Inversi Di sela-sela agenda kedinasan yang padat, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan sosial dengan melakukan kunjungan emosional ke sebuah hunian yang jauh dari kata layak.
Langkah kaki Gubernur kali ini tertuju pada Kelurahan Maliaro, Kota Ternate, tepatnya di sebuah rumah kayu yang mulai melapuk milik Ibu Rani Brongkos. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni protokoler, melainkan bentuk validasi langsung atas data kemiskinan ekstrem dan realitas hunian tidak layak yang masih membayangi sebagian warga di Maluku Utara.
Kehadiran pemimpin perempuan pertama di Bumi Moloku Kie Raha ini memberikan secercah harapan bagi Ibu Rani yang selama ini berjuang sendirian menjaga anak dan cucunya di balik dinding yang ringkih.
Kontras Sosial di Jantung Kelurahan Maliaro
Kelurahan Maliaro sebenarnya merupakan kawasan yang tertata dengan deretan rumah permanen yang cukup apik. Namun, rumah Ibu Rani berdiri sebagai sebuah anomali yang mencolok. Di antara bangunan beton yang kokoh, rumahnya tampak berjuang melawan gravitasi kayu-kayu penyangga yang mulai membusuk, atap yang bolong di berbagai sudut, serta lantai yang tak lagi rata.
Sebagai seorang perempuan kepala keluarga, Ibu Rani telah menghabiskan bertahun-tahun merajut doa dan ketegaran di bawah atap tersebut. Ia bertahan meski risiko keamanan selalu mengintai setiap kali angin kencang atau hujan deras menerjang pesisir Ternate.
Kontras ini menjadi alasan kuat mengapa kebijakan pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda kini menitikberatkan pada pemerataan infrastruktur dasar bagi masyarakat prasejahtera.
Intervensi Pemerintah: Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
Dalam kunjungannya, Gubernur Sherly Tjoanda secara saksama memperhatikan setiap sudut bangunan yang sudah tidak lagi memenuhi standar keamanan bagi penghuninya.
Kondisi rumah Ibu Rani secara teknis telah memenuhi kriteria kritis untuk segera mendapatkan bantuan melalui Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Kriteria rumah yang tidak layak huni, sebagaimana yang terlihat pada kediaman Ibu Rani, meliputi:
- Kelemahan Struktural: Fondasi dan tiang penyangga yang tidak lagi mampu menahan beban bangunan secara stabil.
- Kualitas Material: Penggunaan bahan bangunan yang bersifat sementara dan mudah rusak akibat cuaca ekstrem.
- Sanitasi dan Kesehatan: Kurangnya akses air bersih yang terintegrasi dan sistem pembuangan yang tidak sehat.
- Kepadatan Penghuni: Luas ruang yang tidak proporsional dengan jumlah anggota keluarga, yang berdampak pada kesehatan psikis anak-anak.
Gubernur menegaskan bahwa perbaikan rumah bagi warga seperti Ibu Rani adalah prioritas utama pemerintah provinsi untuk memastikan standar hidup yang bermartabat bagi seluruh rakyat Maluku Utara.
Kepemimpinan Humanis dan Harapan Baru
Kunjungan Gubernur Sherly Tjoanda ke rumah Ibu Rani mencerminkan gaya kepemimpinan yang humanis dan responsif. Di tengah rumah yang ringkih itu, terjadi dialog hangat yang penuh empati. Gubernur tidak hanya meninjau bangunan, tetapi juga mendengarkan keluh kesah Ibu Rani terkait beban ekonomi sebagai kepala keluarga.
Langkah ini menjadi pemantik optimisme bagi warga Maliaro lainnya. Kehadiran Gubernur dianggap sebagai sinyal bahwa pemerintah daerah tidak lagi bekerja di balik meja, melainkan turun langsung ke lapangan untuk menyentuh akar permasalahan.
Program bedah rumah yang akan diinisiasi bukan hanya sekadar memperbaiki tumpukan kayu, melainkan memberikan rasa aman bagi seorang ibu dan masa depan yang lebih sehat bagi cucu-cucunya.
Sinergi Pembangunan dan Keadilan Sosial
Gubernur Sherly Tjoanda menekankan bahwa penanganan rumah tidak layak huni memerlukan sinergi lintas sektor. Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus mendorong kolaborasi antara pemerintah kota, sektor swasta melalui dana CSR, serta partisipasi aktif masyarakat setempat.
“Kita ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara dirasakan oleh semua lapisan, tanpa terkecuali. Warga seperti Ibu Rani harus mendapatkan haknya untuk tinggal di rumah yang sehat dan aman,” tegas Gubernur dalam kunjungannya.
Kisah Ibu Rani di Kelurahan Maliaro adalah potret kecil dari perjuangan besar banyak keluarga di Indonesia Timur. Dengan hadirnya Gubernur Sherly Tjoanda di rumah yang ringkih tersebut, narasi kemiskinan ini mulai bergeser menjadi narasi harapan. Program RTLH menjadi jembatan konkret untuk mewujudkan keadilan sosial yang nyata bagi warga Maluku Utara.
Ke depannya, transformasi fisik rumah Ibu Rani diharapkan menjadi awal dari program revitalisasi pemukiman yang lebih luas di Ternate. Karena pada akhirnya, rumah adalah fondasi utama bagi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sebuah bangsa.