Inversi Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh generasi muda Indonesia di kancah internasional. Dua siswi sekolah dasar asal Kota Medan, Geraldine Saimen dan Hayley Saimen, berhasil mengharumkan nama bangsa setelah meraih prestasi gemilang pada ajang World International Mathematical Olympiad (WIMO) Final 2025 yang digelar di Shenzhen, China, pada 3–4 Januari 2026.
Kedua kakak beradik yang merupakan murid SD Santo Nicholas School Medan ini tampil luar biasa di salah satu kompetisi matematika paling bergengsi di dunia. Dalam ajang tersebut, Geraldine Saimen berhasil meraih Legend Award, sementara sang adik, Hayley Saimen, sukses membawa pulang medali emas. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing dan berprestasi di tingkat global.
Keberhasilan Geraldine dan Hayley tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia lainnya untuk berani bermimpi dan berkompetisi di tingkat internasional. Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa dengan kerja keras, disiplin, dan dukungan yang tepat, generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk meraih prestasi dunia.
World International Mathematical Olympiad (WIMO) dikenal sebagai kompetisi matematika internasional dengan standar yang sangat tinggi. Olimpiade ini menyeleksi peserta secara ketat melalui berbagai tahapan, mulai dari tingkat nasional hingga internasional. Soal-soal yang diujikan disusun langsung oleh para profesor dan pakar matematika internasional, khususnya dari Hong Kong, dengan tingkat kesulitan yang menantang kemampuan berpikir logis, analitis, dan kreatif peserta.
Ayah Geraldine dan Hayley, Ekko Saimen, menjelaskan bahwa WIMO bukanlah kompetisi biasa. Untuk dapat melaju ke final internasional, peserta harus lebih dahulu meraih medali emas pada babak nasional dan regional di berbagai tingkatan.
“WIMO ini bukan lomba biasa. Untuk bisa ke final internasional, peserta harus melewati seleksi ketat dan mendapatkan medali emas lebih dulu di beberapa tahapan. Tingkat kesulitannya jauh di atas olimpiade lain,” ujar Ekko saat ditemui di Medan, Rabu (7/1/2026).
Ia menambahkan, pada WIMO 2025, jumlah peserta asal Indonesia berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, dengan total sekitar 50 orang. Dari jumlah tersebut, keberhasilan Geraldine dan Hayley menjadi pencapaian yang sangat membanggakan.
Keberhasilan di ajang WIMO bukanlah prestasi pertama bagi kedua kakak beradik ini. Sejak beberapa tahun terakhir, Geraldine dan Hayley telah menorehkan berbagai prestasi internasional di bidang matematika. Mereka tercatat meraih medali emas dalam sejumlah kompetisi bergengsi, seperti South East Asia Math Olympiad (SEAMO dan SEAMO X), International Junior Math Olympiad (IJMO), World Mathematics Invitational (WMI), serta Singapore and Asian Schools Math Olympiad (SASMO) dengan peringkat pertama tingkat nasional.
Selain itu, keduanya juga baru saja meraih medali emas pada Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO) 2025. Konsistensi prestasi tersebut menjadi dasar bagi Geraldine untuk menerima Legend Award, yakni penghargaan tertinggi yang diberikan kepada peserta dengan rekam jejak medali emas berulang di ajang WIMO.
“Legend Award ini merupakan penghargaan tertinggi karena diberikan kepada peserta yang telah beberapa kali meraih medali emas. Semua ini adalah hasil dari konsistensi, latihan panjang, dan semangat belajar yang tinggi,” ujar Ekko.
Kesuksesan Geraldine dan Hayley juga tidak terlepas dari peran besar orang tua dalam mendampingi proses belajar mereka. Sang ibu, Rosa Baretta, menuturkan bahwa kunci utama keberhasilan anak-anaknya adalah disiplin latihan, manajemen waktu yang baik, serta dukungan penuh dari keluarga.
“Soal-soal WIMO itu sangat sulit dan berbeda dari soal sekolah pada umumnya. Kami membiasakan anak-anak berlatih secara rutin, tetapi tetap memastikan mereka menikmati proses belajar,” kata Rosa.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara belajar, latihan, dan waktu bermain agar anak-anak tidak merasa tertekan. Menurutnya, suasana belajar yang menyenangkan justru membuat anak lebih mudah berkembang dan mempertahankan prestasi.
Geraldine Saimen mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraihnya. Ia menilai kompetisi di China menjadi pengalaman berharga yang memberinya pelajaran tentang kerja keras, kepercayaan diri, dan sportivitas.
Sementara itu, Hayley Saimen mengungkapkan rasa tidak menyangka bisa langsung meraih medali emas pada pengalaman pertamanya mengikuti WIMO. Ia mengaku termotivasi untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuannya di bidang matematika.
Ke depan, kedua siswi berprestasi ini telah mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang internasional lainnya, seperti Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) yang dijadwalkan berlangsung pada Februari mendatang.
Prestasi Geraldine dan Hayley juga mendapat apresiasi dari Wali Kota Medan, Rico Waas, yang menyampaikan terima kasih karena keduanya telah mengharumkan nama Medan dan Indonesia di tingkat internasional. Ia berharap capaian tersebut dapat terus dipertahankan dan menjadi inspirasi bagi pelajar Indonesia lainnya untuk berprestasi di kancah dunia.