INVERSI.ID – Fenomena unik tengah melanda kalangan Gen Z di Amerika Serikat. Banyak gadis muda dari generasi ini mengaku menggunakan aplikasi kencan bukan untuk mencari cinta, melainkan demi mendapatkan makanan gratis di restoran mewah. Tren yang viral di media sosial ini bahkan memiliki istilah tersendiri, yaitu foodie call — plesetan dari booty call — yang menggambarkan praktik kencan semu demi keuntungan materi.
Bagi sebagian Gen Z di kota besar seperti New York, kencan kini bukan sekadar urusan perasaan, tapi juga strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi. Salah satunya dialami oleh Olivia Balsinger (25), warga East Village yang secara rutin menikmati santapan lima menu di restoran seafood ternama Catch — tanpa membayar sepeser pun.
Semua tagihan ditanggung oleh pria yang ia temui melalui aplikasi kencan seperti Tinder atau Hinge.
“Saya tidak mencari hubungan serius, tapi saya suka pengalaman makan enak. Saya tidak merasa bersalah, ini bagian dari aturan main di kota besar,” kata Olivia seperti dikutip dari New York Post.
Dengan harga makanan yang bisa mencapai US$100 per porsi (sekitar Rp1,6 juta), Olivia menganggap foodie call sebagai cara cerdas untuk menikmati kemewahan tanpa mengorbankan gaya hidup.
“Bukan berarti saya menipu, saya hanya memanfaatkan kesempatan yang ada,” tambahnya.
Dari Kopi Gratis hingga Fine Dining
Tidak hanya Olivia, Katheryne Slack (27), seorang desainer grafis asal Carolina Selatan, juga mengaku sering memanfaatkan aplikasi kencan untuk mendapatkan kopi atau makan siang gratis.
“Saya tahu sejak awal tidak tertarik padanya, tapi ini strategi menabung yang cerdas,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran cara pandang anak muda terhadap kencan. Jika dulu kencan dipandang sebagai langkah awal menuju hubungan romantis, kini sebagian Gen Z melihatnya sebagai cara menghemat pengeluaran di tengah biaya hidup yang terus meningkat.
Menurut survei Intuit, sekitar 31% Gen Z di Amerika Serikat mengaku pernah melakukan foodie call, sementara 58% lainnya mengurangi frekuensi kencan karena tekanan ekonomi. Banyak dari mereka merasa harga sewa rumah, biaya pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari terlalu tinggi dibandingkan gaji awal mereka.
Salah satu perempuan Gen Z bahkan mengaku dalam acara The Tamron Hall Show bahwa 25 dari 100 kencan yang pernah ia jalani dilakukan semata-mata demi makanan gratis, karena penghasilannya tidak cukup untuk menutupi biaya gaya hidup urban.
Tekanan Ekonomi dan Budaya Konsumtif
Tren foodie call di kalangan Gen Z sebenarnya mencerminkan persoalan yang lebih dalam yaitu tekanan ekonomi dan budaya konsumtif yang semakin kuat di masyarakat modern.
Kehidupan di kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Chicago menuntut gaya hidup tinggi. Banyak anak muda yang ingin tetap tampil keren, makan di tempat hits, dan menikmati pengalaman sosial, meski penghasilan mereka terbatas.
“Generasi muda saat ini menghadapi dilema: mereka ingin menikmati hidup, tapi kondisi ekonomi tidak selalu mendukung. Maka, muncullah perilaku adaptif seperti foodie call,” ujar Dr. Alex Beene, dosen keuangan dari University of Tennessee.
Menurut Beene, praktik seperti ini menunjukkan bagaimana tekanan finansial dapat memengaruhi nilai dan perilaku sosial anak muda. Di satu sisi, mereka kreatif mencari jalan keluar, tapi di sisi lain, hal ini berpotensi mengikis kepercayaan dan etika dalam hubungan.
Dampak Sosial dan Emosional
Meski terlihat ringan, fenomena foodie call menimbulkan dampak sosial dan emosional yang cukup serius. Bagi sebagian orang, kencan bukan sekadar makan bersama, melainkan proses membangun koneksi emosional.
“Ketika seseorang menyadari bahwa pasangannya hanya datang untuk makan gratis, tentu akan muncul kekecewaan dan rasa tidak percaya,” kata Beene.
“Dalam jangka panjang, tren ini bisa melemahkan kepercayaan antarindividu dan membuat banyak orang lebih defensif saat menjalin hubungan baru.”
Fenomena ini juga membuat banyak pria muda menjadi lebih skeptis terhadap aplikasi kencan. Beberapa bahkan mulai berhati-hati dan memilih tempat kencan yang lebih sederhana, seperti taman atau kedai kopi murah, untuk menghindari risiko menjadi “korban foodie call.”
Di media sosial, perdebatan mengenai fenomena ini pun ramai. Sebagian menganggapnya bentuk empowerment bagi perempuan muda yang cerdas memanfaatkan situasi, sementara sebagian lain menilai foodie call sebagai bentuk manipulasi yang tidak etis.
Antara Realitas Ekonomi dan Pergeseran Nilai
Tren foodie call tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi generasi muda saat ini. Laporan Bank of America tahun 2025 menunjukkan bahwa 65% Gen Z mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, sementara 45% di antaranya masih bergantung pada bantuan keluarga.
Di sisi lain, eksposur media sosial mendorong mereka untuk terus tampil glamor dan mengikuti tren gaya hidup urban. Kombinasi antara tekanan finansial dan budaya tampil “sempurna” ini menciptakan dilema sosial yang rumit.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam dunia kencan modern. Hubungan yang dulu berlandaskan cinta dan ketulusan kini sering dibumbui dengan motif ekonomi dan gaya hidup.
Menurut psikolog sosial Dr. Emily R. Cook, perilaku seperti ini menggambarkan survival mode generasi muda. “Mereka tidak hanya mencari pasangan, tapi juga mencari cara bertahan di tengah sistem ekonomi yang membuat banyak anak muda sulit mandiri,” katanya.
Cermin dari Dunia Modern
Fenomena foodie call di kalangan Gen Z Amerika Serikat menjadi gambaran menarik tentang cara anak muda beradaptasi dengan dunia yang semakin kompetitif dan materialistis. Bagi sebagian orang, ini adalah bentuk kecerdikan sosial; bagi yang lain, ini adalah tanda krisis nilai.
Apa pun pandangannya, tren ini memperlihatkan satu hal: bahwa hubungan romantis kini tidak bisa dipisahkan dari realitas ekonomi dan sosial yang melingkupinya. Generasi muda mungkin tidak lagi melihat kencan sebagai perjalanan menuju cinta sejati, melainkan bagian dari strategi hidup di dunia modern.
“Fenomena ini bukan hanya soal makan gratis, tapi tentang bagaimana anak muda menghadapi tekanan hidup dan mencari keseimbangan antara idealisme dan realitas,” tutup Beene.