Inversi Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan klarifikasi terkait beredarnya informasi di media sosial mengenai pengadaan sepeda motor listrik untuk mendukung operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Klarifikasi ini disampaikan guna memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat serta memahami tujuan strategis dari pengadaan tersebut dalam mendukung kelancaran program di berbagai daerah, khususnya wilayah dengan akses terbatas.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengadaan sebanyak 21.801 unit sepeda motor listrik yang diperuntukkan bagi kebutuhan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kendaraan tersebut akan digunakan untuk mendukung distribusi logistik dan mobilitas petugas di lapangan, terutama di daerah yang memiliki tantangan geografis.
Menurut Dadan, pengadaan motor listrik ini telah melalui perencanaan dan penganggaran yang matang pada tahun 2025. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung penggunaan energi ramah lingkungan dalam pelaksanaan program nasional.
“Motor listrik ini akan didistribusikan untuk mendukung operasional SPPG, khususnya di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Dengan kendaraan ini, proses distribusi dan pelayanan kepada masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Adapun sepeda motor listrik yang dibeli berasal dari merek Emmo Electric Mobility Indonesia dengan dua tipe utama, yakni Emmo-JVX GT dan Emmo-JV Max. Tipe Emmo-JVX GT dirancang sebagai motor trail yang mampu menjangkau medan yang lebih berat, sementara Emmo-JV Max merupakan tipe bebek yang lebih cocok untuk penggunaan di wilayah perkotaan maupun semi-perkotaan.
BGN mengungkapkan bahwa harga pembelian kendaraan tersebut berada di kisaran Rp43,3 juta per unit untuk tipe trail dan Rp41,7 juta per unit untuk tipe bebek. Harga tersebut dinilai sebanding dengan spesifikasi, kualitas komponen, serta kebutuhan operasional yang harus dipenuhi di lapangan.
Seiring dengan pengadaan tersebut, muncul informasi di media sosial yang membandingkan motor listrik Emmo dengan produk lain yang dijual di platform perdagangan internasional, seperti Alibaba. Informasi tersebut menyebut adanya kemiripan desain dengan produk lain yang dijual dengan harga lebih rendah.
Menanggapi hal tersebut, Dadan Hindayana menegaskan bahwa produk yang dibeli oleh BGN memiliki spesifikasi dan standar yang berbeda. Ia menjelaskan bahwa perbedaan harga tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan tampilan fisik, melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek teknis, termasuk kualitas baterai, sistem penggerak, serta komponen elektronik lainnya.
“Baterai motor listrik saja memiliki nilai yang cukup tinggi, belum termasuk dinamo, controller, dan komponen pendukung lainnya. Oleh karena itu, perbandingan harga harus dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi tampilan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa merek Emmo merupakan jenama yang dipasarkan secara resmi di Indonesia, sementara produk serupa di pasar internasional dapat menggunakan merek berbeda, seperti Tinbot. Hal ini merupakan praktik umum dalam industri otomotif global, di mana satu produk dapat memiliki berbagai merek sesuai dengan pasar distribusinya.
Sebagai bagian dari klarifikasi, Dadan juga menjelaskan bahwa produk dengan spesifikasi serupa telah dipasarkan di berbagai negara dan bahkan ditampilkan dalam pameran otomotif internasional, seperti Esposizione Internazionale Ciclo Motociclo e Accessori (EICMA) di Milan, Italia. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan telah memenuhi standar global.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta mempertimbangkan kebutuhan operasional di lapangan. Motor listrik tersebut dirancang untuk mendukung mobilitas petugas SPPG dalam menjalankan tugasnya, termasuk distribusi makanan bergizi kepada masyarakat.
Saat ini, seluruh unit motor listrik tersebut masih berada di gudang distributor sebelum didistribusikan secara bertahap ke berbagai wilayah. Proses distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan prioritas kebutuhan, terutama di daerah yang memiliki akses transportasi terbatas.
BGN juga memastikan bahwa pengadaan motor listrik ini hanya dilakukan untuk tahun anggaran 2025 dan tidak direncanakan kembali pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pengadaan tersebut merupakan kebutuhan khusus yang telah dipenuhi untuk mendukung operasional program dalam jangka menengah.
Dalam konteks yang lebih luas, penggunaan kendaraan listrik juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan. Selain mendukung efisiensi operasional, langkah ini juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi dan peningkatan penggunaan energi bersih di sektor publik.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Dengan dukungan sarana operasional yang memadai, diharapkan pelaksanaan program ini dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
BGN menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan program secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat. Klarifikasi yang disampaikan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada publik serta menghindari kesalahpahaman terkait kebijakan yang diambil.
Ke depan, BGN akan terus melakukan evaluasi dan peningkatan dalam berbagai aspek pelaksanaan program, termasuk pemanfaatan teknologi dan sarana pendukung lainnya. Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, Program MBG diharapkan dapat terus memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.