Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana (Universitas Indonesia) menekankan bahwa kepercayaan diri remaja dapat ditumbuhkan dengan menguatkan fokus pada diri sendiri dan merawat diri melalui kebiasaan hidup sehat. Menurutnya, banyak remaja yang merasa “berbeda” atau sulit bergaul lalu menilai dirinya lebih negatif daripada realitasnya.
Mulai dari Apa yang Sudah Ada
Vera menyarankan remaja untuk menyoroti kekuatan pribadi—bukan kekurangan.
- Catat hal-hal kecil yang bisa dibanggakan: ketekunan, kesabaran, kepedulian, kemauan belajar.
- Ikuti aktivitas positif atau komunitas sesuai minat agar jejaring pertemanan tumbuh tanpa tekanan.
- Latih keberanian sosial bertahap: menyapa lebih dulu, memberi apresiasi sederhana, ikut diskusi ringan.
- Hentikan kebiasaan membandingkan diri. Setiap orang punya ritme tumbuh yang berbeda.
Peran Gaya Hidup Sehat
Perawatan diri bukan soal penampilan semata, melainkan pondasi suasana hati dan rasa percaya diri:
- Tidur cukup agar emosi lebih stabil.
- Makan bergizi seimbang untuk energi dan konsentrasi.
- Aktivitas fisik teratur (jalan cepat, olahraga favorit) untuk memperbaiki mood dan citra diri.
Intinya, ketika tubuh dirawat, pikiran dan emosi pun lebih siap menghadapi tantangan sosial.
Lingkungan Aman bagi Remaja
KPAI mendorong sejumlah langkah preventif—mulai deteksi dini, dukungan psikososial di sekolah, hingga penguatan regulasi dan prosedur penanganan kekerasan—sebagai upaya mencegah paparan paham ekstrem pada anak.
Komisioner KPAI Aris Adi Leksono menyampaikan keprihatinan atas insiden ledakan yang diduga berasal dari rakitan bahan peledak di SMAN 72 Jakarta dan melibatkan seorang peserta didik. Peristiwa tersebut menjadi alarm penting untuk membangun budaya sekolah yang ramah anak dan anti-kekerasan.
Panduan Ringkas untuk Orang Tua & Sekolah
- Validasi perasaan remaja: dengarkan tanpa menghakimi, bantu menamai emosi mereka.
- Bangun rutinitas sehat: jam tidur, waktu belajar, jeda digital, dan olahraga ringan.
- Ciptakan ruang aman di rumah/sekolah: tempat bercerita, konseling, dan peer support.
- Literasi digital: ajari memilah informasi serta menghadapi perundungan daring.
- Kolaborasi berkelanjutan: guru, konselor, orang tua, dan komunitas bekerja bersama.