Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana mendorong para remaja untuk melek emosi (emotional awareness) agar lebih mudah menata langkah hidup. Menurut lulusan Universitas Indonesia itu, ketika remaja memahami emosi dan nilai pribadi, keputusan-keputusan penting—dari pertemanan, belajar, hingga karier—akan terasa lebih selaras dengan diri mereka.
Vera menilai ajakan ini penting karena masa remaja sering diwarnai gejolak perasaan yang datang dan pergi. Dengan mengenali pola emosi, remaja bisa mengelola reaksi dengan lebih sehat, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat.
Cara Praktis Melatih Kesadaran Emosi
- Amati perasaan & pemicunya. Catat kapan kamu merasa senang, marah, kecewa, atau takut—serta apa yang memicu itu.
- Tulis jurnal harian. Menuliskan pikiran dan perasaan membantu memberi jarak, sehingga lebih mudah dianalisis.
- Refleksi nilai & minat. Apa yang penting buatmu? Apa yang bikin kamu antusias?
- Terima ketidaksempurnaan. Tidak perlu selalu sempurna untuk bisa diterima—kemajuan kecil tetap berarti.
- Minta dukungan. Bila butuh bantuan, temui orang tua, guru BK, atau orang dewasa tepercaya yang peduli.
Konteks Sekolah: Pencegahan Kekerasan & Ekstremisme
KPAI sebelumnya merekomendasikan langkah-langkah pencegahan di lingkungan pendidikan: deteksi dini, penguatan dukungan psikososial di sekolah, serta regulasi dan prosedur penanganan kekerasan yang lebih kuat.
Komisioner KPAI Klaster Pendidikan, Waktu Luang, dan Budaya Aris Adi Leksono menyampaikan keprihatinan atas ledakan di SMAN 72 Jakarta, Selasa (11/11). Peristiwa itu melibatkan seorang peserta didik sebagai terduga pelaku dan menjadi pengingat bahwa budaya sekolah ramah anak dan antikekerasan masih perlu diperkuat.
Pemantauan awal mengindikasikan adanya perubahan perilaku pada terduga pelaku dalam beberapa bulan terakhir—lebih tertutup dan kerap mengakses konten bernada radikal di platform digital. Motif diduga merupakan kombinasi emosi pribadi yang tak terkendali dan internalisasi narasi ekstrem dari ruang digital yang memengaruhi cara berpikirnya.
Peran Bersama: Remaja, Sekolah, dan Orang Tua
- Remaja: belajar membaca emosi, mengelola stres, dan mencari bantuan saat diperlukan.
- Sekolah: sediakan layanan konseling yang mudah diakses, program literasi digital, serta budaya anti-bullying yang konsisten.
- Orang tua: bangun komunikasi dua arah, validasi perasaan anak, dan pantau penggunaan gawai tanpa menginvasi privasi.
Dengan dukungan berlapis—keluarga, sekolah, dan komunitas—remaja dapat tumbuh sebagai pribadi yang tangguh secara emosi, mampu mengambil keputusan sehat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.