INVERSI.ID – Beberapa tahun terakhir, thrifting udah jadi bagian dari gaya hidup banyak anak muda Indonesia. Tren ini bukan cuma soal cari baju keren dengan harga miring, tapi juga bentuk ekspresi diri dan gaya hidup berkelanjutan. Berburu pakaian bekas impor di pasar, toko online, sampai bazar vintage jadi aktivitas seru yang rasanya sayang kalau dilewatkan.
Tapi di balik euforia mencari “harta karun” fashion itu, ada sisi lain yang jarang disadari banyak orang: risiko kesehatan yang bisa mengintai. Nggak cuma soal bau apek atau debu, tapi juga kemungkinan paparan bakteri dan virus dari pakaian bekas yang nggak dicuci dengan benar.
Dokter spesialis kulit lulusan Universitas Hasanuddin, dr Fransiskus Xaverius Clinton SpDVE, menegaskan bahwa risiko ini nyata.
“Memakai baju thrifting langsung itu bahaya sekali, apalagi kalau tidak diproses dulu,” ujar dr. Clinton dalam temu media di Jakarta, Kamis (30/10), dikutip dari Antara.
Pakaian Bekas Bisa Jadi Sarang Virus dan Bakteri
Menurut dr. Clinton, pakaian yang sudah lama disimpan atau ditumpuk, terutama di tempat lembap, bisa menjadi tempat berkembang biaknya virus dan bakteri. Beberapa mikroorganisme bahkan mampu bertahan hidup di serat kain selama berhari-hari.
Salah satunya adalah virus Molluscum contagiosum, yang dapat bertahan di kain hingga lebih dari 48 jam. Virus ini bisa menular lewat kontak langsung dengan kulit atau benda yang terkontaminasi, termasuk pakaian.
“Masalahnya, kita tidak tahu sudah berapa lama virus itu bersarang di dalam baju bekas yang kita beli,” jelasnya.
Infeksi dari virus ini biasanya ditandai dengan munculnya bintik-bintik kecil di kulit, mirip jerawat atau lenting, dan membutuhkan penanganan medis. Kalau diabaikan, infeksinya bisa menyebar ke area tubuh lain atau bahkan ke orang lain melalui kontak kulit.
Karena itu, Clinton menegaskan pentingnya mencuci pakaian bekas sebelum digunakan.
“Kalau bisa, gunakan air mendidih agar virusnya benar-benar mati,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar setiap baju thrift direndam sekitar 30 menit dalam air bersuhu lebih dari 40 derajat Celsius sebelum dicuci pakai detergen.
Menurutnya, langkah sederhana ini bisa mengurangi risiko paparan mikroorganisme berbahaya yang menempel pada serat kain. “Proses mencuci ini sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif, riwayat penyakit kulit seperti eksim, atau luka terbuka,” tambahnya.
Selain virus, pakaian bekas juga bisa membawa jamur, tungau, atau sisa bahan kimia dari proses pencucian atau penyimpanan sebelumnya. Buat yang sering mengalami gatal-gatal setelah memakai baju thrift, itu bisa jadi tanda bahwa ada reaksi alergi atau iritasi dari sisa kontaminan yang belum benar-benar hilang.
Kulit Sensitif Lebih Berisiko
Clinton juga menegaskan bahwa semua orang berpotensi terkena infeksi dari pakaian bekas, tapi risikonya jauh lebih tinggi bagi mereka dengan kulit sensitif atau pelindung kulit yang lemah.
“Baik kulit yang sehat maupun yang sensitif tetap harus berhati-hati. Tapi kalau lapisan pelindung kulitnya tidak bagus, risikonya jauh lebih tinggi,” katanya.
Orang dengan kondisi kulit tertentu seperti dermatitis, psoriasis, atau eksim punya lapisan kulit yang lebih rentan. Saat bersentuhan dengan kain yang kotor atau mengandung bahan kimia, kulit bisa langsung meradang atau terinfeksi. Karena itu, penting untuk mencuci semua pakaian bekas—baik yang terlihat bersih maupun tidak—sebelum dipakai.
Selain mencuci, ada beberapa langkah tambahan yang bisa dilakukan biar lebih aman. Setelah mencuci, keringkan baju di bawah sinar matahari langsung, karena sinar UV alami bisa membantu membunuh sisa mikroorganisme yang mungkin masih menempel. Kalau perlu, setrika pakaian dengan suhu tinggi agar kain benar-benar steril.
Untuk kamu yang punya kulit sensitif, sebaiknya gunakan detergen yang lembut atau bebas pewangi agar nggak menimbulkan reaksi alergi. Jangan lupa juga untuk mencuci tangan setelah menyentuh atau memilah baju thrift yang baru dibeli. Kelihatannya sepele, tapi kebiasaan ini bisa mencegah paparan bakteri dari permukaan kain.
Tren thrifting memang bikin gaya makin keren dan dompet aman, tapi jangan sampai kesehatan dikorbankan. Langkah kecil seperti mencuci dan menjemur dengan benar bisa jadi tameng penting dari berbagai masalah kulit.
Thrifting Tetap Aman Asal Tahu Caranya
Thrifting pada dasarnya bukan hal buruk. Justru, di tengah kesadaran global soal sustainability, gaya ini dianggap ramah lingkungan karena membantu mengurangi limbah tekstil. Tapi biar tetap aman, ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan saat berburu barang bekas:
- Perhatikan kebersihan tempat thrift. Hindari membeli di tempat yang terlihat lembap, berdebu, atau bau menyengat. Kondisi seperti itu bisa jadi indikator kalau pakaian disimpan tanpa sirkulasi udara yang baik.
- Periksa kondisi pakaian. Pastikan nggak ada noda mencurigakan, jamur, atau bagian kain yang terlalu lembek karena bisa menandakan adanya kontaminasi.
- Cuci secepatnya setelah dibeli. Jangan menumpuk pakaian thrift di kamar tanpa dicuci. Semakin lama disimpan tanpa dibersihkan, semakin besar kemungkinan bakteri berkembang.
- Gunakan air panas dan detergen. Suhu tinggi membantu membunuh mikroorganisme, sedangkan detergen berfungsi mengangkat kotoran dan minyak yang bisa jadi tempat bakteri bersarang.
- Keringkan maksimal. Pastikan baju benar-benar kering sebelum disimpan agar jamur tidak tumbuh di serat kain.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, thrifting tetap bisa jadi kegiatan yang seru, aman, dan berkelanjutan. Kamu tetap bisa tampil stylish tanpa mengorbankan kesehatan kulit.
“Selalu cuci pakaian bekas sebelum digunakan. Langkah sederhana ini bisa menjadi perlindungan efektif terhadap berbagai penyakit kulit,” tutup Dr. Clinton.
Buat para pecinta thrift, pesan itu bisa jadi pengingat bahwa gaya dan kesehatan harus berjalan beriringan. Karena seunik apapun outfit hasil hunting-mu, nggak akan berarti kalau malah bikin kulit bermasalah.