INVERSI.ID – Inovasi di bidang keamanan digital kembali lahir dari dunia akademik. Peneliti sekaligus guru besar Fakultas MIPA Universitas Jember, Kiswara Agung Santoso, mengembangkan metode baru untuk mendeteksi pemalsuan gambar digital dengan memanfaatkan konsep matematika sederhana, yakni magic square atau persegi ajaib.
Metode ini bekerja layaknya watermark tersembunyi yang mampu mengidentifikasi sekaligus menunjukkan bagian gambar yang telah mengalami manipulasi secara jelas.
“Metode itu bekerja seperti tanda air tersembunyi (watermark) yang dapat mendeteksi dan menunjukkan secara jelas bagian gambar yang telah dimanipulasi,” katanya dalam keterangan tertulis di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, manipulasi gambar kini semakin mudah dilakukan. Berbagai aplikasi pengolah foto yang tersedia di ponsel maupun komputer memungkinkan siapa saja mengedit gambar hanya dalam hitungan detik, bahkan dengan hasil yang sulit dibedakan dari aslinya.
“Fenomena itu tidak hanya terjadi pada foto hiburan di media sosial, tetapi juga merambah ke berbagai dokumen penting. Kasus pemalsuan ijazah, manipulasi sertifikat, hingga rekayasa dokumen kepemilikan tanah menjadi contoh nyata bagaimana teknologi pengolah gambar dapat disalahgunakan,” tuturnya.
Situasi tersebut mendorong pengembangan metode autentikasi yang tidak hanya mendeteksi adanya perubahan, tetapi juga mampu mengungkap secara spesifik bagian mana dari gambar yang telah dimodifikasi.
“Inspirasinya justru datang dari foto-foto di media sosial. Misalnya, kepala seseorang ditempelkan ke tubuh orang lain, sehingga terlihat seolah-olah nyata. Dari situ muncul pertanyaan, apakah ada cara untuk menunjukkan bagian mana yang sebenarnya telah dimanipulasi,” katanya.
Metode yang dikembangkan memanfaatkan teknik Steganografi, yaitu penyisipan kode rahasia ke dalam gambar tanpa mengubah tampilan visualnya. Kode tersebut dibangun menggunakan konsep magic square berukuran 3×3, yakni susunan angka dengan jumlah yang sama pada setiap baris, kolom, dan diagonal.
Pendekatan ini kemudian berfungsi sebagai semacam sidik jari digital untuk menjaga keaslian gambar. Dalam praktiknya, setiap gambar dipecah menjadi blok kecil berukuran 3×3 piksel, lalu disisipkan pola magic square pada komponen warna terkecil di tiap blok.
Hasil pengujian menunjukkan kualitas gambar tetap terjaga meski telah ditanamkan kode pengaman tersebut.
“Secara kasat mata, perbedaan antara gambar asli dan gambar yang telah diberi pengaman hampir mustahil dibedakan oleh mata manusia,” ujarnya.
Saat dilakukan verifikasi, sistem akan membaca pola tersembunyi pada setiap blok piksel. Jika terdapat perubahan sekecil apa pun, termasuk penyesuaian kecerahan, maka pola tersebut akan terganggu.
Bagian yang terdeteksi mengalami manipulasi akan langsung ditandai dengan warna putih, sehingga memudahkan pengguna dalam mengidentifikasi area yang telah diubah.
Dalam uji coba lebih lanjut, tim peneliti melakukan simulasi manipulasi ekstrem, seperti mengganti bagian kepala atau tubuh objek dalam gambar. Hasilnya, sistem mampu mendeteksi dan menandai area tersebut secara akurat, bahkan hingga perubahan satu piksel.
“Prinsipnya, setiap piksel dalam gambar saling berkaitan. Melalui konsep magic square, jumlah nilai pada baris, kolom, dan diagonal harus sama. Ketika ada bagian yang tidak memenuhi pola tersebut, di situlah indikasi manipulasi dapat ditemukan,” katanya.
Penelitian ini sebelumnya telah dipresentasikan dalam forum internasional IC-MaGeStiC dan kini resmi terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) milik peneliti Unej.
“Saya ingin menegaskan bahwa matematika tidak hanya berhenti sebagai teori di ruang kelas, melainkan memiliki potensi luar biasa untuk menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.