By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Kisah Inspiratif Sandi Pamungkas Bangun Startup Peternakan Hingga Untung Rp 83 Juta Per Bulan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Kisah Inspiratif Sandi Pamungkas Bangun Startup Peternakan Hingga Untung Rp 83 Juta Per Bulan

Ekonomi

Kisah Inspiratif Sandi Pamungkas Bangun Startup Peternakan Hingga Untung Rp 83 Juta Per Bulan

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Sandi Pamungkas berhasil membangun startup teknologi peternakan bernama MooApps di usia yang masih sangat muda, yakni 22 tahun. Anak muda lulusan Universitas Pertamina ini menjadi sorotan karena sukses mendirikan PT MooApps Agriculture Technology (MooApps), sebuah perusahaan rintisan berbasis teknologi yang berfokus pada deteksi penyakit hewan ternak. Inovasi ini muncul dari keresahannya terhadap kondisi peternakan Indonesia yang masih tertinggal dalam pemanfaatan teknologi modern.

Contents
Inovasi Teknologi Peternakan dan Ekspansi GlobalStartup Asia Tenggara: MooApps dan QarbotechMahasiswa Indonesia di SMU dan Harapan Masa Depan

Sandi Pamungkas berhasil membangun startup teknologi peternakan bernama MooApps dengan basis operasional di Purwakarta dan kantor pusat di Jakarta. Startup ini menawarkan teknologi sensor yang ditempelkan atau disuntikkan ke tubuh hewan ternak. Lewat sensor tersebut, kondisi kesehatan sapi, kambing, maupun domba dapat dipantau secara real time. Sensor ini mampu mendeteksi tanda-tanda penyakit dalam, mulai dari tekanan darah abnormal, detak jantung tidak stabil, hingga gejala vital lain yang sering luput dari pengawasan peternak.

Sandi Pamungkas berhasil membangun startup teknologi peternakan bernama MooApps dengan model bisnis berbasis B2B. Perusahaan peternakan milik Sandi Pamungkas dapat menyewa perangkat sensor untuk memantau kesehatan ternak mereka. Di Purwakarta, sistem ini sudah digunakan oleh 15 peternakan dengan sekitar 50 ekor hewan ternak. Dengan biaya sekitar Rp 5 juta per bulan untuk 10–15 sapi, MooApps berhasil mencatatkan laba bersih sekitar USD 5.000 atau Rp 83,3 juta per bulan. Capaian ini membuat MooApps termasuk langka, sebab tidak banyak startup tahap awal yang langsung menghasilkan keuntungan.


Inovasi Teknologi Peternakan dan Ekspansi Global

MooApps hadir dengan dua produk utama, yakni sensor suntik ke pembuluh darah seharga Rp 350.000 per unit, serta sensor tempel Rp 2 juta yang lebih banyak digunakan. Hasil pemantauan bisa diakses langsung melalui aplikasi MooApps atau website, yang terhubung ke layar monitor di peternakan. Teknologi ini tidak hanya memudahkan peternak, tetapi juga meningkatkan akurasi deteksi penyakit sehingga kerugian akibat ternak sakit bisa diminimalisasi.

Meski baru beberapa tahun berdiri, MooApps miliki Sandi Pamungkas sudah menjangkau pasar internasional. Selain Indonesia, teknologi ini digunakan di Malaysia dan Taiwan, serta tengah bersiap melakukan ekspansi ke Singapura. Pencapaian ini menunjukkan bahwa inovasi lokal mampu bersaing di level global, terutama karena sektor agriculture technology masih minim pesaing di kawasan Asia Tenggara.

Sandi Pamungkas mengungkapkan bahwa motivasinya membangun MooApps berangkat dari latar belakang keluarga yang juga berkecimpung di dunia peternakan. Menurutnya, sektor ini membutuhkan terobosan baru agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Menurut saya, sekarang orang-orang tidak hanya fokus pada manusia saja, tetapi harus ada yang terjun ke teknologi pertanian juga. Dan banyak anak muda kurang tertarik dengan sektor ini,” ujar Sandi Pamungkas.


Startup Asia Tenggara: MooApps dan Qarbotech

Selain MooApps, inovasi di bidang pertanian juga datang dari Qarbotech, sebuah startup asal Malaysia yang dipimpin di Indonesia oleh Erlambang Ajidarma. Qarbotech mengembangkan nanomaterial berbasis biochar, yaitu limbah pertanian yang diolah menjadi arang berstruktur khusus. Produk ini diklaim mampu meningkatkan hasil panen padi hingga 30 persen, dari 5 ton per hektare menjadi 6 ton.

