INVERSI.ID – Pikun dini atau demensia, yang sebelumnya identik dengan usia lanjut, kini semakin banyak ditemukan pada generasi milenial dan Gen Z. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 10 juta kasus demensia baru terjadi setiap tahun di seluruh dunia.
Meskipun mayoritas menyerang kelompok lansia, semakin banyak individu berusia 20 hingga 40 tahun yang mulai terdampak. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait kesehatan otak generasi muda.
Demensia dini adalah gangguan neurodegeneratif yang mengganggu fungsi memori, perhatian, dan kemampuan berpikir. Sayangnya, gejala awal sering diabaikan karena dianggap sebagai akibat stres atau kelelahan biasa. Padahal, tanpa penanganan, kondisi ini dapat berkembang lebih parah seiring waktu.
Apa Itu Neurodegeneratif?
Neurodegeneratif merujuk pada kerusakan progresif sel-sel saraf di otak. Penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, dan berbagai jenis demensia lainnya masuk dalam kategori ini. WHO menekankan pentingnya deteksi dini karena gejala awal demensia seringkali tidak kentara.
Mengapa Kasus Demensia Dini Meningkat pada Anak Muda?
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus demensia dini di kalangan usia muda terus meningkat. Gaya hidup tidak sehat, stres kronis, dan kurang tidur menjadi faktor utama pemicu gangguan ini.
Menurut laporan Alzheimer’s Research UK, lebih dari 70.800 orang di Inggris hidup dengan demensia dini, sebagian besar di antaranya masih berusia muda. Gejala seperti lupa nama, sering salah meletakkan barang, atau kesulitan berkonsentrasi sering dianggap remeh, padahal bisa menjadi tanda awal penurunan fungsi otak.