By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Dari Insecure Jadi Inspirasi, Kisah Asti Surya Hadapi Era Gen Z
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Dari Insecure Jadi Inspirasi, Kisah Asti Surya Hadapi Era Gen Z

LifeStyle

Dari Insecure Jadi Inspirasi, Kisah Asti Surya Hadapi Era Gen Z

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Di tengah laju pesat dunia digital dan industri kreatif yang kini banyak diisi oleh generasi muda, muncul dinamika baru yang kadang bikin generasi sebelumnya merasa tertinggal. Hal inilah yang sempat dirasakan oleh desainer sekaligus Creative Director ASTISURYA, Asti Surya. Dalam perjalanan kariernya yang sudah lebih dari satu dekade di dunia mode, ia mengakui pernah merasa insecure melihat kemampuan Gen Z yang begitu cepat beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Contents
Dari Insecure ke Inspirasi: Belajar Menerima dan BeradaptasiPesan Asti untuk Generasi Muda: Jangan Kebanyakan Mikir, Langsung Coba Aja

Fenomena ini bukan hal asing di industri kreatif. Setiap tahun, wajah baru bermunculan dengan ide-ide segar, gaya berpikir yang out of the box, dan pemahaman digital yang mumpuni. Sementara bagi generasi yang lebih dulu meniti karier, perubahan cepat ini terkadang terasa menantang, bahkan memunculkan rasa ragu pada kemampuan diri sendiri.

“Ada banget perasaan insecure sama generasi muda. Apalagi Gen Z itu canggih banget. Mereka pintar sekali membuat konsep, lebih mengerti soal visual presentation,” jelas Asti dalam acara POND’S Age Miracle & JFW “The Revival of Miracles” di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).

Keterusterangan Asti menggambarkan realitas yang banyak dirasakan para profesional di berbagai bidang. Di era ketika teknologi dan tren digital bergerak begitu cepat, kemampuan beradaptasi menjadi ujian utama. Asti melihat, Gen Z punya keunggulan besar dalam hal kreativitas dan pemahaman teknologi—dua hal yang kini jadi kunci sukses di industri fesyen.


Dari Insecure ke Inspirasi: Belajar Menerima dan Beradaptasi

Asti tak menampik bahwa pada awalnya ia merasa tertinggal. Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia mode, ia sempat merasa tidak cukup cepat mengikuti arus perubahan digital yang begitu deras.

“Para Gen Z ini juga lebih mengerti tentang bagaimana internet bekerja di era sekarang ini dibandingkan dengan generasiku yang milenial,” ujarnya.

Namun, titik balik datang ketika ia menyadari bahwa setiap generasi punya kekuatannya sendiri. Daripada menolak perubahan, Asti memilih untuk membuka diri dan belajar dari generasi muda. Ia mengubah rasa insecure menjadi motivasi untuk terus tumbuh dan beradaptasi.

“Tapi pelan-pelan menerima hal-hal kebaruan tersebut dan mau belajar. Itu bikin aku lebih lega daripada menolak kebaruan yang asanya ada pertentangan,” katanya.

Bagi Asti, membuka diri terhadap perkembangan baru justru memberikan rasa tenang. Dunia fesyen terus berevolusi—dari tren, teknologi, hingga cara berkomunikasi dengan audiens. Dengan menerima perubahan itu, ia merasa lebih seimbang, lebih ajeg, dan kembali menemukan ritme dalam berkarya.

Baca Juga :

Daftar Juara Ganda Putra Indonesia di All England dari Masa ke Masa
Resep dan Cara Memasak Orak Arik Telur Dicampur Wortel dan Kol

“Ketika kita menerima perbedaan itu, secara tidak langsung kita seperti membuka diri dan tubuh seluas-luasnya, lebih ajeg rasanya,” tambahnya.

Sikap terbuka inilah yang kemudian menjadi kunci bagi Asti untuk bertahan di tengah perubahan industri yang begitu cepat. Ia tak lagi melihat perbedaan generasi sebagai jurang, tapi sebagai peluang untuk saling melengkapi. Menurutnya, kolaborasi lintas generasi adalah cara paling sehat untuk memastikan keberlanjutan industri kreatif, karena setiap generasi membawa energi dan perspektif yang unik.

