Jakarta — Di tengah semangat kewirausahaan yang terus tumbuh di kalangan anak muda, Universitas Bunda Mulia (UBM) melalui Biemers Entrepreneur Club sukses menyelenggarakan seminar bertajuk “Entrepreneurship for Gen Z: Start Small, Think Big”. Acara ini menjadi wadah inspiratif bagi mahasiswa dan generasi muda untuk memahami bahwa membangun bisnis tidak harus dimulai dengan modal besar, melainkan dengan keberanian, kepekaan terhadap masalah sekitar, dan konsistensi.
Seminar ini berlangsung dari pukul 11.30 hingga 13.30 WIB dan menghadirkan Vivi Leonita, pendiri brand Vileo Handicraft, sebagai pembicara utama. Dalam sesi yang penuh semangat dan interaktif, Vivi membagikan kisah perjuangannya membangun bisnis dari nol, menghadapi tantangan, dan akhirnya berhasil menciptakan produk kerajinan tangan yang dikenal luas.
Vivi Leonita memulai Vileo Handicraft dari keresahan pribadi terhadap limbah kain dan minimnya produk lokal yang mengangkat nilai estetika dan keberlanjutan. Ia memanfaatkan potongan kain sisa untuk membuat produk handmade seperti pouch, tas, dan dekorasi rumah. Dengan pendekatan ramah lingkungan dan desain yang unik, Vileo berkembang menjadi brand yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga gaya hidup.
“Tidak masalah seberapa kecil ide yang kamu punya. Kalau kamu peka terhadap masalah di sekitarmu dan berani mewujudkannya, peluang sukses selalu terbuka,” ujar Vivi dalam sesi seminar.
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kreatif, digital-native, dan berani mengambil risiko. Namun, banyak dari mereka yang masih ragu untuk memulai bisnis karena merasa belum punya modal, pengalaman, atau ide besar. Seminar ini hadir untuk mematahkan stigma tersebut.
Melalui kisah nyata Vivi, peserta diajak untuk melihat bahwa bisnis bisa dimulai dari hal sederhana. Yang dibutuhkan adalah:
- Kepekaan terhadap masalah sosial atau lingkungan
- Kemauan untuk belajar dan beradaptasi
- Konsistensi dalam membangun brand dan produk
- Kemampuan memanfaatkan media sosial dan digital marketing
Selain sesi sharing, seminar juga menghadirkan permainan interaktif bertajuk “Guess the Brand”. Dalam permainan ini, peserta diminta menebak nama brand dari potongan gambar atau logo yang ditampilkan. Tujuannya adalah untuk melatih kemampuan analisis visual, kreativitas, dan pengetahuan branding.
Antusiasme peserta sangat tinggi. Mereka aktif menjawab, berdiskusi, dan menunjukkan semangat kompetitif yang sehat. Aktivitas ini menjadi bukti bahwa edukasi kewirausahaan bisa dikemas secara menyenangkan dan tetap bermakna.
Biemers Entrepreneur Club adalah komunitas mahasiswa UBM yang fokus pada pengembangan jiwa kewirausahaan. Mereka rutin mengadakan seminar, workshop, dan mentoring bisnis untuk mahasiswa lintas jurusan. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem kampus yang mendukung lahirnya entrepreneur muda yang inovatif dan berdaya saing.
Seminar “Start Small, Think Big” menjadi bagian dari agenda tahunan klub ini, dan tahun 2025 menjadi momen penting karena semakin banyak mahasiswa yang tertarik membangun bisnis sejak kuliah.
Berikut beberapa insight penting yang bisa dipetik dari seminar ini:
- Mulai dari masalah, bukan dari modal: Temukan masalah yang relevan dan cari solusi yang bisa dijadikan produk atau layanan.
- Bangun brand dengan cerita: Konsumen Gen Z menyukai brand yang punya cerita dan nilai.
- Manfaatkan platform digital: Gunakan Instagram, TikTok, dan marketplace untuk membangun awareness dan menjual produk.
- Jangan takut gagal: Kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
- Kolaborasi adalah kunci: Bangun jaringan dengan komunitas, mentor, dan sesama pelaku usaha.
Seminar “Entrepreneurship for Gen Z: Start Small, Think Big” bukan hanya ajang berbagi ilmu, tetapi juga momentum untuk membangkitkan semangat kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Dengan menghadirkan sosok inspiratif seperti Vivi Leonita, UBM menunjukkan komitmennya dalam menjembatani pendidikan dengan dunia nyata.
Bagi Gen Z, membangun bisnis bukan lagi mimpi yang jauh. Dengan ide kecil, keberanian besar, dan dukungan komunitas, mereka bisa menciptakan perubahan nyata. Karena di era digital dan keberlanjutan ini, yang dibutuhkan bukan hanya pengusaha, tetapi pengusaha yang peduli dan berdampak.