INVERSI.ID – Perubahan mindset anak muda menjadi topik yang semakin relevan di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi. Dalam dunia yang terus berubah dengan cepat, generasi muda dituntut memiliki cara berpikir yang adaptif, kreatif, dan visioner agar mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus menciptakan peluang baru.
Hal inilah yang ditekankan oleh Baharuddin Simamora, seorang tenaga pendidik asal Tapanuli Tengah (Tapteng), dalam acara Spada Pro2 RRI Sibolga pada Minggu (19/10/2025). Ia menegaskan bahwa perubahan pola pikir di kalangan generasi muda merupakan kunci utama untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
“Banyak anak muda masih terjebak pada pola pikir lama, seperti takut gagal atau terlalu bergantung pada lapangan kerja formal,” ujar Baharuddin. Menurutnya, pola pikir generasi muda harus diarahkan pada kemandirian, keberanian mengambil risiko, serta keinginan kuat untuk terus belajar dari setiap pengalaman.
Pola Pikir Lama yang Menghambat Kemajuan
Dalam penjelasannya, Baharuddin menyoroti bahwa banyak anak muda masih berpikir bahwa kesuksesan hanya bisa diraih melalui jalur konvensional seperti bekerja di kantor atau menjadi pegawai tetap. Pandangan seperti ini, menurutnya, sudah tidak lagi relevan di era digital yang menawarkan beragam peluang baru di dunia wirausaha, ekonomi kreatif, hingga teknologi.
“Rasa takut gagal menjadi penghambat utama anak muda untuk berkembang,” katanya.
“Padahal kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar. Dari kegagalan, seseorang bisa menemukan arah yang tepat untuk melangkah lebih jauh.”
Ia menilai bahwa mentalitas positif generasi muda tidak bisa dibentuk dalam semalam. Dibutuhkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemampuan berpikir kritis. Pendidikan seharusnya menjadi ruang bagi siswa untuk berani berinovasi, berpendapat, dan menemukan potensi dirinya.
Pendidikan dan Keluarga, Dua Pilar Penting dalam Pembentukan Mindset
Baharuddin menegaskan bahwa peran pendidikan dan keluarga sangat penting dalam membentuk cara berpikir anak muda. Sekolah, kata dia, harus menjadi tempat yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas, bukan sekadar mengejar nilai ujian. Sementara keluarga, terutama orang tua, perlu menanamkan nilai-nilai positif sejak dini seperti semangat belajar, tanggung jawab, dan keberanian untuk mencoba hal baru.
“Mindset yang baik akan menuntun pada tindakan yang baik,” tegasnya.
Ia menambahkan, perubahan mindset anak muda tidak bisa dipaksakan dari luar. Proses ini harus tumbuh dari kesadaran diri, dengan dorongan lingkungan yang mendukung. Guru dan orang tua sebaiknya menjadi contoh nyata dalam menerapkan nilai-nilai kerja keras, disiplin, serta rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal baru.
Menurut Baharuddin, salah satu kesalahan umum dalam mendidik anak muda adalah menekankan hasil tanpa menghargai proses. Padahal, justru proses yang membentuk karakter dan daya tahan mental.
“Anak muda harus belajar menghargai perjalanan, bukan hanya tujuan. Di situlah kedewasaan berpikir akan tumbuh,” ujarnya.
Media Sosial dan Internet: Antara Peluang dan Tantangan
Dalam era digital, pola pikir generasi muda sangat dipengaruhi oleh media sosial dan internet. Baharuddin melihat bahwa media sosial memiliki dua sisi: bisa menjadi sarana pengembangan diri, tapi juga bisa membuat anak muda kehilangan arah jika tidak bijak dalam menggunakannya.
“Media sosial itu ibarat pisau bermata dua. Ia bisa membangun, tapi juga bisa merusak. Tergantung siapa yang menggunakannya,” jelasnya.
Ia mendorong anak muda untuk menggunakan media sosial bukan hanya sebagai tempat hiburan atau ajang eksistensi diri, melainkan sebagai ruang belajar, eksplorasi, dan kolaborasi. Banyak peluang usaha dan pengetahuan bisa ditemukan di internet, mulai dari kursus gratis, peluang bisnis digital, hingga jejaring profesional yang dapat memperluas wawasan dan karier.
Namun, Baharuddin juga mengingatkan pentingnya filter informasi agar tidak terjebak dalam arus konten yang justru melemahkan mental generasi muda. Menurutnya, generasi yang cerdas adalah mereka yang mampu memilah mana informasi yang bermanfaat dan mana yang hanya membuang waktu.
Anak Muda Sebagai Agen Perubahan
Dengan perubahan mindset anak muda yang tepat, Baharuddin optimistis generasi saat ini mampu menjadi agen perubahan dalam berbagai bidang. Ia menilai, tantangan global seperti perubahan iklim, digitalisasi, dan ketimpangan ekonomi membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga tangguh, beretika, dan memiliki visi jangka panjang.
“Kita butuh generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga punya integritas dan empati,” ujarnya. “Semua itu berawal dari cara berpikir yang benar.”
Menurutnya, generasi muda yang berani bermimpi besar dan berpikir terbuka terhadap ide baru akan mampu mengubah wajah bangsa. Mereka bukan hanya pekerja, tapi juga pencipta lapangan kerja. Bukan sekadar pengikut tren, tapi penggerak perubahan.
Ia percaya bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi besar di tangan generasi mudanya. Namun potensi itu baru akan menjadi kekuatan nyata ketika anak muda mampu mengubah cara berpikir mereka—dari pasif menjadi aktif, dari konsumtif menjadi produktif, dan dari pencari kerja menjadi pencipta peluang.
Menumbuhkan Pola Pikir Visioner di Kalangan Anak Muda
Untuk membangun masa depan yang lebih baik, generasi muda harus mulai menumbuhkan pola pikir visioner. Artinya, memiliki pandangan jauh ke depan, tidak mudah puas, dan terus mencari cara untuk memberi kontribusi positif bagi masyarakat. Baharuddin menekankan pentingnya menanamkan semangat kolaborasi dan kepedulian sosial di tengah era individualistik yang kian kuat.
“Perubahan besar selalu dimulai dari pola pikir,” katanya. “Kalau anak muda bisa mengubah mindset mereka, bangsa ini akan punya masa depan yang cerah.”
Ia pun mengajak seluruh pihak—mulai dari lembaga pendidikan, pemerintah, hingga masyarakat—untuk bersama-sama menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan generasi muda yang tangguh, terbuka, dan berorientasi pada solusi.
Dengan perubahan mindset yang sehat, generasi muda Indonesia diyakini dapat menjadi motor utama kemajuan bangsa di era global. Bukan hanya siap menghadapi perubahan, tapi juga mampu menciptakan perubahan itu sendiri.