INVERSI.ID – Fenomena bed rotting di kalangan Gen Z belakangan ini ramai dibicarakan di media sosial, terutama TikTok. Istilah bed rotting merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur hanya untuk melakukan aktivitas pasif seperti menonton televisi, scrolling media sosial, hingga sekadar ngemil. Banyak anak muda menganggap tren ini sebagai bentuk self-care untuk melepas penat, stres, maupun burnout akibat rutinitas sehari-hari.
Fenomena bed rotting di kalangan Gen Z dianggap memberi rasa tenang dan kesempatan bagi tubuh serta pikiran untuk beristirahat. Tidak sedikit yang menganggap aktivitas ini mampu membantu memulihkan energi setelah berhari-hari dikejar kesibukan sekolah, kuliah, atau pekerjaan. Namun, sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa kebiasaan pasif dalam waktu lama bisa membawa dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Fenomena bed rotting di kalangan Gen Z memang terlihat sederhana, tetapi ternyata menyimpan risiko tersembunyi. Studi dalam The British Journal of Psychiatry menemukan bahwa perilaku sedentari pasif, seperti menonton televisi lebih dari tiga jam sehari, berkaitan dengan peningkatan risiko depresi. Artinya, meski terlihat sepele, kebiasaan ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental serius jika dilakukan berlebihan.
Dampak Negatif Bed Rotting bagi Kesehatan
Laman SleepFoundation.org menjelaskan bahwa tren bed rotting belum memiliki bukti ilmiah yang mendukung manfaat jangka panjangnya. Sebaliknya, terlalu sering menghabiskan waktu pasif di tempat tidur dapat mengganggu pola tidur, mengurangi interaksi sosial, hingga menurunkan produktivitas. Hal ini sejalan dengan konsep kesehatan holistik yang menekankan keseimbangan antara istirahat, aktivitas fisik, dan hubungan sosial.
Selain aspek mental, dampak fisik dari bed rotting juga perlu diwaspadai. Berada terlalu lama di tempat tidur bisa mengacaukan ritme sirkadian tubuh yang berfungsi mengatur siklus tidur-bangun. Kondisi ini dapat membuat energi tubuh menurun drastis sehingga seseorang merasa cepat lelah dan sulit fokus.
Situs kesehatan WebMD juga mencatat bahwa kurangnya paparan sinar matahari dan minimnya aktivitas fisik akibat bed rotting dapat memperburuk suasana hati. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa meningkatkan risiko obesitas, gangguan metabolisme, hingga masalah tulang dan otot karena minimnya pergerakan.
Dengan kata lain, meskipun bed rotting memberikan efek relaksasi sesaat, kebiasaan ini bisa menimbulkan lingkaran tidak sehat jika dijadikan rutinitas. Alih-alih pulih, justru tubuh dan pikiran bisa semakin terbebani.
Cara Sehat Menerapkan Bed Rotting
Meski memiliki banyak sisi negatif, bed rotting tetap bisa dilakukan dengan cara sehat selama ada batasan yang jelas. Para ahli menyarankan agar tren ini tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
Pertama, tetapkan durasi yang wajar. Misalnya, hanya menghabiskan 30–60 menit di tempat tidur untuk sekadar menonton atau membaca, bukan berjam-jam tanpa aktivitas produktif. Kedua, imbangi dengan aktivitas fisik ringan. Setelah bed rotting, lakukan peregangan, jalan kaki singkat, atau olahraga kecil agar tubuh kembali bertenaga.
Ketiga, perhatikan kualitas tidur. Jangan sampai bed rotting di siang hari mengganggu jam tidur malam. Pastikan waktu istirahat tetap konsisten agar ritme sirkadian tubuh terjaga. Keempat, jangan lupakan interaksi sosial. Sesekali keluar rumah, bertemu teman, atau sekadar berbincang dengan keluarga bisa menjaga kesehatan mental tetap stabil.
Selain itu, anak muda juga bisa memanfaatkan bed rotting untuk kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku ringan, mendengarkan musik yang menenangkan, atau melakukan meditasi sederhana. Dengan begitu, waktu istirahat tetap terasa menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan.
Fenomena bed rotting sebenarnya mencerminkan kebutuhan anak muda akan ruang istirahat di tengah tekanan kehidupan modern. Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci. Jika dilakukan secara berlebihan, tren ini justru bisa membawa dampak buruk bagi tubuh dan pikiran. Generasi Z perlu lebih bijak dalam mengelola waktu istirahat agar tidak terjebak pada pola hidup pasif yang merugikan.