INVERSI.ID – Kesibukan anak muda zaman sekarang emang luar biasa. Dari pagi sampai malam, aktivitas nggak ada habisnya — kerja di depan laptop, main game, nongkrong, sampai olahraga ringan buat sekadar jaga badan tetap fit. Tapi sadar nggak sih, di balik semua rutinitas itu, banyak anak muda yang mulai mengeluh sakit pinggang, punggung pegal, sampai bahu terasa kaku kayak batu?
Fisioterapis Akhmad Zulfikar Alfasiry dari Rumah Sakit Hermina Samarinda, Kalimantan Timur, mengungkapkan bahwa ada tiga masalah otot yang paling sering menyerang anak muda zaman sekarang, yaitu kelainan tulang belakang atau skoliosis, sakit pinggang, serta nyeri dan kekakuan pada bahu.
“Itu yang pertama khususnya anak-anak muda ini. Yang pertama itu ada sakit bagian skoliosis. Nah, itu biasanya tulang belakangnya membungkuk atau huruf S. Nah, itu yang pertama. Terus yang kedua biasanya sakit pinggang, ini yang paling banyak. Yang ketiga itu kekakuan pada bahu,” ujar Zulfikar di Samarinda, Minggu.
Skoliosis dan Gaya Hidup Duduk Terlalu Lama
Skoliosis adalah kondisi di mana tulang belakang melengkung membentuk huruf S atau C. Kondisi ini bisa muncul karena kebiasaan duduk yang salah, postur tubuh yang buruk, atau bahkan akibat kebiasaan membawa beban berat di satu sisi tubuh. Dan kabar buruknya, banyak anak muda nggak sadar kalau mereka mengalami gejala awal skoliosis.
Kebanyakan anak muda sekarang punya gaya hidup serba digital. Duduk di depan laptop atau gadget selama berjam-jam udah jadi bagian dari rutinitas harian. Nah, tanpa sadar posisi duduk yang salah bisa memicu ketegangan otot dan membuat tulang belakang terbiasa membungkuk.
Zulfikar bilang, meski terlihat sepele, kebiasaan ini bisa menimbulkan dampak serius kalau dibiarkan terlalu lama. Rasa nyeri di punggung bagian bawah, bahu nggak simetris, atau bahkan rasa cepat lelah bisa jadi tanda-tanda awal skoliosis. Kalau udah parah, butuh terapi jangka panjang buat mengembalikan posisi tulang ke bentuk normal.
Selain itu, skoliosis juga bisa memengaruhi kepercayaan diri. Bayangin aja, postur tubuh yang membungkuk bikin seseorang tampak kurang bersemangat dan nggak tegap. Padahal, tubuh tegap bukan cuma soal penampilan, tapi juga soal kesehatan tulang dan otot yang seimbang.
Sakit Pinggang dan Bahu Kaku, Efek dari Aktivitas Harian
Masalah kedua yang paling sering dialami anak muda adalah sakit pinggang. Zulfikar bilang, ini keluhan yang paling banyak ditemukan. Sakit pinggang bisa muncul karena kurangnya aktivitas fisik, duduk terlalu lama, atau posisi tidur yang salah.
Banyak anak muda yang sekarang kerjanya full di depan komputer. Walau kelihatannya santai, posisi duduk yang sama selama berjam-jam bikin otot pinggang bekerja ekstra tanpa disadari. Apalagi kalau kursinya nggak ergonomis atau meja kerja terlalu tinggi. Akibatnya, bagian punggung bawah jadi cepat pegal, bahkan terasa nyeri saat berdiri atau jalan lama.
Lalu, ada juga masalah kekakuan pada bahu. “Kondisi ini juga sering dialami oleh anak muda yang bekerja di depan laptop,” ujar Zulfikar. Bahu yang terasa nyeri dan kaku biasanya muncul karena otot di bagian belakang tubuh tegang akibat penggunaan berulang dan terus-menerus. Otot yang terlalu sering bekerja bakal menempel satu sama lain dan jadi terlalu aktif, sehingga gerakan tangan pun terbatas.
Kalau kamu sering merasa susah mengangkat tangan ke atas atau leher terasa berat, itu tanda otot bahu lagi protes. Biasanya kondisi ini muncul karena kombinasi antara stres, kurang gerak, dan kebiasaan menunduk saat pakai laptop atau ponsel.
Pentingnya Terapi dan Latihan Fisik
Untuk mengatasi masalah otot ini, menurut Zulfikar, dibutuhkan kombinasi antara alat terapi dan latihan fisik yang rutin. Salah satu alat yang sering digunakan adalah Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). “TENS adalah alat yang bertujuan untuk mengurangi nyeri,” jelasnya. Alat ini bekerja dengan memberikan stimulasi listrik ringan di area yang sakit untuk meredakan rasa nyeri dan membantu otot lebih rileks.
Selain TENS, fisioterapis juga sering menggunakan terapi ultrasound, yaitu gel khusus yang berfungsi memperbaiki jaringan otot yang tegang atau mengalami cedera ringan. Gel ini dipijatkan menggunakan alat ultrasonik yang menghasilkan gelombang frekuensi tinggi, membantu melancarkan sirkulasi darah dan mempercepat proses pemulihan otot.
Tapi, Zulfikar menegaskan bahwa perawatan nggak cukup hanya mengandalkan alat. “Penanganan tidak hanya mengandalkan alat, tetapi juga melibatkan latihan fisik yang penting sebagai penyembuhan,” ujarnya.
Latihan ini bisa berupa stretching sederhana, yoga, atau gerakan stabilisasi tubuh yang diajarkan oleh fisioterapis. Setelah sesi di rumah sakit, pasien biasanya juga diberi latihan lanjutan di rumah supaya otot tetap terlatih dan nggak cepat kaku lagi.
Masalah otot sebenarnya sering muncul dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Misalnya, posisi duduk yang salah, jarang olahraga, tidur di kasur yang terlalu empuk, atau terlalu sering menatap layar gadget tanpa peregangan. Semua hal itu kalau dilakukan terus-menerus bisa bikin tubuh kehilangan keseimbangan otot.
Proses penyembuhan masalah otot nggak instan. Butuh waktu, kesabaran, dan disiplin buat melakukan terapi dan latihan. Tapi hasilnya sepadan, karena tubuh yang sehat bakal bikin kamu lebih produktif, fokus, dan tentunya nyaman buat menjalani aktivitas sehari-hari.
Kesimpulan: Saatnya Anak Muda Lebih Peduli Tubuh Sendiri
Di era digital ini, tubuh sering jadi korban gaya hidup serba cepat. Padahal, menjaga kesehatan otot dan tulang belakang sama pentingnya dengan menjaga kesehatan mental. Mulailah dengan langkah kecil, kayak memperbaiki posisi duduk, rajin stretching tiap beberapa jam, dan nggak lupa olahraga ringan minimal tiga kali seminggu.
Masalah otot bukan cuma dialami orang tua, tapi juga bisa menyerang siapa pun termasuk anak muda aktif yang kelihatannya sehat-sehat aja. Jadi, jangan tunggu sakit baru sadar pentingnya bergerak dengan benar. Tubuh yang kuat dan seimbang bakal jadi modal penting buat menjalani hidup yang dinamis dan produktif.