Inversi Suasana pagi di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamalate Maccini Sombala, Kota Makassar, selalu dipenuhi aktivitas yang dinamis. Para relawan tampak sibuk menyiapkan bahan makanan, memasak, hingga merapikan wadah makan yang akan didistribusikan kepada para penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di tengah kesibukan tersebut, terdapat satu sosok yang bekerja dengan penuh ketekunan dan semangat, yakni Andi Cesarian (21), seorang pekerja difabel tuna wicara yang kini menjadi bagian penting dalam tim dapur sebagai helper.
Kehadiran Andi di dapur SPPG tidak hanya menjadi simbol kerja keras, tetapi juga mencerminkan semangat inklusivitas dalam pelaksanaan program MBG. Di balik senyumnya yang sederhana, tersimpan kisah perjuangan yang penuh inspirasi.
Sebelum bergabung dengan SPPG, Andi menjalani kehidupan sebagai buruh bangunan, sebuah pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.
Pada masa itu, Andi memperoleh penghasilan sekitar Rp100.000 per hari. Namun, pendapatan tersebut tidak bersifat tetap. Ketika kondisi cuaca tidak mendukung atau proyek pembangunan terhenti, ia tidak mendapatkan penghasilan sama sekali. Situasi ini membuat kondisi ekonominya menjadi tidak stabil, terlebih ia memiliki tanggung jawab untuk membantu keluarga.
Perubahan besar dalam hidup Andi dimulai ketika seorang relawan SPPG, Hasriyanti, melihat potensi yang dimilikinya. Dengan kepedulian dan empati, Hasriyanti mengajak Andi untuk bergabung sebagai relawan di dapur SPPG. Namun, ajakan tersebut tidak langsung diterima. Andi sempat merasa ragu karena belum memahami jenis pekerjaan yang akan dilakukan di dapur.
Keraguan tersebut bukan disebabkan oleh rasa tidak percaya diri, melainkan karena ia melihat aktivitas dapur yang sangat padat dan dinamis. Ia khawatir tidak mampu mengikuti ritme kerja yang ada. Menyadari hal tersebut, Hasriyanti secara perlahan memberikan penjelasan mengenai tugas-tugas di dapur serta meyakinkan bahwa Andi dapat mempelajarinya secara bertahap.
Selain itu, dukungan juga datang dari keluarga Andi yang mendorongnya untuk mencoba kesempatan baru tersebut. Dengan pertimbangan yang matang serta dorongan dari lingkungan terdekat, Andi akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan SPPG sekitar dua bulan yang lalu.
Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam kehidupannya. Meskipun memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi secara verbal, Andi mampu beradaptasi dengan cepat. Ia menggunakan bahasa isyarat sederhana serta gerakan tangan untuk berinteraksi dengan rekan-rekannya. Lingkungan kerja yang inklusif dan penuh pengertian membuat proses adaptasi berjalan dengan lancar.
Rekan-rekan kerja Andi di dapur SPPG juga menunjukkan sikap yang terbuka dan suportif. Mereka berupaya memahami cara komunikasi Andi, sehingga tercipta kerja sama yang harmonis. Kondisi ini mencerminkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang dalam bekerja, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya dinamika tim.
Dalam kesehariannya, Andi terlibat dalam berbagai aktivitas dapur, mulai dari membantu persiapan bahan makanan, membersihkan peralatan, hingga memastikan kelancaran proses distribusi makanan. Ia menjalankan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab dan ketelitian.
Lebih dari sekadar pekerjaan, Andi merasakan bahwa dapur SPPG telah menjadi ruang yang memberikan rasa aman dan penerimaan. Melalui bahasa isyarat, ia menyampaikan bahwa dirinya merasa senang dan nyaman bekerja di lingkungan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang inklusif memiliki peran penting dalam meningkatkan kepercayaan diri individu difabel.
Dari sisi ekonomi, pekerjaan di SPPG juga memberikan perubahan yang signifikan. Saat ini, Andi memperoleh penghasilan sekitar Rp110.000 per hari dengan sistem pembayaran setiap dua minggu. Meskipun secara nominal tidak jauh berbeda dari pekerjaan sebelumnya, kepastian pendapatan menjadi nilai tambah yang sangat berarti.
Pendapatan yang stabil memungkinkan Andi untuk membantu kebutuhan keluarga secara lebih konsisten. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan ayah yang bekerja sebagai penjual burung keliling. Dalam kondisi tersebut, kontribusi Andi menjadi sangat penting dalam mendukung perekonomian keluarga.
Sebagian penghasilan yang diperoleh juga digunakan untuk kebutuhan pribadi, termasuk mencicil kendaraan bermotor yang menunjang mobilitasnya. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemandirian secara finansial, yang sebelumnya sulit dicapai ketika ia masih bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Kisah Andi menjadi bukti nyata bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja bagi berbagai kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Program ini secara tidak langsung mendorong terciptanya lapangan kerja yang inklusif dan berkeadilan.
Lebih jauh, keberadaan relawan seperti Andi menunjukkan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkontribusi, terlepas dari keterbatasan yang dimiliki. Dengan dukungan lingkungan yang tepat, potensi tersebut dapat berkembang secara optimal.
Program MBG melalui SPPG tidak hanya berperan sebagai penyedia makanan bergizi, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan berbagai elemen, mulai dari relawan, tenaga dapur, hingga pelaku UMKM, menciptakan ekosistem yang saling mendukung dan berkelanjutan.
Kisah Andi juga memberikan pesan penting mengenai pentingnya inklusivitas dalam pembangunan. Kesempatan yang setara bagi semua individu, termasuk penyandang disabilitas, merupakan bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.
Dengan semangat kerja keras, ketekunan, dan dukungan dari lingkungan sekitar, Andi telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Ia kini tidak hanya memiliki penghasilan yang lebih pasti, tetapi juga harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
Program MBG, melalui pendekatan yang inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan, diharapkan dapat terus memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Kisah seperti Andi menjadi inspirasi bahwa perubahan positif dapat dimulai dari kesempatan kecil yang diberikan dengan ketulusan