INVERSI.ID – Di balik suasana tenang Desa Harjawinangun, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tersimpan kisah inspiratif dari seorang pemuda kreatif. Umar Mustofa, yang tinggal di kaki Gunung Slamet, berhasil menyulap onderdil bekas menjadi robot-robot unik bernilai jual tinggi dan bahkan menembus pasar internasional.
Setiap hari, Umar berkarya di bengkel las sederhana miliknya. Di sana, dari tumpukan onderdil motor bekas, mesin rongsok, dan komponen komputer rusak, ia menciptakan karya seni berbentuk robot dengan berbagai ukuran dan karakter.
Berawal dari Hobi, Kini Go Internasional
Kisah sukses Umar dimulai dari hobi membuat replika robot kecil saat masih bekerja di pabrik. Sejak tahun 2018, ia mulai menekuni hobinya secara serius. Karya pertamanya ia unggah ke media sosial dan tak disangka mendapat banyak respons positif.
“Tercetus ide dari hobi bikin replika dari onderdil bekas. Awalnya sambil kerja di pabrik, saya bikin yang kecil, upload ke medsos, terus lanjut bikin yang besar-besar,” kata Umar, dikutip dari program Selamat Pagi Indonesia, Senin (12/5).
Kini, Umar telah menciptakan berbagai jenis robot, mulai dari karakter ikonik seperti Predator, Transformers, dan Iron Man, hingga robot orisinal hasil desain imajinatifnya sendiri. Ukurannya pun bervariasi, dari miniatur 20 cm hingga robot raksasa setinggi 4 meter.
Harga Puluhan Juta dan Pemesanan dari Luar Negeri
Karya Umar dibanderol mulai dari Rp250 ribu untuk ukuran kecil hingga puluhan juta rupiah untuk ukuran besar dan detail tinggi. Pemasaran dilakukan secara mandiri lewat media sosial dan marketplace.
Robot-robot Umar kini diminati kolektor dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, dan Bali. Tak hanya itu, karyanya juga berhasil menembus pasar luar negeri, dengan pemesanan datang dari negara-negara seperti Jerman, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.
Salah satu pencapaian yang membanggakan, karyanya sempat dipamerkan dalam ajang Rural Culture Expo 2023 di Sleman, Yogyakarta.
Dukungan Warga dan Pemerintah Desa
Kesuksesan Umar mendapat dukungan penuh dari warga dan pemerintah desa. Kepala Desa Harjawinangun, M. Badruzaman, menyebut Umar sebagai inspirasi nyata bagi anak muda desa.
“Semangat dan potensinya luar biasa. Kami berharap Umar bisa jadi inspirasi bagi anak-anak muda di desa,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Rojikin, tetangga Umar. Ia menilai bahwa Umar membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan bukan penghalang untuk berkarya dan mendunia.
“Bangga sekali. Anak desa, pendidikan biasa saja, tapi karyanya bisa mendunia. Ini contoh bahwa kalau ada kemauan dan dukungan, bakat bisa berkembang,” tuturnya.
Kisah Umar Mustofa adalah bukti bahwa kreativitas, kerja keras, dan ketekunan bisa mengubah barang rongsok menjadi karya berkelas dunia. Di tengah keterbatasan, Umar membuktikan bahwa anak desa pun bisa mendunia, asal mau berusaha dan terus berkarya.***