INVERSI.ID – Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sedang berada dalam masa yang sangat berat setelah rangkaian bencana alam terjadi hampir bersamaan. Tanah longsor, banjir bandang, dan banjir yang menerjang beberapa wilayah sejak akhir November menyebabkan kerusakan besar, hilangnya harta benda, hingga korban jiwa yang terus bertambah setiap harinya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 85 orang berdasarkan data terakhir yang dirilis Sabtu (29/11) pukul 20.00 WIB.
“Ini data pada Sabtu (29/11) pada pukul 20.00 WIB,” kata Kepala Pelaksana BPBD Agam Rahmat Lasmono di Lubuk Basung, Sabtu.
Laporan tersebut membuat publik semakin menyadari besarnya skala bencana yang sedang dihadapi masyarakat Agam. Dalam beberapa hari terakhir, hujan deras yang berlangsung tanpa henti tidak hanya memicu banjir bandang, tetapi juga menyebabkan sejumlah tebing runtuh dan membawa material longsoran ke permukiman warga. Akibatnya, banyak rumah warga tertimbun, akses jalan terputus, serta jembatan rusak dan tidak dapat dilalui.
Kondisi ini diperparah oleh sulitnya menjangkau beberapa lokasi terdampak. Wilayah perbukitan dan lembah sungai yang menjadi karakter geografis Agam membuat proses pencarian dan evakuasi berjalan lambat. Tim penyelamat harus menghadapi medan yang berat, aliran sungai yang deras, serta cuaca yang masih tidak stabil. Hingga kini, pencarian korban hilang masih berlangsung.
Sebaran Korban Jiwa dan Mereka yang Masih Dicari
Dalam penjelasannya, BPBD Agam menyampaikan detail sebaran korban yang meninggal dunia di lima kecamatan yang terdampak paling parah. Kecamatan Malalak tercatat menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak signifikan akibat banjir bandang yang terjadi di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur. Sebanyak 10 korban ditemukan atas nama Azmal, Kasmawati, Herman, Yusmaniar, Azir, Marnis, Gina, Dina, Aldo, dan Ernawati.
Wilayah berikutnya adalah Kecamatan Tanjung Raya yang mengalami bencana tanah longsor di Ariki, Nagari Dalko. Jumlah korban yang ditemukan sebanyak dua orang atas nama Safarudin, Emninar, Hafizah, dan Sumardi. Rahmat Lasmono juga menambahkan bahwa dua korban di wilayah ini belum teridentifikasi.
Kecamatan Matur juga dilaporkan terkena tanah longsor di Kuok Tigo Koto, Nagari Matua Mudiak. Satu korban atas nama Rajibah ditemukan meninggal dunia. Di Kecamatan Palupuh, ditemukan satu korban atas nama Muhammad Daud.
Sementara itu, Kecamatan Palembayan menjadi wilayah dengan jumlah korban terparah. Banjir bandang yang terjadi di daerah tersebut menelan puluhan korban jiwa. Di Jorong Koto Alam saja, terdapat 22 korban atas nama Rika, Mawar, Manik, Ranti, Aisyah, Sinyur, Erik, Siaih, Siem, Agusri, Khaidir, Revan, Zara, Uci Suna, Kasmawati, Safarudin, Nabila, Iwik, Widya Ningsih, Nalla, Nabila, dan Defrizal.
Di Jorong Sumbarang terdapat 17 korban atas nama Zahara, Iyen, Sidem, Febi, Iseh, Dewi, Aguih, Azam, Iwik, Abibi, Tek Da, Simal, Heru, Mimi, Ratih, dan Sidan. Untuk wilayah Kampuang Tangah, tujuh korban ditemukan atas nama Befriana, Rumi, Asmawati, Jun, Edi Ajo, Bustaman, dan Leni.
Jorong Kampung Tangah Timur mencatat sembilan korban atas nama Memet, Mis, Pelangi, Piak Aluih, Celsi, Alif, Yurboy, Pudin, dan Sarianti. Selain itu, terdapat 12 korban di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, yang hingga kini belum teridentifikasi.
Rahmat Lasmono menyampaikan bahwa hingga saat ini masih ada sekitar 78 orang yang belum ditemukan. “Lima orang hilang berada di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur. Lalu dua orang hilang di Kecamatan Tanjung Raya, dan 69 orang hilang di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan,” katanya.
BPBD menegaskan bahwa pencarian akan dilanjutkan pada Minggu (30/11) pagi dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Basarnas Padang, TNI, Lantamal II Padang, Polri, Damkar Agam, Pol PP Agam, Dinas Sosial Agam, PMI Agam, Kelompok Siaga Bencana, pemerintah kecamatan, pemerintah nagari, hingga relawan dari berbagai komunitas.
“Tim juga mendistribusikan makanan kepada warga yang terisolir dampak banjir bandang, tanah longsor,” tambah Rahmat.
Perjuangan di Lapangan dan Dampak Berkepanjangan bagi Warga
Di balik angka-angka tersebut, terdapat kisah perjuangan dan ketidakpastian yang dialami warga. Banyak keluarga masih menunggu kabar anggota keluarga mereka yang hilang. Mereka berharap setiap proses pencarian membawa kepastian, meski kondisi lapangan tidak selalu memungkinkan. Arus sungai yang kuat, kondisi tanah yang labil, serta lokasi bencana yang tersebar membuat pencarian harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Selain itu, dampak pascabencana juga menjadi tantangan besar. Banyak warga kehilangan rumah, kendaraan, dokumen, dan mata pencaharian. Wilayah-wilayah terdampak kini berubah menjadi hamparan lumpur, reruntuhan bangunan, dan tumpukan material longsoran. Mereka yang selamat harus bertahan di tempat pengungsian sambil menunggu bantuan logistik.
Di sejumlah titik, warga hanya bisa mengandalkan bantuan yang datang dari tim penyelamat dan relawan. Kebutuhan mendesak seperti makanan siap saji, air bersih, pakaian layak, tikar, selimut, hingga obat-obatan masih sangat diperlukan. Merespons kondisi ini, BPBD dan berbagai lembaga kemanusiaan terus berupaya menjangkau wilayah yang masih terisolasi.
Namun melihat skala bencana yang besar, diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk pulih. Jalan-jalan harus diperbaiki, rumah warga harus dibangun kembali, dan dukungan psikologis harus diberikan kepada korban terutama anak-anak dan lansia yang rentan.