Teknologi Qarbotech tidak hanya diuji pada padi, tetapi juga cabai, nanas, kacang-kacangan, hingga tembakau. Hasilnya menunjukkan peningkatan kualitas, bahkan pada tembakau kadar nikotin naik hingga 15 persen. Namun, regulasi di Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Proses registrasi produk di Kementerian Pertanian bisa memakan waktu hingga satu tahun, mulai dari analisis konten, uji efikasi lapangan, hingga sertifikasi. Hal ini berbeda dengan Malaysia, di mana produk inovasi berbasis riset universitas dapat langsung dipasarkan.

Baca Juga :

Rekha Lena, Bukti Kalau Anak Muda Nggak Cuma Bisa Viral tapi Juga Berdampak
Air Mata Ivan Gunawan Pecah di Sisi Jenazah Titiek Puspa

Baik MooApps maupun Qarbotech berhasil menembus Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition (LKYGBPC), kompetisi startup tingkat universitas bergengsi yang digelar dua tahun sekali oleh Singapore Management University (SMU). Kehadiran mereka dalam ajang internasional ini menjadi bukti bahwa startup berbasis teknologi pertanian dan peternakan memiliki masa depan cerah.


Mahasiswa Indonesia di SMU dan Harapan Masa Depan

Selain menjadi tuan rumah kompetisi startup, Singapore Management University juga menarik minat banyak mahasiswa asal Indonesia. Jumlah pelajar Indonesia di SMU terus meningkat setiap tahun. Salah satunya Jeffry, mahasiswa asal Karimun, Kepulauan Riau, yang menjadi Student Ambassador SMU. Menurutnya, kampus ini menjadi pilihan tepat karena mampu menggabungkan minatnya pada komunikasi, politik, sosial, dan bisnis.

Meski menempuh pendidikan di Singapura, Jeffry tidak menutup kemungkinan kembali ke Indonesia setelah lulus. Ia menilai bahwa meskipun gaji di Singapura lebih tinggi, lingkungan kerja yang sangat kompetitif belum tentu cocok untuk semua orang. Sementara itu, Kimberly, mahasiswi asal Jakarta, justru memilih membangun pengalaman kerja di Singapura terlebih dahulu sebelum pulang ke Tanah Air. Perbedaan upah yang signifikan menjadi salah satu alasannya.

Pandangan mahasiswa-mahasiswa ini mencerminkan bagaimana generasi muda Indonesia semakin terbuka terhadap peluang internasional, baik melalui startup maupun pendidikan. Mereka membawa pulang wawasan baru yang berpotensi memperkuat ekosistem inovasi di Indonesia.

Kisah Sandi Pamungkas lewat MooApps menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk berani berinovasi di sektor yang jarang dilirik, yaitu teknologi peternakan. Dengan memanfaatkan sensor modern, MooApps berhasil membantu peternak memantau kesehatan ternak sekaligus membuktikan bahwa startup tahap awal pun bisa untung.

Di sisi lain, Qarbotech menunjukkan bahwa inovasi di bidang pertanian dapat berdampak besar pada produktivitas pangan. Kehadiran dua startup ini di ajang internasional seperti LKYGBPC menegaskan bahwa Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki talenta muda dengan ide-ide segar.

Masa depan agriculture technology di kawasan ini masih terbuka lebar. Dengan kombinasi semangat inovasi, dukungan ekosistem pendidikan, dan keberanian anak muda seperti Sandi Pamungkas, Indonesia bisa menjadi pemain penting dalam teknologi pertanian dan peternakan global.

You Might Also Like

BBM Nelayan Rp15 Ribu Disahkan! Jurus Bahlil Lindungi Dompet Tanpa Sentuh APBN
Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup
Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
TAGGED:inspiratifSandi PamungkasStartup
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article TVRI Resmi Jadi Pemegang Hak Siar Piala Dunia 2026: Masyarakat Bisa Nonton Gratis!
Next Article Generasi Z Kehilangan Kemampuan Menulis Tangan, Tradisi Ribuan Tahun yang Terancam Punah
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

1 week ago
EkonomiTerkini

Gas CNG Merah Putih Hadir! Hemat 40%, Kompor Lama Tetap Bisa Dipakai

1 week ago
EkonomiTerkini

Bahlil Desak PLN Gerak Cepat Atasi Kegelapan Warga Kalimantan dan Sumatera

1 week ago
EkonomiTerkini

Purbaya Bantah Tuduhan Obligasi Patriot Danantara Jadi Sarana Pencucian Uang

2 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index