JAKARTA – Momen sederhana saat Presiden Prabowo Subianto berpose “finger heart” bersama Carmen, anggota K-Pop asal Indonesia dari grup Hearts2Hearts, ternyata memiliki makna lebih besar dari sekadar foto kenegaraan. Banyak pengamat menilai pertemuan tersebut mencerminkan kuatnya diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan yang semakin erat melalui gelombang K-Pop.
Dalam jamuan kenegaraan di Blue House, Seoul, Rabu (1/4), Prabowo tampak tersenyum bersama Carmen dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, sambil memperagakan simbol jari hati yang populer di kalangan idola K-Pop dan penggemarnya. Kehadiran Carmen sebagai tamu negara menjadi simbol menarik bagaimana budaya pop Korea kini menjembatani hubungan antarbangsa.
Carmen, yang memiliki nama lengkap Nyoman Ayu Carmenita, merupakan idol asal Indonesia yang debut bersama girl group Hearts2Hearts di bawah agensi raksasa SM Entertainment pada 2025. Carmen sebenarnya bukan satu-satunya talenta Indonesia yang menembus industri K-Pop. Sebelumnya sudah ada beberapa nama yang membuka jalan bagi artis Indonesia di industri hiburan Korea.
Salah satu yang paling dikenal adalah Dita Karang, anggota girl group Secret Number, yang debut pada 2020 dan menjadi salah satu idol Indonesia paling populer di Korea. Selain itu ada juga Vanya dari Z-Girls yang debut pada 2019 sebagai bagian dari proyek grup global.
Kehadiran para idol ini menunjukkan bahwa pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi penggemar K-Pop di seluruh dunia.
K-Pop: Senjata Soft Power Korea Selatan
Fenomena ini tidak lepas dari strategi Korea Selatan yang menjadikan budaya pop sebagai alat diplomasi global atau soft power. Pemerintah Korea secara aktif mendorong ekspor budaya—mulai dari K-Pop, drama, film, hingga kuliner—sebagai cara memperkuat pengaruh internasional negara tersebut.
Gelombang budaya Korea atau Hallyu bahkan menjadi sektor ekonomi dan diplomasi yang terus berkembang. Industri budaya Korea bernilai miliaran dolar dan didukung langsung oleh pemerintah untuk memperluas pengaruh global negara itu.
K-Pop sendiri menjadi salah satu ujung tombak diplomasi tersebut. Grup seperti BTS bahkan disebut sebagai simbol soft power Korea karena mampu meningkatkan citra negara sekaligus mempererat hubungan dengan berbagai negara melalui musik dan budaya populer.
Melalui fenomena ini, diplomasi antarnegara tidak lagi hanya dilakukan melalui perjanjian ekonomi atau politik, tetapi juga lewat koneksi budaya yang lebih emosional.
Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar K-Pop di dunia. Kehadiran idol asal Indonesia seperti Carmen dan Dita membuat hubungan budaya antara kedua negara semakin terasa dekat.
Pertemuan Prabowo dengan Carmen pun menjadi simbol bahwa budaya populer kini turut memainkan peran dalam hubungan bilateral Indonesia–Korea Selatan.
Di tengah kerja sama strategis kedua negara yang terus berkembang, diplomasi budaya seperti ini diyakini mampu mendekatkan masyarakat kedua negara sekaligus memperkuat hubungan jangka panjang, —bukan hanya di level pemerintah, tetapi juga di hati generasi muda.