JAKARTA, INVERSI – Pemerintah terus memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis melalui pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di wilayah terpencil. Di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, upaya tersebut diwujudkan melalui penetapan 99 titik dapur SPPG yang akan dibangun secara bertahap dengan fokus utama pada daerah-daerah yang sulit dijangkau.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi pembangunan SPPG yang digelar Pemerintah Kabupaten Asmat bersama Satuan Tugas Percepatan Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis pada Senin, 19 Januari 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Asmat ini melibatkan unsur pemerintah daerah, satgas, serta calon investor pelaksana pembangunan.
Wakil Ketua Satgas Percepatan Penyelenggaraan MBG, Muhammad Iqbal Rimosan, menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan memfasilitasi keterlibatan investor untuk membangun dapur SPPG di wilayah Asmat. Menurutnya, proses ini dilakukan setelah Badan Gizi Nasional membuka pendaftaran resmi bagi investor pelaksana.
“Pada hari ini kami bertemu dengan para investor untuk membicarakan persyaratan pembangunan dapur SPPG, termasuk proses dan mekanisme pelaksanaannya. Hal ini penting agar para investor memperoleh informasi yang jelas dan siap bekerja membangun dapur SPPG di Kabupaten Asmat,” ujar Iqbal Rimosan.
Ia menjelaskan bahwa Badan Gizi Nasional telah menetapkan sekitar 99 titik pembangunan dapur SPPG yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Asmat. Penentuan lokasi tersebut mempertimbangkan kebutuhan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dan kelompok rentan, serta kondisi geografis yang selama ini menjadi tantangan utama distribusi layanan gizi.
Pembangunan dapur SPPG di Asmat dinilai strategis karena wilayah ini memiliki karakteristik geografis yang unik, dengan banyak daerah hanya dapat diakses melalui jalur sungai dan transportasi air. Kondisi tersebut membuat penyediaan makanan bergizi membutuhkan sistem pelayanan yang terencana, dekat dengan masyarakat, dan berkelanjutan.
Iqbal menekankan bahwa keterlibatan investor lokal menjadi salah satu perhatian utama dalam program ini. Menurutnya, investor yang berasal dari Kabupaten Asmat memiliki pemahaman lebih baik terhadap kondisi lapangan, budaya setempat, serta tantangan logistik yang dihadapi dalam proses pembangunan.
“Kami berharap investor berasal dari daerah Asmat, sehingga penyelesaian pekerjaan yang ditargetkan kurang lebih 60 hari dapat tercapai tepat waktu, karena mereka menguasai kondisi dan medan geografis wilayah Asmat,” kata Iqbal.
Selain faktor geografis, penggunaan investor lokal juga diharapkan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat. Pembangunan dapur SPPG diyakini dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan perputaran ekonomi lokal, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.
Pemerintah Kabupaten Asmat menyambut baik penetapan 99 titik dapur SPPG tersebut. Program ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam menurunkan angka masalah gizi dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pedalaman yang selama ini sulit terjangkau layanan dasar.
Melalui pembangunan dapur SPPG, pemerintah berharap distribusi makanan bergizi dapat berjalan lebih merata dan tepat sasaran. Kehadiran dapur yang dekat dengan komunitas diharapkan mampu memastikan keberlanjutan pasokan makanan bergizi sekaligus memperkuat ketahanan gizi di wilayah terpencil Papua Selatan.
Ke depan, Satgas MBG bersama Badan Gizi Nasional akan terus melakukan pendampingan dan pengawasan agar pembangunan dapur SPPG di Asmat berjalan sesuai rencana. Pemerintah menegaskan bahwa pemenuhan gizi masyarakat, khususnya di daerah terpencil, merupakan prioritas nasional yang harus diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan.