INVERSI.ID – Di tengah tren generasi muda meninggalkan kampung halaman demi pekerjaan kekinian di kota besar, Alfin Putra Armanda justru mengambil jalur berbeda. Pemuda asal Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi ini memilih menetap di desa dan menjadi petani.
Tak sekadar bertani, lulusan SMK berusia 19 tahun ini mendirikan komunitas Anak Tani bersama empat rekannya. Komunitas ini bergerak secara mandiri dan fokus pada praktik pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
“Saya ingin di Indonesia ini, bertani bukan hanya dilakukan saat tua, tapi justru dimulai sejak muda,” ujar Alfin, Rabu (16/4).
Tantangan Bertani Cabai Merah
Pilihan Alfin untuk menanam cabai merah di daerahnya bukan tanpa risiko. Di Wongsorejo, tanaman ini dikenal sulit dibudidayakan karena memerlukan biaya dan perawatan yang tinggi. Namun Alfin melihatnya sebagai peluang untuk belajar dan berinovasi.
Sejak empat bulan lalu, ia mulai menguji formula tanam di lahan riset miliknya dan telah menanam 1.700 batang cabai merah. Targetnya, bisa menghasilkan panen hingga 1 ton.
“Di Wongsorejo ini setahu saya jarang yang berhasil tanam cabai merah. Tapi saya ingin membuktikan bisa,” katanya dengan semangat.
Jika uji coba ini berhasil, Alfin berencana melakukan penanaman masif di lahan seluas 2 hektar, warisan dari almarhum ayahnya. Estimasi modal yang dibutuhkan mencapai Rp120 juta, sebagian besar berasal dari tabungan keluarga.
Mengubah Warisan Menjadi Masa Depan
Semangat bertani Alfin bukan tanpa alasan. Ia terinspirasi oleh sang ayah, Suparman (alm.), seorang guru honorer yang kemudian menjadi tengkulak cabai rawit. Dari sosok ayahnya, Alfin belajar ketekunan dan filosofi kerja keras.
Melalui komunitas Anak Tani, Alfin dan rekan-rekannya membawa satu pesan utama, “Meneruskan Warisan”, yang sekaligus menjadi tagline komunitas mereka.
“Kami tidak ingin menjual atau menghabiskan warisan, tapi meneruskannya,” jelas Alfin.
Bertani, Berkarya, dan Berbagi
Selain aktif di kebun, Alfin juga mengedukasi publik melalui media sosial. Ia membuat konten video seputar aktivitas bertani, mulai dari proses menanam hingga pengelolaan hasil panen. Bagi Alfin, media sosial adalah ruang belajar dan berbagi.
Sementara beberapa anggota komunitas Anak Tani tetap melanjutkan kuliah, mereka bergotong royong membangun ekosistem pertanian yang relevan bagi anak muda.
Gerakan yang dipelopori Alfin menunjukkan bahwa bertani bukan pekerjaan kuno, tapi justru menjadi jalan masa depan yang menjanjikan jika dilakukan dengan visi, ilmu, dan inovasi. Bukan tak mungkin, dari desa kecil di ujung Banyuwangi ini, lahir revolusi pertanian generasi muda Indonesia.***