INVERSI.ID – Bank Indonesia (BI) resmi bergabung dalam proyek Nexus yang digagas Bank for International Settlements (BIS) sebagai upaya memperkuat konektivitas sistem pembayaran lintas negara.
Dalam proyek ini, BI akan berperan aktif menyiapkan serta mengimplementasikan Nexus bersama lima bank sentral lainnya, yakni Bank Negara Malaysia (BNM), Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), Monetary Authority of Singapore (MAS), Bank of Thailand (BOT), dan Reserve Bank of India (RBI).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keterlibatan Indonesia dalam Nexus merupakan langkah strategis untuk menghadirkan layanan pembayaran antarnegara yang lebih efisien, cepat, dan terjangkau bagi masyarakat maupun pelaku usaha nasional.
“Keikutsertaan Indonesia dalam Nexus merupakan langkah strategis untuk menyediakan solusi pembayaran antarnegara yang efisien dan terjangkau bagi masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia,” ujar Perry dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan, posisi Indonesia sebagai salah satu koridor remitansi terbesar di dunia membuat penguatan sistem pembayaran lintas negara menjadi kebutuhan penting, baik sebagai negara asal pekerja migran maupun sebagai penerima aliran remitansi.
Selain mendukung kebutuhan remitansi, konektivitas pembayaran antarnegara yang semakin terintegrasi juga dinilai mampu memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia dengan negara-negara di kawasan.
Sebagai informasi, proyek Nexus yang diinisiasi BIS sejak 2021 bertujuan meningkatkan kelancaran transaksi lintas negara dengan menghubungkan berbagai sistem pembayaran instan domestik atau instant payment systems (IPS).
Memasuki 2025, proyek tersebut telah berada pada tahap implementasi, yang ditandai dengan pembentukan Nexus Global Payments (NGP) oleh sejumlah bank sentral peserta.
Sebelumnya, BI berpartisipasi sebagai special observer dalam proyek Nexus. Namun kini, BI menyatakan komitmen untuk bergabung secara penuh sebagai anggota dan akan mengembangkan sistem pembayaran instan BI-FAST agar dapat terhubung langsung dengan Nexus.
Interkoneksi antara BI-FAST dan Nexus diharapkan mampu meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara, memperluas keterjangkauan layanan pembayaran, serta mendorong penguatan inklusi keuangan.
BI menegaskan bahwa inisiatif ini tetap memperhatikan kepentingan nasional, termasuk menjaga kedaulatan sistem pembayaran. Proses kliring dan setelmen transaksi domestik dipastikan akan tetap dilakukan di dalam negeri.
Langkah tersebut juga merupakan bagian dari implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 dan sejalan dengan kerangka Regional Payment Connectivity yang disepakati ASEAN pada 2022.
Melalui penguatan konektivitas pembayaran lintas negara, BI berharap tercipta sistem pembayaran yang lebih efisien dan terjangkau, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, inklusi keuangan, serta pembangunan berkelanjutan.
Sinergi antara BI dan NGP juga mendukung agenda reformasi sistem pembayaran lintas negara yang menjadi prioritas G20. Ke depan, BI menegaskan akan terus memperluas jaringan pembayaran antarnegara melalui kolaborasi dengan bank sentral dan otoritas terkait di berbagai yurisdiksi.