By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Rupiah dan IHSG Sempat Terpuruk, Langkah BI dan Pemerintah Mulai Berbuah Hasil
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Rupiah dan IHSG Sempat Terpuruk, Langkah BI dan Pemerintah Mulai Berbuah Hasil

Ekonomi

Rupiah dan IHSG Sempat Terpuruk, Langkah BI dan Pemerintah Mulai Berbuah Hasil

Jack
By
Jack
1 day ago
Share
8 Min Read
ilustrasi bursa saham (foto: pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Nilai tukar rupiah sempat mencatatkan pelemahan terdalam dalam lebih dari dua dekade terakhir setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan 8 Juni 2026. Mata uang Garuda ditutup di posisi Rp18.188 per dolar AS, melampaui level terendah yang pernah terjadi saat krisis moneter 1998.

Tekanan tidak hanya dirasakan di pasar valuta asing. Bursa saham Indonesia juga mengalami gejolak signifikan. Setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.174 pada Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam hingga kehilangan hampir sepertiga nilainya dalam beberapa bulan.

Di kawasan Asia, kinerja IHSG menjadi salah satu yang paling tertekan sejak awal tahun. Kondisi tersebut dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang memengaruhi persepsi investor terhadap pasar Indonesia.

Dari sisi eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Ketegangan yang berpotensi mengganggu distribusi energi melalui Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia melonjak hingga berada di kisaran 93-94 dolar AS per barel. Angka tersebut jauh melampaui asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar 70 dolar AS per barel.

Pada saat bersamaan, kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan Amerika Serikat membuat dolar AS semakin kuat. Situasi ini memicu perpindahan modal global ke aset-aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.

Meski demikian, pelaku pasar juga menyoroti berbagai faktor dalam negeri. Pelemahan rupiah yang lebih tajam dibandingkan sejumlah mata uang regional menunjukkan adanya perhatian investor terhadap risiko domestik yang dinilai perlu dicermati.

Salah satu indikator paling nyata terlihat dari derasnya arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia. Investor global melepas kepemilikan saham maupun obligasi pemerintah, kemudian mengalihkan dana tersebut ke pasar lain setelah dikonversi ke dolar AS.

Hingga awal Juni 2026, nilai arus keluar bersih atau net foreign outflow dari pasar saham Indonesia tercatat telah melampaui Rp61 triliun.

Tekanan terhadap pasar saham semakin besar setelah MSCI mengeluarkan enam emiten Indonesia dari indeks acuannya pada Januari 2026. Pada saat yang sama, lembaga tersebut juga menunda penambahan saham baru ke dalam indeks.

Baca Juga :

Profil dan Biodata Gaga Muhammad, Mantan Pacar Laura Anna Bebas dari Penjara
Beasiswa Tanpa Ribet! Cyber University Buka Peluang Kuliah Gratis Sampai Lulus

Kondisi tersebut diperburuk ketika MSCI tidak menerbitkan pembaruan rekomendasi saham Indonesia pada Mei 2026. Akibatnya, sejumlah manajer investasi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan harus melakukan penyesuaian portofolio dengan menjual saham terkait tanpa memiliki opsi rebalancing ke emiten Indonesia lainnya.

Menghadapi tekanan yang semakin besar, Bank Indonesia mengambil langkah cepat. Pada 9 Juni 2026, bank sentral secara tidak biasa menaikkan BI Rate di luar jadwal rapat reguler dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen.

Kebijakan tersebut langsung memberikan dampak terhadap pasar. Dalam dua hari berikutnya, rupiah mulai menguat dan kembali bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Sentimen positif juga mulai terlihat di pasar saham. IHSG mencatat pemulihan lebih dari 10 persen, didorong aksi buyback saham perbankan BUMN yang dilakukan secara terkoordinasi melalui mekanisme khusus tanpa harus menunggu pelaksanaan RUPS.

Pemulihan itu terjadi setelah valuasi saham domestik mengalami koreksi yang sangat dalam. CEO Danantara Rosan Roeslani menilai harga saham Indonesia saat ini berada pada level yang sangat menarik setelah pasar sempat mengalami penurunan hingga sekitar 40 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Bagi investor jangka panjang, kondisi tersebut sering kali dianggap sebagai momentum untuk melakukan akumulasi aset. Ketika harga turun lebih cepat dibanding perubahan fundamental ekonomi, fokus pasar mulai bergeser dari risiko menuju peluang investasi.

Pandangan serupa juga disampaikan COO Danantara Dony Oskaria. Ia menilai penguatan pasar yang mulai terlihat mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Optimisme tersebut tidak hanya dibangun melalui pernyataan resmi. Dalam beberapa bulan terakhir, jajaran Danantara aktif melakukan roadshow ke berbagai pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York.

Rosan Roeslani bersama tim bertemu dengan 122 investor global untuk memaparkan arah kebijakan pemerintah, strategi investasi, serta prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Dalam berbagai pertemuan tersebut, investor internasional mengajukan sejumlah pertanyaan kritis terkait kondisi ekonomi dan iklim investasi nasional. Namun setelah memperoleh penjelasan mengenai strategi jangka panjang pemerintah, kepercayaan pasar mulai pulih dan arus modal asing perlahan kembali masuk ke Indonesia.

