produksi sekitar 39,9 juta kiloliter. Selain peningkatan kapasitas kilang yang menambah produksi sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, pemerintah juga mengembangkan bahan bakar nabati berbasis tebu, singkong, dan jagung untuk mengurangi ketergantungan impor.
Risiko Hormuz Lebih Rendah
Ketergantungan Indonesia terhadap jalur minyak strategis global juga relatif lebih rendah dibanding negara Asia lainnya.
Sekitar 20% impor bensin Indonesia, atau sekitar 0,3 juta barel per hari, melewati Selat Hormuz. Sebagai perbandingan, ketergantungan Jepang mencapai sekitar 75%, Korea Selatan 65%, India 50%, dan China sekitar 48%.
Diversifikasi jalur dan sumber impor ini menjadi salah satu faktor yang memperkecil risiko gangguan pasokan. Cadangan BBM Indonesia saat ini berada di kisaran 20–23 hari, sejalan dengan rata-rata negara Asia Tenggara. Pemerintah menargetkan peningkatan cadangan strategis hingga 90 hari, mendekati standar negara anggota International Energy Agency.
Transisi Listrik dan Energi Terbarukan
Selain bahan bakar cair, Indonesia juga mempercepat transisi di sektor listrik. Total kapasitas pembangkit listrik nasional saat ini sekitar 107,5 gigawatt, dengan sekitar 15,7% berasal dari energi baru terbarukan. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt dalam beberapa dekade ke depan untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis diesel.
Di sektor gas, Indonesia juga memperkuat diversifikasi impor LNG. Sekitar 57% dari total impor LNG Indonesia sebesar 7,1 juta metrik ton per tahun berasal dari United States, dan porsinya berpotensi meningkat hingga 70% melalui kesepakatan perdagangan energi antara Indonesia dan Amerika Serikat. Langkah ini sekaligus memperluas portofolio pasokan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Bagi Indonesia, strategi swasembada energi bukan hanya kebijakan sektor energi, tetapi juga bagian dari strategi stabilitas ekonomi jangka panjang.
Ketika banyak negara di Asia masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan produk BBM dari Timur Tengah, Indonesia mencoba mengurangi kerentanan tersebut melalui kombinasi biofuel, peningkatan kapasitas kilang, serta percepatan energi terbarukan.
Jika target-target tersebut tercapai dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia berpotensi mengubah posisinya di peta energi global—dari negara importir besar menjadi salah satu ekonomi besar yang lebih tahan terhadap guncangan energi dunia.