INVERSI.ID – Platform TikTok tak hanya dipenuhi video hiburan dan tren menari. Sepanjang 2025, fenomena FinTok, konten edukasi finansial di TikTok, mengalami lonjakan signifikan. Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya biaya hidup, konten-konten seputar keuangan menjadi rujukan utama generasi muda Indonesia untuk belajar cara mengatur uang secara praktis dan mudah dicerna.
Laporan DataReportal 2025 mencatat bahwa pengguna TikTok di Indonesia mencapai 126 juta, dengan kelompok usia 18–34 tahun mendominasi lebih dari 60%. Angka ini menjadikan FinTok sebagai kanal edukasi keuangan paling cepat tumbuh di media sosial.
Lonjakan Konten Keuangan dan Perubahan Perilaku Anak Muda
Berdasarkan data ByteDance, jumlah konten edukasi finansial di TikTok Indonesia tumbuh 42% pada kuartal pertama 2025 dibanding tahun sebelumnya. Tagar populer seperti #FinTok, #BelajarInvestasi, dan #TipsMenabung telah menembus angka 1,2 miliar penayangan.
Jenis konten yang paling diminati antara lain:
- Tips investasi saham (38%)
- Edukasi kripto (26%)
- Perencanaan keuangan pribadi (22%)
- Strategi menabung (14%)
Survei Populix yang melibatkan 2.000 responden usia 20–35 tahun menunjukkan bahwa 72% anak muda mulai menabung atau berinvestasi setelah menonton FinTok. Dari jumlah itu, 48% memilih reksa dana, 33% mencoba kripto, dan 19% mulai menyimpan dalam bentuk emas digital.
Kreator Lokal dan Peran Brand Finansial
FinTok juga melahirkan banyak kreator lokal yang berhasil membangun audiens besar. Akun seperti @cuanbareng, @uangmillennial, dan @nabungsantai masing-masing memiliki lebih dari satu juta pengikut. Mereka kerap bekerja sama dengan platform investasi dan bank digital untuk memperluas jangkauan literasi keuangan.
Menurut laporan Nielsen 2025, brand keuangan yang memanfaatkan kerja sama dengan kreator FinTok mencatat peningkatan engagement hingga 28% lebih tinggi dibanding platform media sosial lainnya.
Tantangan: Konten Menyesatkan dan Literasi Rendah
Namun, di balik tren positif tersebut, ada risiko. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sekitar 11% konten FinTok terindikasi menyesatkan karena menjanjikan keuntungan instan tanpa menjelaskan risiko. Hal ini mendorong OJK bekerja sama dengan Kominfo untuk meluncurkan program literasi digital yang menargetkan 10 juta pemirsa online pada 2025.
Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya memahami risiko investasi dan mendorong konsumsi konten finansial yang bertanggung jawab.
Masa Depan FinTok: Antara Peluang dan Tanggung Jawab
Dengan kombinasi hiburan dan edukasi, FinTok diprediksi akan tetap menjadi salah satu saluran utama literasi keuangan generasi muda di Indonesia. Namun, tantangan dalam perlindungan konsumen digital juga menuntut keterlibatan lebih besar dari regulator, kreator, dan pelaku industri keuangan.
FinTok bukan sekadar tren—ia telah menjadi medium penting dalam membentuk budaya melek finansial di kalangan anak muda.***