Asti juga percaya, adaptasi bukan soal siapa yang lebih muda atau lebih tua, tapi soal siapa yang mau belajar. Rasa ingin tahu menjadi bahan bakar untuk terus relevan.

“Aku belajar banyak dari cara Gen Z bekerja. Mereka spontan, berani mencoba, dan nggak takut salah. Itu energi yang luar biasa,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.


Pesan Asti untuk Generasi Muda: Jangan Kebanyakan Mikir, Langsung Coba Aja

Meski sempat merasa insecure terhadap Gen Z, Asti justru mengagumi semangat dan keberanian mereka dalam berkarya. Sejak menapaki dunia mode pada 2009, ia sudah melihat bagaimana industri ini berubah berkali-kali. Namun, satu hal yang tetap relevan, menurutnya, adalah pentingnya mengambil langkah pertama tanpa terlalu banyak overthinking.

“Saranku untuk generasi muda yaitu jangan banyak dipikirin. Kalo mau melakukan sesuatu, jangan ragu dan coba dilakukan saja,” ujarnya.

Bagi Asti, terlalu banyak berpikir hanya akan membuat seseorang kehilangan momentum. Dunia kreatif menuntut keberanian untuk bereksperimen. Ide yang bagus sekalipun tidak akan berarti apa-apa jika tidak dieksekusi.

“Sebab, kalau bergulat dengan pemikiran kita sendiri, rasanya tidak akan ada habisnya dan akan terus tertunda. Jadi coba lakukan saja,” tegasnya.

Nasihat sederhana ini sejalan dengan filosofi yang kini banyak dipegang oleh generasi kreatif: done is better than perfect. Dalam dunia yang serba cepat, kecepatan bereaksi terhadap peluang kadang lebih penting daripada kesempurnaan di atas kertas.

Kini, Asti memandang hubungan antara generasi milenial dan Gen Z bukan lagi sebagai kompetisi, melainkan kolaborasi. Ia belajar dari energi muda yang spontan dan penuh ide, sementara pengalaman yang ia miliki menjadi pondasi untuk memberi perspektif yang lebih matang dalam setiap proses kreatif.

“Kalau dulu aku merasa insecure, sekarang aku justru banyak belajar dari mereka,” ungkapnya.

Bagi Asti, bekerja bersama generasi muda adalah cara untuk tetap relevan dan terus berkembang, sekaligus berbagi pengalaman yang ia peroleh selama bertahun-tahun di industri fesyen.

Perjalanan Asti menunjukkan bahwa rasa insecure bukanlah akhir dari segalanya, justru bisa menjadi awal dari pembelajaran baru. Ia berhasil mengubah ketakutan menjadi dorongan, membuktikan bahwa dunia mode bukan tempat untuk saling menjatuhkan, tapi ruang untuk saling menginspirasi.

Industri fesyen Indonesia kini dipenuhi kolaborasi lintas generasi—dari desainer muda dengan ide brilian hingga figur berpengalaman yang paham karakter pasar. Dan di tengah dinamika itu, sosok seperti Asti Surya menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap perubahan adalah kunci untuk tetap bertahan dan bersinar.

Kisah Asti Surya menjadi refleksi bagi banyak orang yang merasa tertinggal di tengah cepatnya perubahan zaman. Dunia kreatif memang bergerak cepat, tapi adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri. Justru di situlah letak kekuatan sebenarnya—kemampuan untuk menerima, belajar, dan berkembang tanpa harus merasa tersisih.

Dari perasaan insecure, Asti menemukan keseimbangan baru dalam berkarya. Ia belajar dari generasi muda tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Dalam dunia mode yang kompetitif, cara pandang seperti ini bukan hanya membuatnya tetap relevan, tapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus beradaptasi dengan hati terbuka.

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:gen zinspiratif
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Polemik KJMU Tahap II, DPRD dan Disdik Cari Solusi agar Mahasiswa Tak Putus Kuliah
Next Article Cerita Ringgo Agus Rahman Soal Kekhawatiran Orang Tua Melepas Anak Kuliah
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

1 week ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index