By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Dilema Pelestarian Budaya dan Pariwisata di Jogja
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Dilema Pelestarian Budaya dan Pariwisata di Jogja

LifeStyle

Dilema Pelestarian Budaya dan Pariwisata di Jogja

Natio
By
Natio
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Follow:
1 year ago
Share
3 Min Read
SHARE

inversi.id – Yogyakarta, atau akrab disebut Jogja, dikenal sebagai kota yang kaya akan warisan budaya dan menjadi destinasi wisata populer. Namun, di balik pesona tersebut, terdapat dilema antara upaya pelestarian budaya dan eksplorasi pariwisata yang kian berkembang, terutama dengan hadirnya teknologi modern.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, putri Kraton Jogja, dalam seminar “Kolaborasi Budaya dan Teknologi dalam Tantangan Pengembangan Pariwisata” yang diselenggarakan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) di Yogyakarta, mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara “budaya berwisata” dan “wisata berbasis budaya”. Generasi milenial dan Gen Z cenderung menjadikan wisata sebagai bagian dari gaya hidup mereka, namun kurang mendalami aspek budaya dalam perjalanan mereka.

Perdebatan antara praktisi budaya yang fokus pada pelestarian dan praktisi pariwisata yang berorientasi pada peningkatan ekonomi menjadi semakin nyata. GKR Bendara menekankan bahwa meskipun kedua perspektif ini valid, diperlukan keseimbangan agar keduanya dapat saling mendukung. Sebagai contoh, sebuah lukisan akan memiliki nilai lebih jika dipamerkan dan dikaji sejarahnya, sehingga menarik minat publik dan menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk pelestarian karya seni lainnya.

Namun, upaya memadukan budaya dengan teknologi tidak selalu berjalan mulus. Kraton Jogja pernah mengunggah video tarian sakral Bedhaya Semang ke YouTube dengan tujuan edukasi. Sayangnya, hal ini malah memicu penafsiran yang keliru, seperti penampilan tarian tersebut secara tidak tepat oleh siswa sekolah dasar. Akibatnya, Kraton memutuskan untuk menarik video tersebut demi menjaga kesakralan tarian.

Selain itu, tawaran untuk memfilmkan sejarah Kraton Jogja seringkali menghadapi tantangan dalam penyajian narasi yang utuh dan akurat. GKR Bendara mencontohkan perbedaan penafsiran mengenai penampilan Pangeran Diponegoro antara sumber-sumber populer dan manuskrip asli Kraton. Hal ini menunjukkan pentingnya keterlibatan langsung praktisi budaya dalam proses kreatif untuk memastikan keaslian dan penghormatan terhadap warisan budaya.

GKR Bendara menyimpulkan bahwa kunci utama adalah keseimbangan antara pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan pemanfaatan teknologi. Budaya sakral sebaiknya dilestarikan oleh komunitas internal, sementara kearifan lokal yang bersifat pertunjukan dapat dipromosikan melalui teknologi dengan tetap menjaga nilai-nilai luhur. Kreativitas individu juga harus disertai penegasan bahwa karya tersebut merupakan interpretasi pribadi, bukan representasi resmi budaya, untuk menghindari kesalahpahaman.

“Tidak semua budaya adalah produk pariwisata, dan tidak semua pariwisata adalah produk budaya. Namun, tanpa pariwisata, pelestarian budaya tidak bisa maksimal,” ujar GKR Bendara. Oleh karena itu, eksplorasi dan promosi budaya serta kearifan lokal harus dilakukan dengan hati-hati, menjaga nilai sakral dan keagungannya.

Dilema ini mengingatkan kita akan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak untuk memastikan bahwa perkembangan pariwisata tidak mengorbankan identitas budaya yang menjadi jiwa dari Jogja itu sendiri.

You Might Also Like

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo
TAGGED:BudayaJogja
Share This Article
Facebook Email Print
Share
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Follow:
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Previous Article Keragaman Budaya Kuatkan Identitas Nasional Indonesia
Next Article Destinasi Staycation di Tengah Syahdunya Hutan Pinus Subang
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
LifeStyleTerkini

Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index