By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Kenaikan BBM Non-Subsidi Dinilai Wajar di Tengah Krisis Energi Global
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Kenaikan BBM Non-Subsidi Dinilai Wajar di Tengah Krisis Energi Global

Ekonomi

Kenaikan BBM Non-Subsidi Dinilai Wajar di Tengah Krisis Energi Global

Jack
By
Jack
3 months ago
Share
4 Min Read
Ilustrasi - Sejumlah pengguna kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina. (Foto: Antara)
SHARE

INVERSI.ID – Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi per 18 April 2026 dinilai sebagai langkah yang rasional di tengah tekanan krisis energi global. Hal ini disampaikan oleh pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi.

Menurut Fahmy, kenaikan harga tersebut merupakan bentuk koreksi atas kebijakan sebelumnya yang tidak melakukan penyesuaian, meski harga minyak dunia terus bergerak naik.

“Saya kira sudah tepat. Bahkan ini menjadi koreksi dari kebijakan sebelumnya yang tidak menaikkan harga BBM non-subsidi. Selama ini harga BBM non-subsidi, khususnya RON 92 ke atas, memang ditentukan oleh mekanisme pasar sesuai dengan kondisi ekonomi,” kata Fahmy dalam keterangan diterima di Surabaya, Jatim, Senin.

Ia menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi seharusnya mengikuti dinamika pasar global. Saat harga minyak dunia meningkat, maka penyesuaian harga di dalam negeri menjadi hal yang tidak terhindarkan, meskipun besarannya tidak selalu sebanding.

Fahmy juga menilai dampak kenaikan ini terhadap masyarakat relatif terbatas. Pasalnya, BBM non-subsidi umumnya digunakan oleh segmen tertentu dan tidak berperan langsung dalam distribusi kebutuhan pokok.

“Pengaruhnya terhadap masyarakat menurut saya tidak signifikan. Karena konsumen BBM non-subsidi jumlahnya tidak sebesar pengguna pertalite dan solar. Selain itu, BBM non-subsidi juga tidak digunakan untuk angkutan kebutuhan pokok,” katanya.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat.

“Kalau Pertalite dan solar dinaikkan, itu pasti memicu inflasi dan menurunkan daya beli. Jadi keputusan menaikkan BBM non-subsidi, tetapi menahan BBM subsidi, menurut saya sudah tepat,” kata Fahmy.

Terkait potensi peralihan konsumsi dari BBM non-subsidi ke subsidi, Fahmy menilai kemungkinan tersebut relatif kecil. Pengguna BBM dengan oktan tinggi umumnya mempertimbangkan performa kendaraan, sehingga tidak mudah beralih.

Baca Juga :

Mudik dan Prestasi, Siswa PBS PT Timah Siap Tembus Target Baru!
Wujudkan Ibu Kota Baru, Pemerintah Terus Berupaya Bangun Infrastruktur Pendukung di IKN

“Risiko itu pasti ada, tetapi kecil. Karena pengguna BBM non-subsidi umumnya pemilik mobil pribadi, bahkan mobil mewah. Mereka tidak serta-merta pindah ke BBM subsidi karena bisa berdampak pada mesin kendaraan. Apalagi harga Pertamax dan Pertamax Green juga tidak naik,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh ekonom dari Universitas Negeri Manado, Robert Winerungan, yang mendukung kebijakan tersebut sebagai upaya menjaga inflasi tetap terkendali.

“BBM non-subsidi itu dikonsumsi masyarakat kelas atas yang tidak banyak berkontribusi terhadap inflasi,” kata dia.

Robert juga menilai harga BBM di Indonesia masih kompetitif dibandingkan negara lain, khususnya untuk jenis subsidi. Namun, ia mengingatkan perlunya pengawasan ketat untuk mencegah peralihan konsumsi yang tidak tepat sasaran.

“Perlu ada aturan, misalnya kendaraan dengan harga di atas Rp500 juta tidak boleh mengonsumsi BBM bersubsidi. Jangan sampai ada yang memanfaatkan kebijakan ini untuk kepentingan pribadi,” ujar Robert.

Selain itu, pemerintah diharapkan memastikan ketersediaan BBM subsidi tetap terjaga agar tidak terjadi kelangkaan maupun antrean panjang di lapangan, sekaligus mendorong efisiensi penggunaan energi.

Berdasarkan data dari platform MyPertamina, sejumlah BBM non-subsidi mengalami kenaikan harga signifikan per 18 April 2026. Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100, Dexlite menjadi Rp23.600 dari Rp14.200, dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 dari Rp14.500.

Sementara itu, harga BBM seperti Pertamax (RON 92) tetap di angka Rp12.300 per liter dan Pertamax Green 95 Rp12.900 per liter sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih
TAGGED:bbmBBM Non SubsidiKenaikan Harga BBM
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Andra Soni Tancap Gas, Program Sekolah Gratis Banten Kian Meluas
Next Article Kemnaker Targetkan 70 Ribu Peserta, Pelatihan Vokasi Gratis untuk Lulusan SMA
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

Janji Tinggal Janji? Kepercayaan Warga Karo Tergerus di Tengah Sengketa RSUD Kabanjahe

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Gas CNG Merah Putih Hadir! Hemat 40%, Kompor Lama Tetap Bisa Dipakai

7 days ago
EkonomiTerkini

Bahlil Desak PLN Gerak Cepat Atasi Kegelapan Warga Kalimantan dan Sumatera

7 days ago
EkonomiTerkini

Purbaya Bantah Tuduhan Obligasi Patriot Danantara Jadi Sarana Pencucian Uang

1 week ago
EkonomiTerkini

Gas Murah, PHK Mereda! Jurus Bahlil Selamatkan Industri, Buruh Bernapas Lega

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index