By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Ilmuwan Temukan Jejak Molekul Aneh di Planet Lain, Dicurigai Ada Tanda-Tanda Kehidupan di Luar Angkasa
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Ilmuwan Temukan Jejak Molekul Aneh di Planet Lain, Dicurigai Ada Tanda-Tanda Kehidupan di Luar Angkasa

Terkini

Ilmuwan Temukan Jejak Molekul Aneh di Planet Lain, Dicurigai Ada Tanda-Tanda Kehidupan di Luar Angkasa

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Para ilmuwan kembali mengguncang dunia sains dengan kemungkinan penemuan bukti paling kuat tentang adanya kehidupan di luar Bumi. Pengamatan terbaru terhadap eksoplanet K2-18b menunjukkan keberadaan molekul yang di Bumi hanya dihasilkan oleh makhluk hidup. Namun, para ahli menegaskan bahwa hasil ini belum bisa disimpulkan sebagai bukti pasti adanya kehidupan alien.

Contents
Jejak Molekul Kehidupan: DMS dan DMDSPara Ilmuwan Tetap WaspadaHarapan vs RealitaLangkah Kecil Menuju Penemuan Besar

K2-18b merupakan sebuah planet yang mengorbit bintang kerdil merah, berjarak sekitar 120 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini pertama kali ditemukan pada 2015 dan masuk dalam zona layak huni bintangnya—wilayah yang memungkinkan keberadaan air dalam bentuk cair.

Jejak Molekul Kehidupan: DMS dan DMDS

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan pada April 2025, tim astronom yang dipimpin oleh Nikku Madhusudhan dari University of Cambridge menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) untuk menganalisis atmosfer K2-18b. Mereka menemukan jejak uap air, karbon dioksida, metana, serta dua molekul misterius: dimetil sulfida (DMS) dan dimetil disulfida (DMDS). Di Bumi, kedua senyawa ini hanya diketahui dihasilkan oleh kehidupan, seperti fitoplankton di lautan.

“Temuan ini merupakan bukti independen dengan instrumen berbeda, yang memperkuat kemungkinan aktivitas biologis di K2-18b,” ujar Madhusudhan dalam konferensi pers yang dikutip dari New Scientist.

Namun, ia menambahkan bahwa sinyal ini baru mencapai tingkat signifikansi statistik tiga sigma. Artinya, peluang bahwa data ini terjadi secara kebetulan masih sekitar 3 dari 1.000. Untuk menyatakan penemuan ilmiah sebagai “pasti”, dibutuhkan level lima sigma—yakni peluang kesalahan kurang dari 1 dalam 3,5 juta.

Para Ilmuwan Tetap Waspada

Meski menjanjikan, sejumlah ilmuwan mengingatkan agar publik tidak terlalu cepat menyimpulkan. Nicholas Wogan dari NASA Ames Research Center mengatakan bahwa proses analisis ini sangat kompleks dan harus diuji ulang.

“Kamu tidak bisa sekadar mengunduh data dan langsung melihat ada DMS. Ini proses rumit,” ujarnya.

Ryan MacDonald dari University of Michigan bahkan menyebut situasi ini mirip “anak yang berteriak serigala.” K2-18b, menurutnya, sudah beberapa kali menjadi sorotan karena dugaan tanda-tanda kehidupan, namun belum ada yang terbukti secara meyakinkan.

Thomas Beatty, astronom dari University of Wisconsin-Madison, juga mengingatkan betapa sulitnya mengukur atmosfer planet luar. Ia menyebut perbandingan atmosfer K2-18b dengan ukuran planetnya setipis kulit apel pada sebuah apel.

Baca Juga :

Kecam Intervensi Militer AS di Venezuela, Megawati: Demokrasi Tidak Lahir dari Moncong Senjata
Erick Thohir Sebut Euforia Kemenangan Jaga Prestasi, Singgung Blueprint Garuda Mendunia 2045

Harapan vs Realita

Menariknya, konsentrasi molekul DMS dan DMDS di K2-18b diduga mencapai ribuan kali lebih tinggi dibanding atmosfer Bumi. Jika benar berasal dari makhluk hidup, aktivitas biologis di planet ini bisa jauh lebih aktif dibanding yang ada di Bumi.

Namun, Madhusudhan menegaskan, “Kita belum bisa mengatakan secara pasti bahwa sinyal ini berasal dari kehidupan. Kita harus sangat berhati-hati.”

Para ilmuwan juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa molekul tersebut terbentuk melalui proses non-biologis yang belum dipahami. “Kita belum pernah benar-benar meneliti bagaimana DMS bekerja dalam atmosfer kaya hidrogen seperti di K2-18b,” kata Wogan. Dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami potensi jalur kimia alternatif.

Langkah Kecil Menuju Penemuan Besar

Meski masih jauh dari kesimpulan final, temuan ini tetap dianggap sebagai langkah besar dalam pencarian kehidupan luar Bumi. Sara Seager, astrofisikawan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengatakan bahwa K2-18b akan terus menjadi kandidat penting dalam pencarian biosignature karena minimnya data eksoplanet saat ini.

“Ini adalah momen bersejarah,” kata Madhusudhan.

“Dari kehidupan mikroba miliaran tahun lalu, kita kini memiliki teknologi untuk mengintip atmosfer planet lain—dan mungkin, menemukan tanda-tanda kehidupan.”

Dengan tambahan waktu observasi 16–24 jam lagi menggunakan JWST, tim berharap bisa meningkatkan keyakinan ilmiah atas temuan mereka.

Jika kamu tertarik dengan eksplorasi luar angkasa, biosignature, atau kehidupan alien, K2-18b patut terus dipantau. Karena siapa tahu, Bumi bukan satu-satunya rumah kehidupan di alam semesta ini.***

You Might Also Like

BBM Nelayan Rp15 Ribu Disahkan! Jurus Bahlil Lindungi Dompet Tanpa Sentuh APBN
Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup
LRT Velodrome–Manggarai Segera Beroperasi, Tapi Siapkah Manggarai Tampung Lonjakan Penumpang
PT Timah Bantu Bangun Sumur Bor, SMPN 3 Simpang Katis Segera Nikmati Akses Air Bersih
Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
TAGGED:IlmuwanLuar AngkasaPlanet
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Pendidikan Indonesia Kalah Jauh dari Negara Tetangga Akibat Terlalu Sering Pergantian Kebijakan?
Next Article Gaya Hidup Buruk di Usia Muda Bisa Picu Parkinson Lebih Cepat
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026

2 days ago
Pildun 2026Terkini

Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal

2 days ago
Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

4 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index