Jakarta, Inversi – Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperkuat upaya tanggap darurat di wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui pengoperasian 39 dapur umum. Dapur-dapur tersebut menjadi pusat pemenuhan kebutuhan pangan para pengungsi, dengan total anggaran mencapai Rp2 miliar per hari.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa dapur umum didirikan di titik-titik yang mudah dijangkau dan dekat dengan sumber bahan baku agar operasional berjalan efektif. Ia menegaskan bahwa mekanisme pendirian dilakukan melalui kolaborasi bersama Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta melibatkan masyarakat di beberapa lokasi yang mengelola dapur secara mandiri dengan dukungan logistik dari Kemensos.
“Dapur-dapur umum yang kami dirikan itu bekerja sama dengan Dinas Sosial dan BPBD setempat, ada juga yang bekerja sama dengan masyarakat,” ujar Mensos.
Menurut Saifullah Yusuf, seluruh dapur umum tersebut mampu memproduksi hingga 420 ribu porsi makanan setiap hari. Jumlah tersebut disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan makan tiga kali sehari bagi para pengungsi. Ia menyebut kapasitas produksi bersifat dinamis, mengikuti perkembangan situasi lapangan yang kerap berubah. Beberapa kawasan sudah mulai pulih sehingga jumlah penerima bantuan menurun, namun di titik lain, jumlah penyintas justru bertambah akibat akses yang masih terisolasi.
Selain menyediakan makanan siap saji, Kemensos juga memastikan ketersediaan kebutuhan dasar lainnya yang diupayakan melalui pembelian logistik harian. Upaya ini dikerjakan bersama TNI, Polri, dan BNPB untuk memastikan distribusi berjalan optimal di wilayah yang masih sulit dijangkau. Mensos menyampaikan bahwa pola belanja logistik harian dipilih untuk menjamin efektivitas pemakaian anggaran dan menyesuaikan kebutuhan aktual para pengungsi.
Untuk memastikan operasional dapur umum berjalan optimal, 648 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) diterjunkan di tiga provinsi terdampak. Mereka bertugas mulai dari menyiapkan bahan baku, memasak, mendistribusikan makanan, hingga melakukan konsolidasi dan koordinasi di lapangan.
“Mereka di sana untuk belanja bahan baku, mengantarkan, konsolidasi, koordinasi, sekaligus untuk memasak,” kata Saifullah Yusuf.
Di sejumlah titik, Kemensos juga mulai membuka layanan dukungan psikososial untuk membantu pemulihan mental para penyintas, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Mensos menegaskan bahwa pemulihan sosial dan psikologis merupakan bagian penting dari fase tanggap darurat, terutama mengingat masih adanya wilayah yang terisolasi dan belum dapat dipulihkan sepenuhnya.
Melalui operasional dapur umum ini, Kemensos berharap kebutuhan dasar para pengungsi dapat terus terpenuhi secara konsisten, sembari pemerintah pusat dan daerah mempercepat akses pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak. Saifullah Yusuf memastikan Kemensos akan terus menyesuaikan skema bantuan mengikuti perkembangan di lapangan agar seluruh proses penanganan bencana berjalan efektif dan berkelanjutan.