INVERSI.ID – Shrekking tengah menjadi tren kencan viral yang ramai dibicarakan anak muda di media sosial. Istilah ini terinspirasi dari kisah cinta tidak biasa antara Shrek dan Putri Fiona dalam film animasi populer Shrek. Fenomena ini menggambarkan pendekatan dalam mencari pasangan yang di satu sisi terdengar romantis, namun di sisi lain menyimpan potensi risiko yang cukup kompleks.
Menurut sejumlah pakar hubungan, Shrekking tidak sekadar istilah kocak dari internet, melainkan refleksi dari realitas dunia kencan modern. Banyak orang yang mencoba keluar dari standar “tipe ideal” dan menjalin hubungan dengan pasangan yang mungkin sebelumnya tidak masuk dalam kriteria mereka. Namun, langkah tersebut sering kali menimbulkan kebingungan emosional dan bahkan kekecewaan.
Daya tarik istilah ini ada pada kesederhanaannya: seperti Fiona yang memilih Shrek, Shrekking dianggap sebagai pilihan untuk lebih melihat hati dan karakter, bukan hanya penampilan fisik. Tapi apakah praktiknya sesederhana itu? Para ahli menilai ada sisi positif sekaligus jebakan yang perlu diwaspadai.
Risiko dan Kesalahpahaman di Balik Fenomena Shrekking
Meski di permukaan terdengar manis, praktik Shrekking justru mendapat sorotan kritis dari pakar hubungan. Amy Chan, penulis Breakup Bootcamp: The Science of Rewiring Your Heart, mengingatkan bahwa banyak orang yang merasa “di-Shrek” akhirnya kecewa karena berasumsi pasangan yang terlihat kurang menarik secara fisik otomatis akan memperlakukan mereka lebih baik.
“Hal yang jadi bumerang adalah ketika seseorang menganggap penampilan yang lebih sederhana berarti kepribadian lebih baik. Faktanya, perlakuan seseorang tidak ada hubungannya dengan tampilan luar,” jelas Chan.
Fenomena Shrekking menunjukkan bagaimana dunia kencan modern dipenuhi istilah baru untuk menjelaskan pengalaman yang rumit. Menurut Chan, generasi sekarang telah menjadikan perjuangan berpacaran sebagai bagian dari percakapan publik yang terbuka. Tidak heran, istilah seperti ini mudah viral karena dekat dengan realitas banyak orang yang pernah merasa kecewa dalam hubungan.
Emma Hathorn, pakar hubungan dari Seeking.com, menambahkan bahwa bahaya sebenarnya ada pada kebiasaan menyamakan daya tarik dengan karakter.
“Penampilan seseorang tidak mencerminkan bagaimana mereka memperlakukan pasangan. Kalau seseorang bersikap buruk, terlepas dari seberapa menarik mereka, seharusnya mereka dianggap tidak layak,” tegasnya.
Selain itu, konsep Shrekking bisa membuat orang justru terjebak pada rasa takut. Alih-alih memberi kesempatan pada pasangan baru yang berbeda dari “tipe ideal,” banyak orang akhirnya menutup diri karena khawatir akan disakiti.
“Idenya adalah keluar dari zona nyaman. Tapi kalau berujung pada penyesalan, orang malah kapok mencoba lagi,” tambah Hathorn.
Cara Bijak Menghadapi Shrekking di Era Kencan Digital
Lalu bagaimana jika seseorang sudah terjebak dalam pengalaman Shrekking? Amy Chan menyarankan agar setiap individu lebih fokus pada nilai, visi hidup, dan ketersediaan emosional pasangan. Menurutnya, hubungan sehat lahir dari rasa saling menghormati dan kesesuaian tujuan, bukan sekadar fisik atau daya tarik permukaan.
“Kalau dua orang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama, justru ketertarikan bisa tumbuh dengan cara yang tidak terduga. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar menilai dari penampilan luar,” ujar Chan.
Hal senada diungkapkan oleh sosiolog sekaligus pakar hubungan Emily Thompson. Ia menilai Shrekking bisa jadi momentum positif bagi anak muda untuk melawan standar kencan yang dangkal. “Kadang, memberi kesempatan pada orang di luar ‘tipe’ kita bisa membuka peluang menemukan koneksi yang lebih tulus,” jelasnya.
Namun Thompson menekankan, ini bukan berarti seseorang harus “menurunkan standar.” Fokus utama tetap pada mencari kompatibilitas emosional dan nilai-nilai bersama yang bisa membangun hubungan langgeng. Dengan begitu, Shrekking bisa menjadi pengalaman berharga, bukan jebakan emosional.
Dari sini terlihat bahwa viralnya istilah Shrekking bukan hanya tren sesaat, melainkan cerminan keresahan anak muda terhadap pola kencan digital yang serba cepat. Di tengah swipe left dan right, banyak orang merasa hubungan jadi dangkal. Kehadiran istilah seperti ini memperlihatkan kebutuhan generasi sekarang untuk mencari hubungan yang lebih otentik dan bermakna.
Pada akhirnya, Shrekking bisa menjadi pengingat bahwa penampilan hanyalah salah satu aspek dalam hubungan, bukan fondasi utama. Nilai, karakter, dan sikap saling menghormati tetap menjadi kunci untuk membangun ikatan yang sehat. Jika dimaknai dengan tepat, tren ini dapat menjadi ajakan agar anak muda lebih berani membuka diri pada pengalaman kencan yang berbeda, tanpa harus kehilangan jati diri atau standar pribadi.