INVERSI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah bergulir sejak awal 2025 kini terus menjadi sorotan publik dan para pakar kebijakan. Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Fuad Bawazier, memberikan pandangan strategis mengenai dinamika implementasi program tersebut.
Menurutnya, sebuah kebijakan berskala nasional dengan jangkauan luas memerlukan fase adaptasi, dan ia memproyeksikan bahwa program ini akan mencapai tingkat kematangan operasional yang optimal pada tahun ketiga pelaksanaan.
Fuad menegaskan bahwa ekspektasi publik terhadap kesempurnaan program pada tahun pertama adalah hal yang sulit direalisasikan. Sebagai program yang menyentuh jutaan jiwa di seluruh pelosok Indonesia, proses penyempurnaan harus dilakukan secara bertahap melalui mekanisme evaluasi yang berkelanjutan.
Penyesuaian Anggaran sebagai Bagian dari Evolusi Kebijakan
Menanggapi berbagai dinamika dalam alokasi dana program, Fuad Bawazier menilai bahwa penyesuaian atau refocusing anggaran merupakan langkah yang lazim dan wajar dalam manajemen keuangan negara. Ia menjelaskan bahwa fenomena penganggaran awal yang cenderung konservatif atau besar merupakan upaya antisipasi administratif agar program tidak terkendala di tengah jalan.
“Dalam praktik manajemen publik, seringkali terjadi estimasi anggaran yang cukup besar di awal untuk mengantisipasi ketidakpastian kebutuhan di lapangan. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah realitas operasional terlihat dengan jelas, efisiensi anggaran akan secara alami terjadi.”
“Kondisi penyesuaian dana ini adalah bukti bahwa pemerintah sedang melakukan sinkronisasi antara perencanaan dan realitas di lapangan,” ujar Fuad dalam diskusi mengenai evaluasi kebijakan ekonomi, Selasa (30/06/2026).
Fuad meyakini bahwa seiring dengan bertambahnya pengalaman para pelaksana program di setiap daerah, kualitas penyelenggaraan MBG akan meningkat secara progresif. Ia melihat bahwa orientasi program yang awalnya fokus pada pencegahan stunting, kini meluas menjadi upaya komprehensif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara nasional.
Dampak Ganda (Multiplier Effect) bagi Ekonomi Lokal
Salah satu aspek fundamental yang disoroti oleh Fuad Bawazier adalah keterlibatan aktif pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) dalam rantai pasok program MBG. Ia berpendapat bahwa kekuatan utama dari program ini tidak hanya terletak pada pemenuhan gizi anak, tetapi pada perputaran uang yang terjadi di tingkat lokal.
“Model operasional MBG yang tersebar di banyak titik di seluruh Indonesia memaksa kita untuk melibatkan pengusaha lokal dan UMKM di sekitar lokasi layanan. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi yang merata, di mana uang tidak hanya beredar di pusat, melainkan mengalir ke desa-desa dan daerah terpencil,” jelasnya.
Efek ganda ini, menurut Fuad, merupakan motor penggerak ekonomi yang sangat kuat. Selain meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, program ini secara otomatis memperpendek rantai distribusi komoditas pangan, yang pada gilirannya menjaga stabilitas harga dan kualitas pangan yang dikonsumsi oleh siswa.
Potensi Penyerapan Tenaga Kerja yang Signifikan
Lebih jauh, Fuad Bawazier memberikan apresiasi terhadap potensi penyerapan tenaga kerja yang dihasilkan oleh Program MBG. Ia menilai target penciptaan jutaan lapangan kerja melalui program ini adalah pencapaian yang sangat masif, bahkan jika dibandingkan dengan standar efektivitas kebijakan di negara maju.
“Potensi penciptaan 1,2 juta lapangan kerja merupakan angka yang luar biasa. Sebagai perbandingan, di negara dengan ekonomi sebesar Amerika Serikat, penciptaan 50 ribu lapangan kerja saja sudah dianggap sebagai prestasi yang sangat signifikan dan mampu memengaruhi stabilitas ekonomi makro mereka.”
“Jika pemerintah Indonesia berhasil mencapai target jutaan tenaga kerja melalui program ini, maka ini merupakan lompatan besar bagi ekonomi nasional,” papar mantan Menkeu tersebut.
Menuju Indonesia Emas melalui Tata Kelola yang Matang
Fuad Bawazier menyimpulkan bahwa kunci kesuksesan Program MBG terletak pada kesabaran dalam proses penyempurnaan sistem. Ia mengimbau kepada seluruh pemangku kepentingan untuk tetap objektif dalam mengawal program ini hingga mencapai tahun ketiga dan keempat, di mana menurut prediksinya, sistem akan bekerja dengan presisi tinggi.
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa pembangunan kualitas manusia melalui pemenuhan gizi adalah investasi jangka panjang.
Dengan tata kelola keuangan yang semakin efisien, partisipasi UMKM yang terus diperkuat, serta manajemen logistik yang semakin matang, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Pemerintah dipastikan akan terus melakukan inovasi kebijakan seiring dengan masukan yang diterima dari masyarakat serta hasil evaluasi lapangan, sehingga setiap rupiah dari anggaran negara benar-benar memberikan manfaat optimal bagi kesejahteraan rakyat luas.