INVERSI.ID – Dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), muncul sosok muda inspiratif bernama Anggun Citra Sasmi, yang berhasil memadukan teknologi dan komunitas untuk membangun ruang belajar bahasa inklusif melalui platform Speak Bright Language Course dan komunitas Aksara Anak Sasak. Inovasi pendidikan bahasa kini menjadi salah satu pendorong perubahan positif di tengah tantangan akses belajar di daerah.
Kehadiran Anggun Citra Sasmi tidak hanya memberikan warna baru bagi dunia pendidikan di Lombok, tetapi juga menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan bahasa bisa lahir dari daerah dengan keterbatasan fasilitas. Ia menghadirkan solusi belajar yang fleksibel, terjangkau, dan berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.
Tak berhenti di situ, inovasi pendidikan bahasa yang di gagas Anggun Citra Sasmi juga mendapat pengakuan publik. Anggun Citra diundang sebagai salah satu peserta program SPADA (Suara Pemuda Berkarya), hasil kolaborasi RRI Pro 2 Mataram dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi NTB. Dalam forum tersebut, ia membagikan perjalanan membangun ruang belajar berbasis komunitas dan teknologi yang kini berkembang pesat.
“Bahasa adalah alat menjangkau dunia,” ujar Anggun Citra.
Awal Perjalanan Speak Bright
Kisah Speak Bright berawal dari kebutuhan ganda yang datang dari masyarakat. Di satu sisi, banyak warga lokal yang ingin menguasai bahasa Inggris untuk pendidikan, pekerjaan, dan komunikasi global. Di sisi lain, para pendatang dan wisatawan asing di Lombok ingin mempelajari bahasa Indonesia sekaligus budaya lokal. Melihat peluang ini, Anggun Citra menciptakan Speak Bright Language Course sebagai ruang belajar terbuka yang bisa diakses secara online dan offline.
Kelas yang ia buka sangat beragam: mulai dari program untuk anak-anak, remaja, hingga kelas khusus ibu-ibu. Bahkan, ada kelas privat untuk warga negara asing yang ingin mendalami bahasa Indonesia, budaya Sasak, dan kebiasaan masyarakat lokal.
Kekuatan di Platform Digital
Salah satu terobosan terbesar Speak Bright adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana belajar. Materi bahasa dibagikan melalui Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube, lengkap dengan tips praktis, latihan percakapan, dan pengenalan budaya.
Dengan cara ini, proses belajar tidak terbatas ruang dan waktu. Siapa pun bisa mengakses materi, baik itu siswa di kota maupun di desa terpencil. Strategi digital ini juga membuat Speak Bright memiliki komunitas belajar lintas daerah dan lintas negara.
“Tujuan kami bukan hanya mengajar, tapi membangun kesadaran dan motivasi belajar bahasa, terutama di era digitalisasi yang menuntut komunikasi lintas budaya,” tegas Anggun Citra.
Menjawab Tantangan Pendidikan di Daerah
Meski teknologi membuka peluang besar, Anggun Citra tetap melihat tantangan nyata di lapangan. Salah satunya adalah kurangnya metode belajar yang menyenangkan di sekolah-sekolah daerah. Banyak siswa merasa belajar bahasa asing itu sulit dan membosankan.
Untuk menjawab hal ini, Speak Bright mengadopsi pendekatan kreatif: permainan interaktif, drama singkat, lagu, dan simulasi percakapan. Tujuannya bukan sekadar memahami kosakata, tetapi menumbuhkan rasa percaya diri untuk berbicara di depan orang lain.
Menurut Anggun, belajar bahasa harus diiringi rasa percaya diri. Tanpa keberanian berbicara, kemampuan bahasa akan sulit berkembang meski pengetahuan tata bahasa sudah baik.
Selain Speak Bright, Anggun juga menggagas komunitas Aksara Anak Sasak. Komunitas ini fokus pada pelestarian bahasa dan budaya Sasak, sekaligus mengajarkannya kepada generasi muda. Kegiatan mereka meliputi lokakarya, pementasan cerita rakyat, hingga pelatihan menulis aksara Sasak.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan bahwa generasi muda Lombok mulai kehilangan kedekatan dengan bahasa daerah. Dengan menggabungkan pelestarian bahasa lokal dan pembelajaran bahasa internasional, Anggun ingin menciptakan generasi yang mampu melangkah ke panggung global tanpa melupakan identitas budaya.
Pesan untuk Generasi Muda NTB
Dalam sesi SPADA, Anggun menutup dengan pesan yang kuat untuk anak muda NTB:
“Gunakan masa muda untuk mencoba dan berkembang. Jangan tunggu sempurna. Bergeraklah, bermanfaatlah, dan percaya pada dirimu sendiri,” tegas Anggun.
Baginya, menunggu kondisi ideal hanya akan menunda kemajuan. Bahkan, ia sendiri memulai Speak Bright dengan sumber daya terbatas, bermodalkan semangat dan dukungan komunitas.
Sejak berdiri, Speak Bright telah mengajar ratusan siswa dari berbagai latar belakang. Banyak yang awalnya tidak percaya diri berbicara bahasa asing, kini berani tampil di forum publik, mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, atau melanjutkan studi ke luar negeri.
Anggun berharap dalam beberapa tahun ke depan, Speak Bright dapat memperluas jangkauan ke seluruh NTB dan bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk menyediakan kurikulum bahasa yang kreatif dan adaptif.
“Kalau ingin bersaing di dunia global, kemampuan bahasa adalah modal penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah keberanian untuk memulai,” pungkasnya.
SPADA: Panggung Pemuda Berkarya
Program SPADA menjadi wadah penting bagi anak muda seperti Anggun untuk berbagi ide, pengalaman, dan inovasi. Melalui program ini, berbagai kisah inspiratif dapat didengar langsung oleh publik, memberi semangat bagi generasi muda untuk menciptakan perubahan nyata di bidang masing-masing.
Kisah Anggun adalah bukti bahwa inovasi besar tidak selalu lahir dari kota besar. Dengan tekad, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi, anak muda di daerah pun bisa menjadi pelopor perubahan.