JAKARTA – Pemerintah mulai menjalankan strategi besar untuk memperkuat keamanan energi nasional. Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia tengah menyiapkan pembangunan storage minyak raksasa di sejumlah lokasi vital, mulai dari Sumatera, Dumai hingga Cilacap.
Langkah ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Pemerintah ingin mengubah cara Indonesia mengelola cadangan minyak dan energi, dari yang selama ini hanya cukup untuk kebutuhan jangka pendek, menjadi cadangan strategis hingga tiga bulan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menempatkan proyek storage minyak nasional sebagai bagian dari strategi besar memperkuat kedaulatan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Saat ini, kapasitas storage minyak nasional masih berada di kisaran lebih dari 20 hari cadangan operasional. Angka ini dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi gangguan pasokan global.
Karena itu, pemerintah menargetkan peningkatan bertahap hingga 60 hari, sebelum akhirnya mencapai standar 90 hari cadangan energi strategis.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pembangunan storage minyak akan difokuskan di jalur penting pasokan energi nasional.
Dua lokasi yang menjadi prioritas adalah kawasan sekitar Kilang Dumai di Sumatera dan Kilang Cilacap di Jawa Tengah.
“Dumai dan Cilacap itu jalur penting bagi kilang dalam negeri. Kita akan tentukan lokasi yang paling prioritas untuk dibangun lebih dulu,” kata Yuliot kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (13/3/2026)
Dengan pembangunan storage minyak ini, pemerintah ingin menciptakan sistem cadangan energi yang lebih kuat, sehingga Indonesia tidak lagi berada dalam posisi rentan ketika terjadi gangguan pasokan global.
Investor Global Mulai Berebut Masuk
Proyek storage minyak raksasa ini juga mulai menarik perhatian investor internasional. Salah satu yang sedang menjajaki kerja sama adalah konglomerasi energi asal India Essar Group melalui anak usahanya Essar Oil UK Ltd.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengungkapkan perwakilan Essar bahkan sudah datang langsung melihat potensi kerja sama di kilang Pertamina, termasuk di Kilang Plaju.
“Kemarin mereka sudah berkunjung ke lokasi kilang kami untuk melihat peluang pembangunan storage tambahan,” kata Simon.
Pertamina juga membuka pintu bagi investor lain yang ingin berpartisipasi dalam proyek investasi energi berskala nasional ini.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan pembangunan storage minyak di Sumatra merupakan bagian dari strategi memperkuat infrastruktur energi nasional.
Meski sebagian proyek bisa melibatkan swasta, minyak yang tersimpan nantinya tetap dihitung sebagai cadangan energi nasional.
“Kalau perhitungannya tetap masuk cadangan nasional, walaupun pembangunannya bisa dilakukan oleh swasta,” kata Laode.
Pemerintah kini ingin memutus pola lama pengelolaan energi yang sering disebut sebagai “hand-to-mouth energy supply”, yakni kondisi ketika stok energi hanya cukup untuk kebutuhan jangka pendek. Sebagai gantinya, Indonesia mulai membangun sistem “tabungan energi nasional.”
Dengan jaringan storage minyak raksasa dari Dumai hingga Cilacap, pemerintah berharap Indonesia memiliki benteng energi yang mampu menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan meski dunia menghadapi krisis pasokan minyak.
Dalam konteks geopolitik global yang semakin tidak menentu, pembangunan proyek ini mengindikasikan keamanan energi bukan lagi pilihan—tetapi kebutuhan strategis bagi masa depan Indonesia.