By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Pendidikan Indonesia Kalah Jauh dari Negara Tetangga Akibat Terlalu Sering Pergantian Kebijakan?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Pendidikan Indonesia Kalah Jauh dari Negara Tetangga Akibat Terlalu Sering Pergantian Kebijakan?

Pendidikan

Pendidikan Indonesia Kalah Jauh dari Negara Tetangga Akibat Terlalu Sering Pergantian Kebijakan?

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan. Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyebut sistem pendidikan nasional tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Ia menilai, akar persoalannya terletak pada ketidakjelasan arah kebijakan serta pergantian kebijakan yang terlalu sering dan tidak berbasis data.

Contents
Gonta-Ganti Menteri, Gonta-Ganti KebijakanData Banyak, Tapi Tidak DigunakanProgram Prioritas Tak Sesuai Peta Jalan Pendidikan724 Triliun Tapi Jutaan Anak Tak SekolahKritik Tajam untuk Pemerintah: Tak Punya Visi Nyata

“Kita ini kalah jauh dari Malaysia. Kita masih yang paling tertinggal di Asia Tenggara. Karena kita gak jelas arahnya. Presiden dan menteri pendidikan selalu punya bayangan berbeda soal pendidikan. Tujuannya beda, caranya beda,” kata Ubaid, Senin (14/04).

Gonta-Ganti Menteri, Gonta-Ganti Kebijakan

Salah satu isu krusial yang disoroti Ubaid adalah ketidakkonsistenan kebijakan pendidikan setiap kali terjadi pergantian menteri. Mulai dari penghapusan penjurusan, pembatalan Ujian Nasional (UN), hingga program Guru Penggerak yang dibubarkan tanpa evaluasi.

“Kurikulum Merdeka yang baru diketok tahun lalu bisa saja nanti dihapus lagi. Ganti menteri, ganti kebijakan. Kita gak pernah punya peta jalan pendidikan yang disepakati bersama,” ungkapnya.

Akibat dari ketidakkonsistenan ini, lanjut Ubaid, peserta didik menjadi korban utama. Alih-alih maju, kualitas pendidikan justru semakin tertinggal.

Data Banyak, Tapi Tidak Digunakan

Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai data pendidikan, salah satunya melalui asesmen nasional. Namun, menurut Ubaid, data tersebut tidak digunakan secara maksimal oleh sekolah maupun dinas pendidikan.

“Data itu enggak dijadikan dasar untuk menyusun strategi peningkatan mutu. Padahal, kebijakan pendidikan seharusnya lahir dari analisis fakta lapangan, bukan sekadar perintah dari atasan,” jelasnya.

Program Prioritas Tak Sesuai Peta Jalan Pendidikan

Ubaid juga mengkritik program-program baru pemerintah yang tidak tercantum dalam peta jalan pendidikan 2024–2025 versi Bappenas. Ia menyebut, inisiatif seperti program makan bergizi, sekolah unggulan, hingga sekolah rakyat justru tidak sesuai arah perencanaan.

“Kalau presiden punya keinginan tapi nggak berdasar peta jalan, itu ngawur. Harusnya selesaikan dulu masalah yang ada, baru buat program baru,” tegasnya.

Baca Juga :

Menpora Soroti Pengamanan Kontingen Indonesia di SEA Games 2025 Akibat Konflik Kamboja–Thailand
Pemkab Bangkalan Libatkan Kader Posyandu untuk Validasi Data Penerima MBG 3B

Ia menyoroti rendahnya kualitas guru yang terus diwariskan dari masa ke masa. Menurutnya, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) pun belum optimal dalam mencetak calon guru berkualitas.

724 Triliun Tapi Jutaan Anak Tak Sekolah

Meski dana pendidikan dalam APBN mencapai 20 persen atau sekitar Rp724 triliun, Ubaid mencatat masih ada lebih dari 4 juta anak Indonesia yang tidak bisa mengakses pendidikan.

“Uang sebanyak itu seharusnya bisa menyekolahkan seluruh anak bangsa. Tapi kenyataannya, masih banyak yang tertinggal. Karena dananya tidak dipakai untuk menyelesaikan masalah nyata,” katanya.

Ia menyebut pendidikan sebagai salah satu sektor paling rawan korupsi di Indonesia. Alih-alih digunakan untuk perbaikan kualitas, dana triliunan itu justru lebih banyak “dibagi-bagi” ke berbagai proyek dan kementerian.

“Kementerian lain pun ikut rebutan proyek pendidikan. Ada Kementerian Sosial mau bikin Sekolah Rakyat, padahal tugas utamanya bukan itu,” imbuh Ubaid.

Kritik Tajam untuk Pemerintah: Tak Punya Visi Nyata

Ubaid menegaskan bahwa pemerintah hingga kini belum memiliki visi yang jelas dalam menyelesaikan persoalan pendidikan. Ia mengkritik pidato-pidato yang hanya indah di permukaan tanpa aksi nyata di lapangan.

“Kalau terus begini, cita-cita Indonesia Emas 2045 itu cuma jadi slogan. Harusnya kita fokus, kumpulkan kekuatan, dan maju bareng. Bukan malah mundur atau nyungsep,” pungkasnya.***

You Might Also Like

Beasiswa Garuda Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Diminta Bangun Ekosistem Riset Nasional
Program Sekolah Rakyat Dikebut, Kemensos Ingatkan Pentingnya Tata Kelola yang Transparan
Prabowo Dukung Kampus IIT dan IIM Berdiri di Indonesia, Perkuat Pendidikan Nasional
Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal, Program, dan Syarat Terbarunya
Ini Respons Akademisi Saat Bahlil Tantang Kampus Uji Kebijakan Energi di KSTI 2026
TAGGED:KebijakanPendidikan
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Kredibilitas Dipertanyakan, Nilai Rapor Tak Lagi Jadi Acuan dalam Proses Seleksi SPMB Jalur Prestasi
Next Article Ilmuwan Temukan Jejak Molekul Aneh di Planet Lain, Dicurigai Ada Tanda-Tanda Kehidupan di Luar Angkasa
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pendidikan

Dari Aceh hingga Papua, SMA Unggul Garuda Antar Ratusan Siswa ke Universitas Kelas Dunia

3 weeks ago
Pendidikan

Kabar Baik! 80 Ribu Pelajar SMA/SMK Swasta di Jabar Dapat Bantuan Pendidikan

3 weeks ago
Pendidikan

Pemerintah Resmi Umumkan 307 Siswa Lolos SMA Unggul Garuda Baru Tahun Ajaran 2026/2027

3 weeks ago
Pendidikan

Peluang Kuliah Dalam dan Luar Negeri Makin Terbuka Lewat Portal Beasiswa Baru

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index