INVERSI.ID – Generasi Z dan lingkaran setan validasi sosial kini menjadi isu serius yang banyak disorot oleh para ahli kesehatan mental. Generasi Z dinilai semakin rentan terjebak dalam pencarian pengakuan melalui media sosial. Hal ini diungkapkan Psikolog Andi Cahyadi saat dihubungi RRI Madiun, Senin (29/9/2025). Menurutnya, fenomena ini dipicu oleh kebiasaan anak muda yang menjadikan like, komentar, hingga jumlah pengikut sebagai tolok ukur harga diri.
Generasi Z dan lingkaran setan validasi sosial semakin terlihat jelas ketika interaksi digital tidak lagi sekadar hiburan, melainkan kebutuhan emosional.
“Like, komentar, dan jumlah pengikut sering dijadikan tolok ukur harga diri. Ketika itu berkurang, mereka merasa kurang berarti,” kata Andi.
Kondisi ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang terus mendorong interaksi, sehingga anak muda merasa perlu tampil sempurna untuk mendapatkan pengakuan.
Generasi Z dan lingkaran setan validasi sosial tidak hanya berdampak pada rasa percaya diri, tetapi juga berpotensi memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius. Menurut Andi, ketika kebutuhan validasi eksternal tidak terpenuhi, muncul rasa cemas, overthinking, hingga depresi. “Ini seperti lingkaran setan. Semakin dikejar, semakin sulit merasa cukup,” tegasnya.
Dampak Negatif Validasi Eksternal pada Generasi Z
Validasi eksternal menjadi candu bagi sebagian besar pengguna media sosial, khususnya generasi muda. Dorongan untuk selalu mendapat pengakuan membuat mereka mudah merasa gagal jika respons digital yang diterima tidak sesuai harapan.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan, kondisi ini sering membuat anak muda kehilangan kendali atas emosinya. Mereka cenderung membandingkan diri dengan orang lain, merasa hidupnya kurang menarik, hingga muncul perasaan rendah diri. “Ketergantungan validasi eksternal dapat berdampak buruk pada kesehatan mental. Mulai dari berkurangnya kepercayaan diri, meningkatnya overthinking, hingga risiko depresi,” paparnya.
Selain itu, tekanan untuk tampil sempurna juga memengaruhi cara anak muda menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka lebih fokus membangun citra ideal di dunia maya daripada menghargai proses nyata dalam hidup. Akibatnya, muncul perasaan tidak pernah cukup, meskipun pencapaian yang dimiliki sebenarnya sudah baik.
Fenomena ini selaras dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa media sosial dapat meningkatkan risiko masalah psikologis. Riset internasional menemukan bahwa terlalu sering menggunakan media sosial meningkatkan peluang terjadinya kecemasan sosial hingga 30 persen pada kalangan remaja.
Solusi: Membangun Self-Validation
Untuk keluar dari lingkaran setan validasi sosial, diperlukan langkah nyata dalam membangun self-validation atau validasi diri. Self-validation berarti menghargai emosi, perasaan, dan pencapaian diri sendiri tanpa bergantung pada pengakuan dari orang lain.
Andi menekankan, anak muda perlu belajar menerima diri apa adanya. “Anak muda perlu belajar menghargai diri sendiri tanpa bergantung pada pengakuan luar. Dukungan keluarga dan lingkungan juga sangat berperan,” ujarnya. Dengan self-validation, generasi Z bisa lebih fokus pada proses hidup, bukan sekadar hasil yang dilihat orang lain.
Komunitas anak muda saat ini juga mulai aktif mengkampanyekan pentingnya self-validation. Melalui workshop, diskusi daring, hingga konten edukasi di media sosial, mereka berusaha menyebarkan pesan bahwa mencintai diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan wujud kepedulian terhadap kesehatan mental.
Praktik sederhana seperti menuliskan jurnal syukur, membatasi waktu di media sosial, hingga berbicara positif kepada diri sendiri, dapat menjadi langkah awal membangun self-validation. Dengan cara ini, anak muda bisa lebih tahan terhadap tekanan sosial dan tumbuh menjadi individu yang percaya diri serta mandiri.
Jika semakin banyak generasi muda menerapkan self-validation, maka akan tercipta generasi yang lebih tangguh menghadapi tantangan zaman. Mereka tidak hanya mampu menjaga kesehatan mentalnya, tetapi juga memiliki empati lebih tinggi terhadap orang lain.