Menurut Rosan, tekanan yang terjadi di pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi perubahan sentimen dan persepsi risiko ketimbang penurunan fundamental ekonomi Indonesia.

Hal tersebut tercermin dari tingginya minat investor terhadap obligasi internasional yang diterbitkan Danantara senilai 1,5 miliar dolar AS. Permintaan yang masuk mencapai sekitar 4,6 miliar dolar AS atau hampir lima kali lipat dari nilai penerbitan.

Sebagian besar permintaan berasal dari investor Amerika Serikat. Tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa aset Indonesia masih memiliki daya tarik di tengah ketidakpastian global.

Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga kepercayaan pasar. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut percepatan program hilirisasi dan industrialisasi menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Strategi tersebut dinilai penting untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus meningkatkan kapasitas ekspor produk bernilai tinggi.

Di sektor moneter, Bank Indonesia turut memperluas instrumen stabilisasi dengan memperkuat kerja sama pertukaran mata uang bersama China. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan fleksibilitas likuiditas serta mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi tertentu.

Perubahan sentimen pasar mulai terlihat pada pertengahan Juni. Dalam dua hari perdagangan, yakni 10 hingga 11 Juni 2026, arus modal asing kembali masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara dengan nilai mencapai Rp19,02 triliun.

Penguatan pasar berlanjut pada perdagangan 15 Juni. IHSG naik 247 poin atau sekitar 4,1 persen ke level 6.254. Jika dibandingkan dengan posisi terendah pada 8 Juni yang berada di level 5.594, kenaikan tersebut telah mencapai lebih dari 17 persen hanya dalam lima hari perdagangan.

Sementara itu, rupiah juga menunjukkan penguatan dengan ditutup pada level Rp17.709 per dolar AS.

Meski demikian, pemulihan tersebut belum sepenuhnya menghapus tekanan yang terjadi sejak awal tahun. Namun pasar keuangan pada dasarnya bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap masa depan, bukan hanya kondisi saat ini.

Karena itu, penguatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan adanya perubahan pandangan investor terhadap Indonesia. Jika sebelumnya pasar didominasi kekhawatiran, kini perhatian mulai beralih kepada prospek jangka panjang dan arah kebijakan yang disampaikan pemerintah secara langsung kepada investor global.

Apakah tren positif ini akan terus berlanjut? Jawabannya tentu tidak sesederhana itu. Dinamika pasar akan selalu dipengaruhi oleh interaksi antara penjual dan pembeli yang menyebabkan fluktuasi harga.

Meski belum dapat disebut sebagai pembalikan tren secara penuh, langkah-langkah yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah setidaknya berhasil meredam tekanan yang terjadi. Dari sudut pandang teknikal, kegagalan pasar mencetak titik terendah baru sering kali menjadi sinyal awal fase konsolidasi yang berpotensi membuka jalan menuju tren penguatan berikutnya.

You Might Also Like

Mitos Boros Tumbang! Kompor Listrik Ternyata Lebih Hemat 75%
Heboh Harga Pertamax, Padahal dari Awal Tak Pernah Disubsidi
Konflik AS-Iran Mereda, Menkeu Sebut APBN Berpeluang Lebih Longgar
Gaya Sultan, Mental Subsidi? Netizen Semprot Pengeluh Pertamax
Bahlil Usulkan Anggaran Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik pada RAPBN 2027
TAGGED:bursa sahamIHSGRupiah Menguat
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Tolak Penunggangan Politik, BEM Bersatu Ungkap Dugaan Aktor di Balik Aksi Anti-MBG
Next Article Isyana Bagoes Oka Sebut Kunjungan Jokowi ke Daerah, Tak Terkait Safari Politik
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Isyana Bagoes Oka Sebut Kunjungan Jokowi ke Daerah, Tak Terkait Safari Politik

Stok Beras Indonesia Melimpah, Pedagang Diingatkan Jangan Mainkan Harga

Bensin Tetangga Tembus Rp42 Ribu, Heran Jika Pertamax RI Masih Dikeluhkan?

Mati Listrik Bukan karena Batu Bara, PLN Akui Murni Gangguan Mesin

Bukan 1998! Menkeu Purbaya Tegaskan Ekonomi RI Masih Ekspansi

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Ekonomi

Ekonom: BBM Subsidi Jangan Diganggu, Jadi Penyangga Daya Beli Masyarakat

4 days ago
EkonomiMBG

Baru Sepekan Bicara Bongkar Gurita MBG, Orang Kepercayaan Sony Langsung Jadi Tersangka

5 days ago
EkonomiTerkini

Sejak April, Bahlil Sudah Kasih Kode! Publik Tak Perlu Kaget Jika Pertamax Disesuaikan

5 days ago
EkonomiTerkini

Usai Temui Presiden di Istana, Bahlil Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik

5 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index