INVERSI.ID – Di era digital, hubungan tanpa komitmen semakin menjadi tren, terutama di kalangan Generasi Z. Salah satu istilah yang kian populer adalah backburner relationship, yakni ketika seseorang dijadikan cadangan dalam hubungan—baik dalam percintaan, pertemanan, maupun karier tanpa adanya kejelasan atau komitmen serius.
Apa Itu Backburner Relationship?
Istilah “backburner” berasal dari dunia kuliner, yang secara harfiah berarti “tungku belakang” atau bagian belakang kompor. Dalam konteks hubungan, backburner merujuk pada seseorang yang dipertahankan dalam lingkaran sosial atau emosional, tetapi hanya sebagai pilihan sekunder atau cadangan.
Fenomena ini menjadi semakin lazim di era media sosial, di mana komunikasi dapat terjalin dengan mudah tanpa interaksi langsung. Seseorang mungkin memelihara hubungan “backburner” dengan tetap berkomunikasi sesekali, menjaga kedekatan, tetapi tanpa niat untuk menjalin hubungan yang lebih dalam.
Kenapa Banyak Orang Memilih Hubungan Backburner?
Menurut Metro UK, banyak orang dalam hubungan backburner sebenarnya sudah memiliki pasangan resmi. Mereka mempertahankan hubungan dengan seseorang sebagai “cadangan” jika hubungan utama mereka bermasalah atau berakhir.
Hubungan semacam ini umumnya melibatkan tiga pihak:
- Pelaku backburner (orang yang menjaga “cadangan”),
- Pasangan resmi
- Orang yang dijadikan backburner (yang tidak mendapatkan kepastian hubungan).
Alasan utama seseorang mempertahankan backburner relationship adalah rasa takut kesepian atau keinginan untuk selalu memiliki opsi lain jika hubungan utama tidak berjalan sesuai harapan.
Situationship: Hubungan Tanpa Komitmen yang Makin Diminati Gen Z
Tren hubungan tanpa komitmen juga terlihat dalam data yang dirilis oleh aplikasi kencan indeR dalam laporan tahunan A Year in Swipe. Laporan ini menunjukkan bahwa istilah “situationship” semakin sering digunakan dalam profil pengguna, terutama di kalangan perempuan berusia 18 hingga 25 tahun atau Gen A.
Situationship adalah hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan, tetapi tanpa kejelasan status dan tanpa komitmen. Bagi banyak anak muda, ini dianggap lebih fleksibel dan tidak membebani emosional seperti hubungan serius.
Mengapa Gen Z Lebih Memilih Hubungan Tanpa Komitmen?
Ada beberapa alasan mengapa Gen Z lebih nyaman dengan hubungan tanpa komitmen, di antaranya:
Kebebasan dan Fleksibilitas
Hubungan tanpa komitmen memungkinkan mereka tetap terbuka terhadap banyak kemungkinan tanpa merasa terikat.
Kemudahan Akses dalam Digitalisasi
Dengan adanya Instagram, TikTok, dan aplikasi kencan, membangun koneksi tanpa komitmen menjadi lebih mudah dan cepat.
Kurangnya Kepercayaan pada Hubungan Jangka Panjang
Banyak Gen Z melihat hubungan jangka panjang sebagai sesuatu yang terlalu menuntut secara emosional dan finansial.
Prioritas pada Pengembangan Diri
Alih-alih menghabiskan waktu dalam hubungan serius, mereka lebih memilih fokus pada karier, pendidikan, atau eksplorasi diri.
Kesimpulan: Backburner Relationship, Tren yang Perlu Disikapi dengan Bijak
Fenomena backburner relationship bukan hanya terjadi dalam percintaan, tetapi juga dalam pertemanan dan dunia kerja. Bagi sebagian orang, ini memberikan fleksibilitas, tetapi di sisi lain, bisa menyebabkan ketidakpastian emosional dan perasaan tidak dihargai.
Gen Z yang semakin terbuka terhadap hubungan tanpa komitmen perlu memahami bahwa hubungan yang sehat adalah yang didasarkan pada komunikasi yang jelas dan saling menghargai. Sebelum terjebak dalam tren, penting untuk mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap kesejahteraan emosional dan psikologis.***