INVERSI.ID – Warga penyintas bencana di Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur, tetap menunjukkan semangat kebersamaan dengan menggelar pawai obor dan pesta kembang api pada malam takbiran menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Jumat malam.
Kegiatan yang berlangsung di Dusun Rantau Panjang Rubek tersebut diikuti lebih dari seratus warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Meski wilayah itu sempat terdampak banjir pada 26 November 2025, antusiasme masyarakat tidak surut untuk merayakan momen kemenangan usai Ramadan.
Dalam pawai tersebut, warga berjalan menyusuri jalan dusun sambil membawa obor dan melantunkan takbir secara bersama-sama.
“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar. Allahu akbar wa lillaahil hamd”.
Suasana semakin meriah dengan pertunjukan kembang api yang menjadi penutup rangkaian acara malam takbiran.
Bagi warga, kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Usai malam takbiran, masyarakat setempat bersiap melaksanakan salat Idul Fitri di desa mereka.
Sebelumnya, warga juga melaksanakan tradisi Meugang Kecil dengan menyembelih seekor sapi. Daging tersebut kemudian dibagikan kepada 46 kepala keluarga, sementara sisanya dimasak untuk dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan.
Kepala Dusun Rantau Panjang Rubek, Jahidin, menyampaikan bahwa tradisi Meugang tetap dijaga sebagai bagian dari budaya yang mempererat hubungan antarwarga.
Ia menambahkan, meskipun masyarakat masih dalam proses pemulihan pascabencana, semangat kebersamaan tetap menjadi kekuatan utama untuk bangkit.
Menurutnya, tradisi dan kebersamaan yang terus dijaga menjadi modal penting bagi warga untuk saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan, sekaligus mengembalikan kondisi kehidupan seperti sediakala.