INVERSI.ID – Di tengah perubahan pola kerja global dan ketidakpastian ekonomi, Generasi Z (Gen Z) di Indonesia mulai banyak yang memilih jalur karier freelance dibandingkan pekerjaan tetap di kantor. Tren ini semakin menguat seiring meningkatnya kebutuhan akan fleksibilitas, work-life balance, hingga kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Gen Z sendiri merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka tumbuh di era digital yang memungkinkan berbagai jenis pekerjaan bisa dilakukan secara mandiri dan jarak jauh.
Survei: 70 Persen Gen Z Tertarik Jadi Freelancer
Platform kerja global Fiverr mencatat bahwa hampir 70 persen responden Gen Z dalam survei yang mereka lakukan saat ini sudah menjadi freelancer atau memiliki rencana untuk terjun ke dunia freelance dalam waktu dekat.
Tren ini juga dipicu oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dilansir dari laman resmi Fiverr, Kamis (26/6/2025), banyak anak muda yang mulai melihat freelance sebagai solusi alternatif untuk bertahan secara finansial.
Kesehatan Mental Jadi Pertimbangan Utama
Survei Deloitte Global yang melibatkan lebih dari 23.000 Gen Z dan Milenial menunjukkan bahwa faktor seperti:
- Jam kerja yang terlalu panjang
- Lingkungan kerja yang toksik
- Minimnya apresiasi
- Terbatasnya ruang pengambilan keputusan
- Tekanan deadline
Berkontribusi besar terhadap beban psikologis dan kelelahan mental.
Freelance dinilai sebagai jalan keluar karena memberikan kebebasan dalam mengatur ritme kerja dan memilih proyek sesuai minat.
Temuan Mahasiswa UI: Fleksibilitas Adalah Kunci
Proyek riset dari sekelompok mahasiswa FISIP Universitas Indonesia yang dipublikasikan di Journalight UI juga menemukan bahwa fleksibilitas waktu dan passion-driven work menjadi alasan utama Gen Z beralih ke freelance.
“Freelancer bisa bekerja sesuai bidang yang mereka sukai, tanpa tekanan struktural seperti di kantor,” tulis laporan tersebut.
Riset ini juga menyimpulkan bahwa walau jam kerja freelancer relatif lebih singkat, peluang pendapatannya justru lebih besar.
Gaji Freelancer: Bisa Sampai Puluhan Juta
Salah satu keunggulan menjadi freelancer adalah bebas memilih jenis pekerjaan yang ingin diambil. Banyak Gen Z yang menjalani multi-role, alias mengerjakan beberapa proyek sekaligus, dari desain grafis, content writing, hingga digital marketing.
Proyek riset bertajuk “Bebas atau Hidup Terbatas: Cerita dari Pekerja Freelance di Jakarta”* mengungkap bahwa beberapa freelancer berpenghasilan puluhan juta rupiah per bulan, tergantung pada keahlian dan skala proyek yang mereka ambil.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan freelancer cenderung meningkat seiring jenjang pendidikan dan pengalaman.
Freelance Bukan Tren, Tapi Pilihan Karier Baru
Di mata Gen Z, freelance bukan lagi pilihan darurat, melainkan gaya hidup karier yang fleksibel, sehat secara mental, dan tetap menjanjikan secara ekonomi. Dengan kemajuan teknologi dan platform digital yang mendukung kerja remote, tren ini diprediksi akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi Gen Z, bebas memilih waktu, tempat, dan proyek kerja adalah definisi baru dari sukses. Dan freelance, adalah jalur nyata menuju hal tersebut.***