INVERSI.ID – Pemerintah memastikan ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stok beras saat ini berada pada level yang sangat tinggi sehingga tidak ada alasan munculnya kelangkaan di pasar.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan terkait keterbatasan pasokan beras di sejumlah titik distribusi. Menurut Amran, pemerintah telah mengantisipasi kondisi tersebut dengan pengawasan ketat bersama aparat penegak hukum.
“Beras kita melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kita, (itu) langka,” kata Amran dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Ia menegaskan bahwa stok beras yang tersedia saat ini mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional tanpa kendala berarti. Bahkan, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah.
Stok Beras Nasional Capai Rekor Tertinggi
Hingga awal Juni 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah yang tersimpan di gudang Bulog tercatat mencapai 5,3 juta ton. Jumlah tersebut dinilai sangat memadai untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di seluruh wilayah Indonesia.
Amran mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan Polri untuk melakukan pemantauan langsung di lapangan guna memastikan distribusi berjalan lancar dan tidak ada pihak yang mencoba memanfaatkan situasi untuk kepentingan tertentu.
“Kami bersama Satgas Pangan pantau seluruh Indonesia. Jangan dibuat langka. Tidak ada langka. Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama (Indonesia) merdeka,” tambah Amran.
Menurutnya, keberhasilan menjaga ketersediaan beras tidak terlepas dari peningkatan produksi nasional yang terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Produksi Beras Indonesia Jadi Sorotan Dunia
Amran juga menyoroti laporan Rice Outlook May 2026 yang diterbitkan oleh United States Department of Agriculture (USDA). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa produksi beras dunia pada periode 2025-2026 mengalami peningkatan sebesar 1,5 juta ton.
Jika sebelumnya proyeksi produksi global berada di angka 541,3 juta ton, kini meningkat menjadi 542,8 juta ton.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mencatat kenaikan produksi beras paling signifikan bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam.
Namun demikian, dari keempat negara tersebut, Indonesia memiliki volume produksi tahunan paling besar, yakni lebih dari 30 juta ton per tahun. Sebagai perbandingan, Nigeria mencatat produksi sekitar 5,9 juta ton, Pantai Gading 1,7 juta ton, sementara Vietnam berada di angka 26,2 juta ton.
Peringatan untuk Pedagang Beras
Dengan kondisi stok yang melimpah, Amran mengingatkan para pelaku usaha agar tidak memainkan harga beras di tingkat pasar.
Ia menilai situasi saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika stok Bulog hanya berada di kisaran 1 juta ton sehingga pemerintah harus mengambil langkah impor untuk menjaga ketersediaan pasokan.
Kini, menurut Amran, Indonesia berada dalam posisi yang jauh lebih kuat karena berhasil meningkatkan produksi dan mencapai surplus beras nasional.
“Sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak,” tegas Amran.
Bulog Didorong Perluas Penjualan Beras Premium
Selain memastikan stabilitas pasokan, pemerintah juga mendorong Perum Bulog untuk memperkuat distribusi beras premium di pasar modern. Selama ini Bulog dikenal melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang menyediakan beras medium bagi masyarakat.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menilai masih terdapat peluang besar bagi Bulog untuk memperluas pangsa pasar beras premium melalui sejumlah merek komersial yang dimiliki.
Menurut Ketut, keberadaan produk premium Bulog dapat menjadi solusi untuk mengisi kekurangan pasokan yang saat ini terjadi di sejumlah ritel modern.
“Bukan langka. Saya kira kan kami juga kunjungan ke lapangan, melihat di ritel modern itu masih ada, (memang) tidak banyak tapi ada. Ini kesempatan Bulog masuk. Bulog kan punya Befood, punya Punokawan, Setra Ramos. Nah Bulog mengisi kekurangan suplai, ini bisa diisi oleh Bulog,” ucap Ketut.
Berdasarkan data Bapanas per 12 Juni 2026, stok beras komersial Bulog masih berada di level 11,4 ribu ton. Sementara realisasi pengadaan beras komersial terus bertambah dan telah mencapai 45,5 ribu ton dari total pengadaan nasional sebesar 3,1 juta ton.
Pemerintah berharap ketersediaan stok yang kuat dan distribusi yang optimal dapat menjaga stabilitas harga beras sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi di seluruh Indonesia.