INVERSI.ID – Bank Indonesia (BI) tetap optimistis laju inflasi tahunan pada 2026 dan 2027 akan bergerak menurun dan kembali berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan, meski inflasi pada Januari 2026 tercatat relatif tinggi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) secara tahunan pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen (year on year/yoy). Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di atas target inflasi 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen atau kisaran 1,5–3,5 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa keyakinan bank sentral terhadap penurunan inflasi ke depan didukung oleh konsistensi kebijakan moneter serta kuatnya koordinasi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah.
Optimisme tersebut juga ditopang oleh penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional serta berakhirnya dampak base effect akibat rendahnya inflasi Januari 2025 yang dipengaruhi kebijakan diskon tarif listrik.
Secara bulanan, inflasi Januari 2026 justru mencatat deflasi sebesar 0,15 persen (month to month/mtm). Kondisi ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang masih terkendali serta terjadinya deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices.
Inflasi inti pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,37 persen (mtm), sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,20 persen (mtm). Kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya harga emas global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi inti antara lain emas perhiasan, sewa rumah, dan sepeda motor. Secara tahunan, inflasi inti Januari 2026 tercatat sebesar 2,45 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,38 persen (yoy).
Sementara itu, kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,96 persen (mtm), berbalik arah dari bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 2,74 persen (mtm). Penurunan harga terutama dipicu oleh melimpahnya pasokan cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah pada masa panen.
Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat sebesar 1,14 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 6,21 persen (yoy).
“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” kata Ramdan.
Kelompok administered prices juga mencatat deflasi sebesar 0,32 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,37 persen (mtm). Deflasi ini terutama dipengaruhi oleh penurunan harga bensin, tarif angkutan udara, serta tarif angkutan antarkota seiring turunnya harga BBM nonsubsidi dan normalisasi mobilitas setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru.
Namun secara tahunan, inflasi administered prices tercatat meningkat signifikan menjadi 9,71 persen (yoy), dari bulan sebelumnya sebesar 1,93 persen (yoy). Kenaikan ini terutama dipicu oleh faktor base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen yang berlaku pada Januari–Februari 2025.